Inferiority Complex

Angin liyap-liyep. Kucing tidur di atas kursi. Sambil nutup buku karangan Joanne Kimes berjudul “Grammar Sucks” Billowo nyeritain kegelisahannya sebagai anak bangsa.

“He, cuk, akhir-akhir ini banyak undangan nulis yg ngangkut tema keindonesiaan ya”

“Kayaknya udah dari dulu deh,” kataku.

“Tapi seminar yg syarat tulisane harus pake bahasa Inggris kan baru-baru ini aja?”

“Ya bagus tho, sekalian belajar”

“Kenapa kok ndak pakai bahasa Indonesia aja?”

“Aku kok ditanyain, ya jelas ndak tahu. Emang e kenapa? Bukannya kalau bahasa Inggris jangkauane malah bisa lebih luas ya?”

“Yaa..iya juga sih. Tapi juga jangan-jangan..”

“Ndak sanggup nulis pake bahasa Inggris aja kok alesan cemacem”

“E tapi ini betul lho. Jangan-jangan..ada semacam sindrom inferiority complex yang menjangkiti generasi intelektuil masa kini”

“Maksudnya? Lhaa bukannya istilahmu itu juga ngintelektuil keminggris ya”

“Yaa kan istilah aja biar kedengeran keren. Inferiority complex itu semacam perasaan minder together. Yg dibahas soal Indonesia, dihelat di Indonesia, tapi naskah e bahasa Inggris. Lebih parah lagi kalau itu yg bikin lembaga negara. duh”

“Kok ya senenganmu nyacati, berprasangka. Dikira gampang apa bikin event kayak gitu”

“Lho, bukan prasangka ini, tapi hipotesa”

“Lha ya opo bedane”

“Posisi nasionalisnya di mana kalau sejak dari bahasa aja sudah nunjukin inferior? Tahu ndak sih kalau historisitas bahasa nasional Indonesia itu awalnya nongol sebagai medium perlawanan yg nampung gagasan para pemuda dari berbagai suku bangsa karena bisa menembus sekat bahasa daerah dan sifat egaliternya yg ndak mengenal struktur kelas? Ndak kayak Jawa misale, yg ada ngoko, krama inggil. Lha kok sekarang malah bikin sekat2 lagi”

“Sebentar-sebentar. Lha itu kamu dari tadi nyomot kata seenak udel tadi bukannya dari bahasa asing juga? Historisitas? Medium? Egaliter? Struktur? Kelas? Itu kan bahasa serapan semua mbut”

“Ha ya tapi maksudku poinnya bukan di situ”

“Ha ya sama aja”

“Ha ya ndak bisa disama-samain”

“Ha ya daripada ngeributin hal ndak cetha gitu mbok mending diselesaiin dulu itu buku. Ha wong TOEFL aja jauh panggang dari api kok ndadak”

“Ah fak lah”

“Lho tho, misuh aja keminggris?”

🖕