Berhenti Bicara Ingin Jadi Penulis
Pengakuan dari penulis muda yang kecewa dengan penulis muda lain.

Ketika nama saya dikenal sebagai penulis, saya mulai sering dapat permintaan mengisi sesi-sesi kelas menulis. Mulai dari acara mengobrol santai tentang tulis-menulis hingga workshop yang cukup serius. Saya tak memberikan apapun di sesi-sesi tersebut selain cerita pengalaman personal dan pandangan saya tentang kegiatan menulis. Jika saya cukup yakin dengan apa yang saya pikirkan, saya akan memberi satu-dua tips menulis. Namun, saya akan selalu mengingatkan para peserta bahwa tulisan bagus datang dalam beragam bentuk. Setiap penulis punya caranya sendiri, yang saya sampaikan hanyalah salah satunya.
Butuh waktu beberapa tahun bagi saya untuk menyadari bahwa saya memiliki pembaca. Sehari-harinya saya lebih sering memikirkan apa yang hendak ditulis dan bagaimana menuliskannya dengan baik, tapi tidak selalu sadar bahwa ada orang-orang yang betul-betul membeli dan membaca tulisan saya. Saya tidak selalu sadar akan kehadiran pembaca, yang bahkan tidak hanya sekadar membeli satu-dua buku, melainkan mengoleksi hampir seluruh karya saya yang pernah terbit, hingga mengamati bagaimana perkembangan saya menulis. Hal-hal ini masih membuat saya takjub hingga sekarang.
Setelah saya sadar bahwa saya punya pembaca, saya mulai memperhatikan mereka. Siapa saja mereka. Sembilan tahun lalu, di awal karir saya ketika saya berusia 20 tahun, kebanyakan dari mereka adalah remaja belasan tahun, anak-anak SMP dan SMA. Hal menarik yang baru saya sadari belakangan adalah sebagian besar dari mereka juga senang menulis. Ingin jadi penulis. Selalu, di setiap talkshow, pertanyaan yang saya terima di sesi tanya-jawab jarang terkait buku yang baru saja kami, saya dan penerbit, rilis, melainkan pertanyaan-pertanyaan serta curhatan mereka sendiri tentang pengalaman menulis. Rangkaian promosi buku berubah jadi sesi sharing mengenai tulis-menulis, hal yang membutuhkan tempatnya sendiri yang terpisah.
Tapi saya senang mengetahui hal tersebut, banyak anak muda yang pengin jadi penulis. Saya senang melihat ada banyak remaja yang tampak sangat antusias belajar cara menulis. Saya seperti melihat diri saya sendiri. Sayangnya, seiring waktu, saya harus merasa kecewa.
Saya pernah membuat Kopdarfiksi, kelas menulis yang diniatkan menjadi wadah bagi para remaja untuk mengasah kemampuannya. Kelas pertama Kopdarfiksi dibuat di Pontianak, kota kelahiran saya. Mulanya seorang teman menawarkan membuat sesi kopi darat dengan pembaca di sana. Saya berpikir dan mengira akan lebih berguna jika dijadikan kelas menulis saja sekalian. Pertemuan itu mengumpulkan 30 orang. Setelah saya postang-posting foto-foto kegiatan Kopdarfiksi Pontianak di medsos, respons dari followers cum pembaca di berbagai kota sangat antusias. Mereka semua berharap Kopdarfiksi diadakan di kota mereka.
Setelah Pontianak, saya menggelar sesi-sesi Kopdarfiksi di Yogyakarta, rumah kedua tempat saya merantau hingga hari ini. Saya mengubah bentuk kelas menjadi lebih teratur. Saya bahkan menyusun kurikulum sederhana. Dari sekadar kelas menulis lepasan, Kopdarfiksi berubah menjadi sesi-sesi yang berkesinambungan. Satu angkatan, satu bulan, delapan pertemuan. Pada pertemuan pertama, saya ingat, ada 16 orang yang hadir. Saya mencatat nama-namanya sebagai angkatan pertama. Harapan baru bagi saya. Di pertemuan kedua, separuhnya menghilang, dan hanya satu orang yang muncul di pertemuan terakhir.
Jujur saja, hati saya sedikit terluka.
Saya tak pernah minta bayaran untuk membagi apa yang saya tahu, Kopdarfiksi adalah kelas gratisan. Kopdarfiksi adalah respons saya terhadap antusiasme para penulis remaja, atau para remaja yang ingin jadi penulis. Kopdarfiksi adalah wujud kekesalan saya atas pengalaman saya sendiri ketika meniti impian untuk menjadi penulis. Tak pernah ada penulis yang memberi tahu saya apa yang harus dilakukan. Tak pernah ada penulis hebat yang membagi wawasannya ke saya. Saya mendobrak pintu saya sendiri. Saya menebas semak-semak saya sendiri.
Ketika saya merasa sudah jadi penulis, saya ingin membukakan jalan bagi mereka yang datang belakangan. Saya ingin mempermudah jalan mereka. Saya ingin menyediakan jalan yang mulus bagi mereka. Tapi rupanya mereka tak sadar apa yang sudah saya pertaruhkan, waktu dan tenaga yang bisa saya gunakan untuk hal yang lebih penting. Antusiasme saya lenyap. Harapan saya terhadap mereka padam tak berbekas.
Kopdarfiksi tak ada lagi. Namun, saya masih sering mendapat pertanyaan bagaimana caranya menjadi penulis. Masih, dari para pembaca yang berusia jauh lebih muda dari saya. Sebagian mungkin tidak pernah membaca buku saya, hanya tahu lewat medsos bahwa saya penulis dan merasa bahwa saya dapat menjawab keluh-kesah mereka tentang menulis. Hingga hari ini, tak terhitung berapa kali saya dapat direct message, e-mail, dan pertanyaan yang disampaikan langsung ketika bertatap muka di sebuah acara. Semuanya tentang menulis. Tak semua saya jawab.
Saya tak menjawab semua pertanyaan yang masuk karena saya lelah. Saya tak punya tenaga lagi untuk menjelaskan bahwa tak ada cara lain untuk menjadi penulis selain membaca dan menulis. Membaca yang banyak. Menulis yang banyak. Melakukan keduanya sebagai laku hidup yang serius, yang makin terasah dari waktu ke waktu, makin bertujuan. Sekali waktu, jika sedang mood, saya membuat tulisan yang menjawab beberapa pertanyaan sekaligus. Tapi tak ada yang lebih menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang menulis itu sendiri selain pengalaman hidup, berpikir, membaca, dan well, menulis.
Sungguh, saya ingin menyampaikan pesan-pesan positif yang menumbuhkan semangat. Mereka yang bertanya ke saya tentang menulis, semuanya masih berusia sangat muda. Saya tahu bagaimana rapuhnya hati remaja, antusiasme yang membara tak didukung oleh mental yang baja, semangat yang berkobar-kobar gampang dipadamkan habis oleh kritik paling kecil sekalipun. Sekadar dibilang baperan mulu lo, tulisannya galau mulu, oleh teman sendiri, sudah berhenti menulis. Saya tak tahu, penulis macam apa yang bisa lahir dari mental selembek ini?
Saya tak pernah tumbuh oleh pujian. Pujian tidak menambahkan apapun ke diri saya. Buku saya pernah dikatai sampah, diberi satu bintang di Goodreads. Tak banyak yang tahu bahwa saya sadar. Saya tahu yang saya tulis. Saya tahu kapan tulisan saya jelek dan kapan saya menulis dengan cukup baik, yang, saya tahu, jarang sekali terjadi. Saya tahu. Saya keras kepada diri sendiri, meskipun tak ingin melakukan hal serupa ke orang lain.
Saya tak ingin mematahkan semangat penulis muda, mereka yang berusia belasan tahun dan punya bayang-bayang manis tentang menjadi penulis. Jika mereka punya napas yang cukup panjang untuk terus belajar menulis dengan serius hingga satu dekade kemudian, mereka akan tahu kenyataannya. Mereka akan tahu bahwa menjadi penulis bukan sekadar tentang membuat quotes galau yang di-likes ribuan kali. Menjadi penulis bukan tentang punya follower yang banyak dan mengekploitasi mereka untuk membelli buku yang tak betul-betul berguna bagi tumbuh kembang pikiran mereka.
Jangan bilang saya munafik. Saya tahu karena saya melakukannya. Saya tak tahu apa-apa tentang menulis selain menulis apa yang hanya saya tahu. Tak ada yang memberi tahu saya ini dan itu yang baik jika ingin belajar menulis. Saya mencari semuanya sendiri, sembari bertahan hidup dengan menulis. Buku-buku saya tak semuanya mengatakan apa yang ingin saya katakan, tetapi menyokong kehidupan saya dengan baik, sehingga saya masih di sini, bertahan, terus mencoba membuat tulisan yang baik dan, saya harap, berguna.
Saya tidak lagi bisa melakukannya. Saya pernah percaya bahwa semua orang bisa menulis. Jika mau dan berusaha, siapapun yang pernah membuat tulisan sejelek apapun di awal-awal mencoba, pada akhirnya dapat menjadi penulis yang bagus, yang membuat karya bagus. Saya tak lagi bisa mempercayainya.
Para pembacaku terkasih, yang memeram di hatinya impian menjadi penulis, yang sering bertanya ke saya tentang tulis-menulis, inilah yang saya percaya sekarang:
Kalau kalian betul-betul pengin jadi penulis, kalian semua akan jadi penulis, dengan atau tanpa bantuan siapapun. Dengan atau tanpa saya memberitahu kalian bagaimana caranya jadi penulis. Dengan atau tanpa siapapun mengajari kalian caranya menulis.
Kalau kalian betul-betul pengin jadi penulis, kalian tahu bahwa tidak ada jalan pintas. Kalian harus membaca buku yang banyak dan membaca dengan serius. Kalian harus menulis yang banyak dan menulis dengan serius. Kalian harus menyisihkan sebagian hidup kalian untuk menekuni tulisan.
Sebaliknya, kalau kalian tak betul-betul pengin jadi penulis, tak ada satupun workshop menulis yang dapat menyulap kalian jadi penulis. Tak satupun tips dari saya yang dapat membantu kalian menjadi penulis. Tak satupun pujian akan mengantarkan kalian ke tempat yang kalian harapkan.
Kalau kalian tak betul-betul pengin jadi penulis, kritik paling berguna sekalipun, dari orang paling kredibel sekalipun, akan dengan mudah menumbangkan kalian. Komentar sepele dari teman atau orang di dunia maya akan segera melukai perasaan kalian.
Jika ini terjadi, saya harap kalian segera menemukan hobi yang lain, yang lebih menyenangkan hati. Yang lebih mudah.
Saya senang kalian pengin jadi penulis. Tapi jangan lakukan apa yang tidak sungguh-sungguh kalian inginkan.
