Matsuo Basho

“Meigetsu ya (bulan terang)
ike wo megurite (kolam — berputar)
ya mo sugara (dan malam hilang)”

Itu salah-satu karya Basho, Matsuo Basho, sosok legendaris asal Jepang yang menggabungkan seni menulis, dan keheningan yang meditatif. Disebutnya “haiku”.

Larik haiku mengandung letupan2 instingtif yang mengisahkan bait panjang tentang perjumpaan sebuah momen. Bahasanya padat. Seperti aforisma nietzschean, terdiri dari beberapa suku kata saja.

Ibarat kamera hape, haiku adalah produk dengan spek tinggi yang mampu memotret suasana dengan komposisi kata yang magis tanpa melenyapkan kesederhanaan diksinya.

Basho kerap diidentikkan sepaket dengan tradisi zen. Sampai-sampai tak afdol rasanya kalau bicara haiku tanpa menyebut nama orang satu itu, dan tentu saja zen.

Barthes, penggagas semiotika negativa, adalah pengagum haiku. Saya lupa baca dimana, tapi ide-ide semiotikanya yang subversif keluar dari penalaran saussurian sedikit-banyak diilhami oleh tradisi ‘timur’ ini, yang biasa ditulis dengan sapuan tinta hitam di atas kanvas.

Basho hidup antara tahun 1644–1694. Seabad lebih lambat dengan masa Leonardo Da Vinci di Italia, yang konon jadi penanda abad pencerahan.

Zaman itu memang zaman cartesian (istilah cartesian berasal dari nama besar perintis pemikiran rasionalisme, Descartes, yang terkenal dengan kredonya “aku berpikir maka aku ada”). Zaman di mana akal mendapat tempat spesial, antroposentrisme, yang jadi fondasi modernisme (dan tentu saja kapitalisme dengan revolusi industrinya).

Oya, balik ke Basho. Sori, ngelantur. Dari kemarin aku penasaran dengan tesis master dari Robert Aitken di tahun 50’an yang dibukukan dalam judul “A Zen Wave: Basho’s Haiku and Zen”. Tak googling ndak nemu2. Kubaca review, katanya itu buku oke punya. Nyeritain biografi Basho plus ngulas haiku2nya.

Ah, semoga gek ndank nemu.