Reformehong?

Pada kolom majalah JJ, Selasa Legi 26 Mei 1998 yang terkumpul dalam “Surat dari Palmerah, Indonesia dalam Politik Mehong: 1996–1999", Seno Gumira Ajidarma mengistilahkan transisi politik turunnya Mbah Harto yang populer dijuluki Reformasi kala itu sebagai Reformehong.

Reformehong, yaitu ketika Bung Seno kayak udah ada feeling di tulisannya, jangan-jangan dengan adanya ritual kabudayan geser-geser kursi nanti “mahasiswa sudah berkorban, yang menikmati hasil biasanya adalah tikus-tikus, karena tikus hanya berpikir tentang makanan”.

Lalu doi ganti paragraf.

“Reformasi digerakkan oleh mahasiswa yang masih idealistis, tapi kekuasaan tetap diperebutkan oleh para politisi. Ini sangat berbahaya…, Jika hal itu terjadi, berarti kesalahan sudah mulai diulangi”.


Agaknya selain sebagai kaisar senja dan pencipta pendekar tanpa nama di Naga Bumi yang jilid tiganya ditungguin kok ya ndak keluar-keluar, Bung Seno juga bolehlah soal ramal-meramal.

Jauh hari dia sudah menerawang dengan Reformehong-nya….

“Halah, jangankan kok resafel. Lha wong yang katanya reformasi pake 3–5–2 aja gitu,” gerutu Bilowo akibat nonton berita.

“Gitu gimana?” tanya Gendut seperti sedang menggiring bola.

“Bandingkan dengan misal e presiden sebelum e. Meskipun ndak pake acara guritaa..apa ituu… cendana ya? Yawes itulah pokmen. Coba hitungen dewe berapa manusia yang sudah dibedil?”

“Ya tapi kan kalo itu beda konteks broo.. Masalah e ndak sesimpel itu.”

“Ya emang ndak simpel”

“Membunuh itu kan atas nama hukum, demi menyelamatkan nyawa banyak orang. Dan itu juga ada undang-undangnya”

“Lha kalo mikirmu kayak gitu, apa bedanya dengan pemerintah di jaman Sokrates? Dihukum nenggak racun demi menyelamatkan ketololan banyak orang?”

“Lho?”

“Kok ‘lho’? Beneran ini. Sekarang aku tanya, berapa yang sudah kena bedil?”

“Ndak bisa begitu.. Paradigmamu melompat-lompat bro. Tidak analitis. Kurang argumentatip,” kritik Gendut.

“Ya komentarmu itu yang ndak pake nalar. Soal nyawa disamain dengan nulis makalah!”

*berhubung jika diterusken cangkem Bilowo bisa nggladrah kemana-mana. Jadi mending disudahi di sini dulu saja. Yang jelas, mau resafel atau wastafel, KPI tetap KPI. FPI tetap FPI. Bilowo tetap Bilowo.

Like what you read? Give belvage a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.