“Rose is a rose is a rose is a rose” — Getrude Stein

Konon, sebaris kalimat yang ada dalam sajak Stein itu, telah menginspirasi Umberto Eco untuk memberi judul tulisannya: The Name of the Rose.

The Name of the Rose. Novel yang kemudian diangkat ke layar lebar pada sekitar tahun 80'an itu, ada yang bilang mendekati penggambaran tentang bagaimana beroperasinya semiologi.

Semiologi: ilmu tentang tanda, salah satu cabang dalam studi linguistik dan budaya. Biasa disebut juga dengan istilah semiotika. Kajiannya menjelajahi wilayah bahasa, peristiwa dan pemaknaan yang membawa sifat referensial, sekaligus arbitrer.

Pada zamannya, kritik Getrude Stein dengan “a rose is….” itu menohok para perajin kata, terutama tukang syair, yang cenderung mengasosiasikan “rose” dengan “merah”, atau dengan cinta dan lain sebagainya. Artinya, mawar tidak dilihat sebagai kembang itu sendiri, tetapi sebagai warna, sebagai pelambang, yang mengakibatkan makna literer kemudian menjadi terpinggirkan oleh asosiasi-asosiasi.

Paham kebendaan ini, dalam filsafat berada di area fenomenologi.

Getrude Stein melihat kecenderungan makna yang meleset itu bermula dari sikap para perajin kata di zaman romantik, ketika tradisi hiperbolik dalam berbahasa menemukan gemanya.

Dalam sejarah Nusantara, kita dapat menjumpai hal itu pada serat-serat atau kitab jadul yang mengagung-agungkan kedudukan sang raja.

Pertanyaannya kemudian: apa relevansinya dengan zaman kekinian? Jawabannya barangkali bisa dalam bentuk pertanyaan juga.

Yaitu, apa kira-kira konsekuensi logis yang terjadi bila seorang presiden suatu kali njeplak “Dor di tempat” untuk penanganan kasus-kasus narkoba?

Tentu saja, jawabannya ndak jauh-jauh dari pengadilan jalanan.

Secara literer, makna kata “Dor” yang diterima oleh aparat itu berarti privilege untuk membunuh. Mengenyahkan kehidupan seseorang, memutus jalinan sosialnya, mematikan, sebelum dirinya sempat membela diri.

Sebuah kata yang barangkali berbeda dengan makna yang bersarang di kepala presiden yang dideterminasi oleh pertimbangan moral, pertimbangan sosial. Padahal, bisa saja, mereka yang terbunuh itu adalah seorang kekasih yang baik, seorang anak yang mencoba bertahan dengan kondisi psikisnya, orang tua yang terdesak mencukupi kebutuhan ekonominya, atau kerabat-kerabat dekat kita sendiri.

The Name of the Rose, berkisah tentang pembunuhan demi pembunuhan yang mengatasnamakan mawar, mengatasnamakan keagungan Tuhan, atas nama ketakutan dan kekhawatiran pada perubahan moral, demikian pula dengan kata “Dor”.

Yang pada akhirnya, ‘kekerasan’ sebagai kekerasan itu sendiri menjadi hilang makna, tak terasa bahwa sebetulnya para pelakunya sedang melestarikan kekerasan.

Kukira, di sini gagasan Getrude Stein menemukan konteksnnya untuk masa sekarang. Ia akan menyebut mawar sebagai mawar, merah sebagai merah dan darah sebagai darah.

Tidak berpaling dari kata-kata.