Realisme Magis Kota yang Ditenggelamkan Perubahan sekaligus Kekal di Ingatan

Suatu hari, seorang anak dalam film Giuseppe Tornatore bertanya kepada ayahnya, “Papa, apa itu reformis?”
Si ayah, yang sekaligus adalah seorang pemimpin partai buruh di sebuah kota kecil di Sisilia, mendengar pertanyaan anaknya itu lalu menjawab.
“Reformis adalah… jika kau membenturkan kepalamu ke tembok, kepalamu yang akan hancur, bukan temboknya”
Si anak lantas tertawa kecil. Tawa yang menunjukkan ekspresi bertanya apa maksud dari jawaban ayahnya.
Rupanya si ayah itu belum selesai. Ia kemudian melanjutkan.
“Reformis adalah… seseorang yang ingin mengubah dunia dengan akal sehatnya, tanpa memenggal kepala siapa pun”
Percakapan itu adalah spoiler film Baaria. Salah satu dari film kerjaannya Giuseppe Tornatore dkk yang baru saya tonton beberapa waktu lalu.
Sedikit cerita tentang si Tornatore. Dalam satu sesi wawancara, ketika ia ditanya bagaimana proses kreatifnya selama ini sampai setiap karya yang dia buat bisa banyak menarik perhatian?
Sambil menggaruk kepala sesekali dan senyam-senyum menyimak pertanyaan pewawancara di atas sofa berwarna merah, ia berkisah menggunakan bahasa Inggris berlogat Italia.
Kemampuan yang dimilikinya sampai saat ini, kata si peraih Oscar itu, tak dapat dilepaskan dari kesenangannya semasa muda pada dunia fotografi.
Dalam dunia foto, obsesinya untuk menghentikan momen dari realitas kehidupan yang ditemui melalui lensa kamera, kemudian membawanya ke dalam kesenangan yang lain, yakni membuat film dokumenter.
Seperti di filmnya yang lain; Cinema Paradiso, The Star Maker, Malena, The Unknown Woman, The Legend 1900, dan The Best Offer, kelebihan Tornatore yang langka ditemui dalam produksi Hollywood adalah kecermatannya menangkap dan menghadirkan antropologi masyarakat. Terasa realis, tapi juga sekaligus magis.
Kekhasan, keunikan dari suatu budaya, yang membuat penonton di belahan dunia lain saat menontonnya lantas tergugah pada realitas kecil remeh-temeh keseharian, bahwa ternyata di balik kesepelean, tersimpan bagian berharga dari ingatan kolektif, yang selalu menarik untuk dituturkan berulang-ulang.
Seperti kebiasaan orang bertetangga yang tiap sore bercengkrama di depan rumah kemudian bertukar cerita, atau seorang ibu yang menjewer anaknya yang bandel dan memarahinya sampai suaranya kedengaran oleh tetangga sebelah, dan lain sebagainya.
Skenario percakapan yang matang, sehingga terlihat natural, membuat realitas yang biasa pada titik tertentu justru menampilkan kesan mendalam, serasa kuliah fenomenologi 4 sks tanpa perlu berpusing-ria dengan istilah dass man, das sollen, dll.
Tak hanya lewat percakapan, tapi juga ekspresi kultural, mitos pada dinding batu, patung, ingatan tentang sebuah kota, dengan jeli Tornatore merekam itu semua untuk membangun narasi, dan menyulapnya menjadi bahasa sosial sekaligus visual itu sendiri.
Secara garis besar film Baaria menyajikan cerita tentang jalan hidup anak kecil yang tumbuh menua seiring kota yang juga ikut berubah.
Dalam cerita itu Tornatore meramunya dengan realitas konflik agraria, politik yang ditertawai, cinta, bahkan momen saat-saat meregang nyawa, ia rajut menjadi semacam etnografi visual yang sepertinya tak berminat menghadirkan tafsir tunggal.
Ia seolah hanya ingin menyalurkan kebutuhannya untuk berbagi cerita dan memperlihatkan tangkapannya tentang realitas kehidupan yang terus bergerak. Tapi justru dengan itu karyanya jadi langganan penghargaan.
Lalu, bagaimana dengan cerita kota yang ditenggelamkan oleh perubahan? Ah, ya, itu… kita dapat menjumpainya di kota masing-masing hari ini.