Daftar Cerita Pendek yang Menarik Dibaca Sebelum Patah Hati
Sewaktu duduk di bangku SD, ketika mulai dapat membaca dengan lancar dan kemudian coba-coba meminjam buku di perpustakaan yang ujungnya keterusan, saya membayangkan betapa ajaibnya seorang pengarang. Dia bisa menciptakan sebuah dunia dengan cerita yang semau-maunya.
Belakangan, saya merasakan sendiri, betapa berlikunya proses menciptakan dunia yang semau-maunya itu.
Barangkali seperti halnya memasak, setiap penulis adalah koki yang punya resep tersendiri. Buktinya, di antara sekian banyak cerita yang pernah saya baca, ada beberapa yang terlihat biasa saja, tapi tidak sedikit yang membuat saya tidak habis pikir bagaimana bisa si koki menyajikan masakan seenak itu.
Di bawah ini, adalah lima cerita yang saya maksudkan.
1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Umar Kayam, doi pengarangnya. Sebagai salah satu kanon sastra di Indonesia, kayaknya sosok satu ini tak perlu diceritakan berpanjang-lebar lagi. Silahkan googling dengan judul cerita pendek tersebut, dan kemudian coba rasakan bagaimana ‘suasana’ bisa begitu kuat terbangun hanya melalui percakapan orang yang sedang teler.
2. Travelogue
Pengarang cerpen ini adalah salah satu peraih sastra khatulistiwa tahun 2005, Seno Gumira Ajidarma, disingkat SGA. Selain keberhasilannya dalam menulis surat cinta dan mengeksplorasi gaya tulisan fiksi telik sandi di Saksi Mata, cerita pendek satu ini saya rasa pantas dijadikan contoh tentang bagaimana ‘the power of ngelamun’ dan galau bisa bahu-membahu membentuk gaya tutur yang mengejutkan. Kalau tak percaya, silahkan baca sendiri nanti.
3. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?
Hamsad Rangkuti. Legenda sastra ini baru kusadari kekuatan berceritanya sepuluh tahun kemudian, ketika guru bahasa Indonesia pas SMA dalam pidato perpisahan menyambung kalimatnya dengan mengutip judul cerpen tersebut dan sukses membuat orang se-aula pada ketawa. Dengan bahasa lugas dan apa adanya, cerita pendek ini seperti aliran sungai. Ide-idenya ringan saja meloncat kesana-kemari. Sialan. Dan di situlah kupikir salah satu kekuatan Hamsad Rangkuti. Ia menggubah realitas menjadi semacam sengatan listrik. Suatu kali, dalam salah satu tulisan ia pernah menyatakan penilaiannya tentang sastra — yang kelak disuarakan lagi oleh SGA dalam pidatonya untuk mengusik kemapanan cara pandang sastra sebagai sesuatu yang adiluhung, suci, bahwa “Sastra = Kebohongan”, alias kibul-kibul, kalau kata SGA. Tapi, kibul yang indah lho, ya.
4. Langit Makin Mendung
Cerpen ini ditulis oleh seorang dengan nama samaran yang sampai sekarang masih misterius identitasnya: Ki Panji Kusmin. Selain berisi rekaman situasi politik di tahun 60’an dengan bahasa karikatural dan humor gelap, inilah salah satu cerita pendek Indonesia yang menyeret seorang redaktur, HB Jassin, ke muka pengadilan dengan tuduhan penistaan agama. Kalau penasaran seperti apa isi cerpen tersebut, coba saja cari di internet.
5. Megatruh
Meskipun Megatruh adalah salah satu dari tembang Jawa, tapi itulah judul cerpen Danarto — yang juga jadi judul dari pidato kebudayaan WS. Rendra di kampus biru. Cerita satu ini pertama terbit pada akhir tahun 70’an, dan merupakan satu-satunya cerpen yang membuat bulu kuduk saya berdiri.
Sebetulnya masih ada banyak cerita lain yang tak kurang mengejutkannya, misalnya “Dzikir Sebutir Peluru” karya Agus Noor, dan hmm…apalagi yaa..