Coretan Dinding Kota

Gambar: Anarki dari Laurent

Kapitalisme adalah perias ulung para badut. Badut-badut dirias sedemikian rupa sebelum pergi menyusuri jalanan kota yang telah disulap jadi imitasi taman gantung Babilonia. Sistem pengawasan gaya hadir setiap saat di berbagai sudut tempat dan berulang dalam interaksi antar beton. Badut kurus berakrobat mengendarai sepeda-sepeda beroda satu di trotoar sembari menampilkan mode-mode terbaru dari gambar papan iklan yang dipasang di setiap sudut jalan. Badut intelektual, badut relijius, badut tukang gepuk, badut politik, semua badut bernyanyi dalam oktaf seragam, sebuah paduan yang tak kenal lelah melempar suara-suara ke dalam jamban. Dan optik kamera adalah penonton yang baik, jamban-jamban yang baik, badut-badut yang khusyuk mengheningkan otak, yang dengan malu membuka telinga, mencuri dengar dengan hikmat.

Di suatu sore yang cemerlang dalam tiruan taman gantung Babilonia. Badut-badut bergerak lamban akibat obesitas. Cahaya matahari tampak tersengal kepayahan menerobos celah-celah tembok yang berdiri amat rapat seragam dan membosankan karena dililiti kabel lampu dan kembang-kembang plastik. Aspal-aspal tampak lembam setelah seharian digelar di bawah udara membara yang diinjak ribuan roda berlapis karet tebal warna hitam legam dan derap sepatu aneka warna. Ketika alam berubah warna jadi gelap, lampion kecil berbentuk bulat sebesar bola pingpong sewarna pelangi mulai menyala satu-satu menggantikan pekerjaan bulan menerangi sederetan nama di batu nisan. Angin berhembus pelan membawa aroma gosong ketela bakar dan wangi mawar mengirimkan undangan kepada para pemilik telinga yang berdiri di bawah menara: “Nanti malam akan ada pertujukan tentang siapa kalah siapa menang, dengan tiga ribu mega pixel sebagai penentu kotak suara”.

Pertunjukkan sirkus sebentar lagi akan segera dimulai. Bau bensin menyengat dimana-mana. Api menjalar cepat di beberapa titik. Penculikan demi penculikan berlangsung. Kekerasan ala jalanan. Seorang pemabuk tua meniup harmonika mengeluarkan lengkingan serak di dekat nyala api dari ban karet yang dibakar di tepi jalan. Keringat masam bercucuran bercampur senyum saling bertegur sapa dengan pisau lipat melipat telinga satu-persatu bergiliran hingga lepas menetes darah, merobeki paksa mulut dan lidah-lidah panjang saling menjulur ketika melewati sebuah daerah tanpa nama dalam perjalanan tanpa tujuan, berjalan beriringan bersamaan dengan deru mesin-mesin lain yang menggelinding tak keruan jumlahnya lalu berhenti seketika saat lampu berubah merah. Di pojokan, orang berkejaran, beberapa badut memainkan pedang lalu debus. Sementara badut lain mengawasi dari puncak ketinggian yang tersembunyi, memasang baik-baik senapan laras panjang lengkap dengan peredam suara sambil menunggu perintah bermain hello kitty. Lanskap langit berganti warna jadi merah jambu ketika tiba-tiba segerombolan badut turun dari truck menggeruduk toko-toko boneka, badut-badut tua meremas gagang pentungan dan tanpa pikir panjang mengayunkannya tepat ke tulang tengkorak pinokio, menjewer daun telinga pintu, dan membakar setumpuk draft rencana undang-undang yang lupa belum distempel sebagai tempat menaruh pantat.

Di kota yang tak pernah tidur, tikus-tikus berkejaran di gang-gang kumuh. Anak-anak kecil menengadah ke langit malam memetik bintang yang sudah tidur. Politikus tua mengenakan jubah gelap mirip kelompok sekte hitam berlambang batman dengan lonceng kalung anjing merapal mantra bola kristal dalam monitor tiga dimensi dengan tubuh gemetaran supaya dibayangkan bahwa mereka sedang dirasuki oleh roh. Puluhan vampir dehidrasi tergeletak di udara. Atas nama hukum dan ketakutan yang mengendap sejak kecil, nenek sihir dibakar hidup-hidup di dalam dongeng.

Dan omong-kosong dipugar, dicagar, diabadikan dengan dicatat, dipotret, direkam, disalin, diperbanyak, untuk dijadikan bahan gosip di akhir pekan. Dengan botol api di seberang sana.

Like what you read? Give belvage a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.