Kami Generasi Digital Masih Membaca Buku

Merespons keluhan Bre Redana tentang literasi di rubrik Udar Rasa, Kompas edisi Minggu, 23 September 2018.

Diambil dari unggahan Twitter Kalis Mardiasih

Lewat Twitter, saya membaca kolom Bre Redana di harian Kompas edisi Minggu 23 September 2018 berjudul “Literasi”. Kolom itu membahas tentang kekaguman Bre pada rekan-rekan pegiat literasi. Ia menyebut nama-nama seperti Nirwan Arsuka dan Maman Suherman. Kebetulan saya mengikuti sepak terjang mereka melalui postingan di Twitter. Saya sepakat dengan Bre bahwa apa yang mereka lakukan itu sangat berguna, tak seperti misalnya memperbincang politik kekuasaan di Indonesia. Bahkan, saya bersepakat pada semua hal yang Bre sampaikan di tulisannya kecuali satu: anggapan Bre tentang dunia digital yang, harus saya katakan, dangkal.

Bre menulis bahwa buku berperan mengembangkan imajinasi anak-anak. “Bukan sinetron, bukan peranti digital yang oleh para orangtua sekarang dijejalkan pada anak balitanya agar mereka diam dan tidak rewel.” Bre melanjutkan, “Teknologi digital mengaburkan batas antara yang nyata dan tidak nyata, membawa orang hidup dalam delusi.” Saya sepakat dengan poin-poin tersebut, tapi saya harus bilang ini kesimpulan yang kekanakan. Bre menutup mata pada hal-hal positif yang dimungkinkan oleh adanya peranti digital.

Peranti digital hanyalah alat. Seperti pisau, kita bisa memakainya untuk menusuk orang atau membelah apel. Orang-orang tidak hanya memakai handphone atau laptop untuk ikut dalam debat-debat kusir dan menyebar kebencian lewat Twitter dan Facebook, jika itu yang Bre maksud dengan “[…]sumbu emosi menjadi pendek, mudah terprovokasi, gampang menjadi suka sekali atau benci sekali.” Jika Bre belum tahu, ada lho yang memakainya untuk mencari bacaan baru, mendapatkan buku baru, membuat tulisan-tulisan bagus yang menggerakkan pikiran.


Baru-baru ini saya menerjemahkan karya sastra klasik Rusia berjudul We, Yevgeny Zamyatin, penulis masa Revolusi Rusia. Dari mana saya dapatkan referensi bacaan ini? Youtube. Saya sedang menonton kuliah umum tentang hak asasi manusia di salah satu kanal media digital, lalu meramban ke video lain bertema serupa, hingga sampai ke review buku-buku bertema distopian. Salah satu review Booktuber yang saya tonton membahas Animal Farm, Brave New World, dan We. Karena buku tersebut sudah menjadi domain publik saya dapat mengunduhnya secara legal dan gratis. Saya membacanya di handphone kemudian menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia.

Di handphone ada banyak buku, Bre. Ada portal-portal tempat mengunduh buku-buku elektronik (e-book) dalam beragam format digital seperti Project Gutenberg (www.gutenberg.org), Library Genesis (www.libgen.io). Ada portal tempat penulis berjejaring di dunia digital seperti Wattpad. Bahkan saat ini di Indonesia sudah bermunculan penerbit buku yang khusus merilis produk dalam format digital seperti Storial (www.storial.co), Bookslife (www.bookslife.co), dan Cabaca (www.cabaca.id) Portal-portal tersebut berfungsi seperti toko buku sekaligus perpustakaan. Di sana ada banyak buku. Sebagian gratis, sebagian perlu bayar. Kita bisa baca lewat peranti digital dan bayar memakai jasa transaksi perbankan digital.

Persoalan mendasar bagi yang meletakkan peranti digital di posisi yang berseberangan dengan buku adalah perkara mindset. Definisi buku yang baku saat ini adalah sudah usang, tidak berlaku lagi. Buku, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah “lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong; kitab.” Ini harus lekas diganti atau ditambahkan. Buku tidak lagi berbentuk lembar kertas melainkan dapat berwujud berkas digital, tampil serta dinikmati di layar peranti digital.


Di akhir tulisannya, Bre menyebut Perpustakaan Alexandria. Apa Bre tahu tentang Perpustakaan Digital Universitas Politeknik Florida? Di sana perpustakaannya tidak punya buku. Kaget? Tidak perlu. Memang sudah begini zamannya. Tidak bisa ditolak, mustahil dihentikan, dan bukan saja tidak bijak menganggap segala yang berbau digital hanya sebagai sumber malapetaka bagi umat manusia, tapi juga sembrono. Ada banyak hal bermanfaat di dunia digital. Peranti digital banyak membantu terwujudnya inovasi di dunia buku.

Digital adalah format. Peranti digital adalah alat. Pergerakan zaman dan perkembangan teknologi yang memungkinkannya muncul. Dulu manusia menulis di atas batu, papirus, akhirnya kertas. Kini, tulisan adalah bit-bit digital, angka-angka biner yang membentuk kata-kata di layar ponsel dan laptop. Bre, kami setiap hari pegang handphone dan kami masih membaca. Kami main Twitter, Instagram, sesekali ikut arus perdebatan yang tidak perlu, tapi kami juga tidak berhenti membeli buku

Produk sistem digital tidak hanya “cebong dan kampret”, tapi juga penulis-penulis muda yang haus bacaan dan menulis dalam format-format baru, meraih pembaca baru. Bre, kami generasi digital masih membaca buku, hanya saja dengan cara yang baru.

(Catatan ini berutang terima kasih untuk Kalis Mardiasih yang sudah mengunggah screenshot tulisan Bre Redana ke Twitter)