Her Suganda Si Penulis Ajaib

Akhirnya..kelar juga mbaca buku keren satu ini. Sebetulnya tidak terlalu tebal. Tak sampai 200 halaman. Mungkin dua hari atau bahkan sehari bisa langsung selesai asal ngendon sendiri ndak ngapa2in seharian. Tapi karena terbentur dengan banyak tulisan yang juga menuntut untuk dibaca, membuat saya dalam waktu bersamaan bisa mbaca lebih dari satu buku. Belum lagi artikel dan jurnal2. Bayangkan.. betapa membaca yang tadinya untuk senang2 malah jadi beban. Owalah.

Kalau biasanya saya njajal nulis nggaya prosaistik mistik tapi selalu gagal, di tulisan kali ini lagi pengen nyantai2 aja. Karena energinya lagi habis buat nulis menggunakan gaya kalimat seriyes ngilmiah bin bajigur.

Balik ke soal buku tadi. Kalau yang lain mungkin sehari-dua hari bisa kelar, saya butuh waktu tiga bulanan buat nyelesein mbaca buku itu. Karena kemarin pas mbolang, buku itu ndak kebawa. Dan ndak kepikiran dibawa. Alhasil tak tersentuh sama sekali. Barulah pas udah balik, kupegang lagi. Niatnya buat referensi. Tapi makin dibaca makin ajib....yaudah, lanjutt. Tak lupa nyiapin senjata kalo pas lagi mbaca: STABILO. Ini membantu saya kalau suatu hari tiba2 perlu info dari buku2 yang pernah saya baca. Biar lebih gampang ngeceknya. Karena alasan praktis aja sih.

Jadi, karya almarhum Her Suganda ini bercerita tentang sejarah teh di Priangan yang bertali-temali dengan kolonialismadafakka.

Wartawan senior satu ini membuat jalan masuk cerita yang menarik. Ia membukanya dengan eksperimen penanaman teh. Lalu berlanjut tentang keluarga dari negeri jauh yang mencoba keberuntungan di 'tanah yang dijanjikan' alias Hindia Belanda atawa Mooi Indie.

Sejarawan Onghokham di tulisannya berjudul "Hindia yang Dibekukan" menceritakan apa yang membuat orang2 Belanda sampai punya bayangan tentang tanah jajahan yang aduhai subur makmur tentram kertaraharja di sanaa…itu salah satunya berawal dari karya2 seni misal pelukis seperti Raden Saleh (karena kemahirannya, Raden Saleh dulu sempat diangkat jadi pelukis kerajaan Ratu W). Analisis Ong menunjukkan bahwa efek visual dari lukisan itulah yang membuat orang Belanda punya fantasi ‘aneh’ tentang sebuah wilayah jajahan 'eksotis' — yang nantinya jadi tumpuan dari bangunan teoritis Edward Said saat mempopulerkan istilah 'Orientalisme’ — yang menyelusup ke benak sanubari cendekiawan dan jiwa para treveller yang kesengsem saat menyaksikan foto2 pemandangan aduhai di sosmed masa kini.

Kalau yang barusan tadi itu, bukan Her Suganda yang nulis. Dia ndak nyinggung2 hal itu. Saya yang selo nyambung2in karena kebetulan pernah mbaca njuk keinget.

Balik ke karya Her, ya. Cerita Her dibuka dengan kisah percobaan penanaman teh yang mempekerjakan orang Makau, kemudian disusul dengan pemberontakan pekerja karena merasa ditipu oleh pihak Belanda. Konflik itu ditutup dengan banjir darah (best on the true story lho ini). Lalu Her melanjutkan ceritanya tentang perjalanan keluarga2 yang mengarungi samudra, bagaimana mereka mesti beradaptasi dengan perubahan cuaca yang ekstrim. Her juga menggambarkan bagaimana perubahan konstelasi penguasaan dari VOC ke negara kolonial dan terbitnya UU Agraria di tahun 1870’an itu polanya ngingetin saya pada latar-belakang penerbitan UU penanaman modal asing di Indonesia setelah jatuhnya Sukarno. Luar biasak.

Dari percobaan menanam teh, pemberontakan, kedatangan keluarga2 yang mengadu nasib dengan menanam teh, njuk Her bercerita bahkan sampai ke soal ‘gundik’. Ia menyatakan bahwa pada zaman itu, posisi 'Nyai' tak ubahnya dengan kedudukan 'Selir' dalam kebiasaan nganu para Raja Jawa. Trus...apalagi ya. Oya, dari buku ini saya juga jadi sedikit tahu sejarah sosial Bandung, kenapa kota itu mendapat julukan Kota Kembang, yang tentunya ndak akan saya ceritain di sini, biar kalau ada yang belum tahu njuk penasaran.

Kalau dalam etnografi, buku ini mengingatkan pada karya Oscar Lewis tentang kisah lima keluarga (yang saya pengen didongengin aja daripada suruh baca.duh). Karena Her, memfokuskan ceritanya pada keluarga lalu jalan kemana-mana. Keluarga yang dikisahkannya itu ibarat perkakas pembuat film, dia jadi kamera, atau 'mata ketiga' Her untuk membawa pembaca menatap lanskap lain dari sejarah yang sedang disuguhkannya. Dan tentu saja maknyuss. Kalau ndak, saya ndak menuliskannya di sini. Hhh

*“Hhh” ?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated belvage’s story.