Trumbo dan Youth

Itu dua film yang baru saya tonton. Film pertama, Trumbo, diangkat dari kisah nyata kehidupan seorang penulis film asal Amerika tahun 50’an.

Film ini menarik tidak saja karena ia adalah film yang bercerita tentang film, namun juga sekaligus menjadi otokritik terhadap perkembangan industri film Hollywood.

Selain itu, juga, dari kisah hidup Trumbo, saya mendapatkan narasi menarik mengenai budaya pop yang selama ini masih sedikit diulas ketika membahas Perang Dingin Blok Barat dan Blok Timur.

Si Trumbo yang bernama depan Dalton itu, pernah menghuni jeruji besi akibat propaganda anti-komunis yang dibikin oleh segelintir elit Amrik di kala itu.

Dari cerita Trumbo, saya jadi tahu bahwa saat perang dingin berlangsung, yang efeknya sampai ke peristiwa 65 di Indonesia, tidak semua orang Amerika anti komunis. Tidak semua kantong kebudayaan pada saat itu dikuasai propaganda.

Ada Trumbo di sana. Bersama dengan kawan dekatnya, yang pernah meraih pulitzer untuk liputan jurnalistiknya.

Sekumpulan orang pintar yang menolak propaganda, berhadapan dengan mayoritas orang dungu, yang kemudian membawa si minoritas tentu saja, berakhir di jeruji besi, teralienasi dari masyarakatnya.

Kisah Trumbo, bagi yang mengetahui atau pernah membaca sejarah kantong-kantong budaya di Indonesia, mungkin akan mengingatkan pada sosok Usmar Ismail. Ia sering dijuluki pembaharu film Indonesia, yang memerangi dominasi film-film Hollywood.

Jadi mungkin, bila di sana punya Trumbo, di sini punya Usmar. Jangan dulu ngaku pecinta film kalau tak tahu nama itu. Usmar Ismail. Meski tentu saja ia berbeda dengan Trumbo.


Film kedua adalah “Youth”. Isi dialog di film itu harus saya akui brilian. Gaya penyampaian cerita yang woles, sang sutradara seperti sedang berupaya memaksimalkan efek visual dari ekspresi tanpa banyak cincong.

Juga, selain itu, terutama, peran Mbak Rachel Weisz yang membuat mata pria serasa tak rela mengedipkan mata ketika menontonnya. Hmmm..

Salah satu percakapan menarik yang saya ingat di film itu adalah saat salah satu pemeran utama mengutip kalimat komposer Rusia ketika lawan bicaranya minta diceritakan tentang Stravinsky.

“Cendekiawan tidak memiliki cita-rasa. Sejak saat itu kulakukan semua yang kubisa untuk tidak menjadi seorang intelektual. Dan aku berhasil”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.