SUATU SIANG BERSAMA KOH AHOK

Usai makan siang dengan perut yang sempurna kenyang, saya duduk terdiam seorang diri. Lantas jalan-jalan ke Ibu Kota, secara imajiner. Bukan tanpa tujuan, melainkan mendatangi kediaman Koh Ahok. Kebetulan saat itu beliau tengah duduk santai di teras rumah.

“Selamat siang, Pak.”

“Iya, siang.”

“Boleh minta waktunya sebentar, Pak.”

“Boleh, boleh. Silakan duduk.”

Betapa Koh Ahok adalah seramah yang sering kali ditayangkan. Ini patut ditiru, jangan meniru marahnya, apalagi mengutip ayat-ayat suci kepercayaan golongan tertentu yang malah belakangan menjadi perkara.

“Begini, Pak. Nama saya Rendi Kusnadi. Tapi ke depan bapak bisa panggil saya Erka.”

“Dari mana? Lu wartawan?”

“Asal dari Lombok, Pak. Tapi saat ini berdomisili di sembarang tempat. Bukan, Pak, bukan. Saya hanya seorang lelaki biasa.”

“Oh, Lombok, yang ada gilinya itu?”

“Ho’oh, betul sekali, Pak. Ada banyak tempat wisata yang bernama gili di sana, Pak, tapi Terawangan adalah gili yang paling indah saya pikir. Banyak bidadari pirangnya.”

“Jauh-jauh dari Lombok tujuan lu kemari ngapain? Mengadu nasib?”

“Biasalah, Pak, anak bujang. Hanya ingin berbincang empat mata dengan bapak.”

“O gitu.”

“Jadi gini, Pak, saya itu… gue itu salah satu penggemar bapak. Gue selalu kagum atas sepak-terjangnya bapak. Sampai sekarang. Sampai pada dimana banyak pihak yang hendak menerjang bapak.”

“Haha.”

“Ada yang lucu, Pak?”

“Tidak. Lanjutkan omonganlu!”

“Iya, Pak. Gue salut bagaimana kinerjanya bapak. Bapak yang selalu ceplas-ceplos di layar kaca, marah ketika tahu ada anak buah bapak yang jelas berbuat salah. Gue suka itu, Pak.”

“Terus?”

“Sedang di balik itu, banyak pihak yang menyoroti kata-kata kasarnya bapak sebagai cerminan ketidaklayakan bapak dalam memimpin. Terlepas dari kafirnya bapak di mata mereka. Bapak ini tidak pantas menjadi pemimpin, begitu kira-kira maunya mereka. Tetapi kalau saya perhatikan, eh gue perhatikan, orang-orang yang memandang bapak demikian ini adalah kelompok orang takut menjadi korbannya bapak. Gue pikir begitu, Pak.”

“Harapannya mereka itu gue lengser dan mendekam di penjara.”

“Iya, itu karena kasus yang belakangan lagi heboh kan, Pak?”

“Ini yang sekarang. Dulu-dulu juga sering, kasus Sumber Waras misalnya.”

“Terus, Pak?”

“Kalau lu di posisinya gue nih ya, lu akan menjadi bingung sendiri.”

“Kok bisa begitu, Pak?”

“Lu bakal serba salah kok. Mereka tidak terima omongan gue yang acap kasar, katanya, lha Pak Jokowi yang begitu lembut juga di mata mereka salah. Maksudnya, ada titik lain yang akan di pandangnya sebagai kesalahan.”

“Itu kan secara pribadinya bapak. Bapak kok menyebut mereka juga membenci Pak Jokowi?”

“Iya, lah. Intinya lu harus pro dulu ama golongannya mereka. Bener-bener menjenis-samakan diri dengan mereka,”

“Maksudnya, Pak?”

“Gue ada dikirimi kata-kata ama temen di WA,” doi membuka hape, lalu membacakan isinya, “Atheis dimusuhin karena ngga bertuhan. Bertuhan pun dumusuhin karena Tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhin karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhin karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhin karena ngedukung calon kepala daerah yang beda. Gitu. Jadi sederhananya mereka itu mau berkuasa sendiri.”

“Gitu ya, Pak… eh tapi kan bapak sendiri kok yang dibenci dengan amat sangat. Apalagi soal pernyataan bapak itu.”

“Ah, udahlah. Gue males ngomongin itu. Gue udah mengaminkannya untuk diproses ke ranah hukum. Kita punya Undang-Undang.”

“Baik, Pak.”

Kami terdiam. Doi menatap jam tangan. Sudah mendekati setengah jam perbincangan.

“Bagaimana kalau bapak mundur saja dari pencalonan?”

“Haha.”

“Loh malah ketawa. Maksud gue gini, Pak, bapak mundur lalu nanti menjadi menteri saja. Siapa tau bakal ada perombakan kabinet lagi oleh Pak Jokowi.”

“Elu mau gue jadi menteri apaan? Menteri Marah-marah? Lagian lupikir sistem kerja dikpresidenan itu macam di sinetron, main angkat seenak udel? Tidak bisa!”

“Oalah, guepikir bisa gitu, Pak. Kan bapak deket tuh ama Pak Presiden.”

“Ada-ada aja lu, tong.”

“Hehe. Maaf, Pak”

“Udah deh. Gue mau ada kerjaan dulu.”

“Oh, iya, Pak. Terima kasih atas waktunya. Gue mohon permisi kalau begitu.”

“Iya, hati-hati di jalan.”

“Ho’oh, Pak… O iya, gue minta uang buat ongkos boleh, Pak?”

“Loh, lu kan cuma menghayal kemarinya, buat apa duit?”

“O iya, hehe. Baik, permisi, Pak. Tetaplah menjadi Koh Ahok yang ketje di layar kaca ya, Pak.”

“Iya…”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Rendi Kusnadi D.’s story.