Klinik Kopi dan Captionnya
Memperhatikan cara kedai kopi menggunakan akun Instagram untuk menyampaikan cerita-cerita dari balik meja seduhnya.

Semenjak menjadikan menulis sebagai pilihan pekerjaan, hidup saya praktis hanya berputar dari satu coffee shop ke coffee shop lain. Untuk menulis, saya butuh meja, dan saya tidak memilikinya di kamar indekos. Saya tidak punya kantor, coffee shop lah yang jadi kantor saya. Mulanya saya hanya kenal Dunkin Donuts dan Starbucks. Namun, ketika belakangan saya juga menekuni dunia kopi, secara nekat mendeklarasikan diri sebagai home brewer — mengoleksi alat-alat seduh sendiri, menggali informasi dari barista, juru sangrai, dan pemilik bisnis food & beverage, ikut kursus barista — rasanya sudah tidak terhitung berapa coffee shop yang pernah saya datangi.
Di samping menghabiskan berjam-jam di coffee shop, waktu saya juga banyak disisihkan untuk main Twitter dan Instagram. Selain sebagai hiburan sehari-hari, saya menggunakan keduanya untuk keperluan komersil. Lewat media sosial, medsos, saya membangun jaringan, merespons tawaran bisnis, dan memperoleh uang. Untuk alasan itu, sudah natural bagi saya mengamati apapun yang terjadi di medsos. Dan setelah menenggelamkan diri ke dunia kopi, otomatis saya turut memperhatikan, misalnya, bagaimana para barista atau coffee shop menggunakan akun-akun medsos mereka.
Sebagai penulis, saya percaya pada kekuatan cerita. Setiap hari kepala saya dengan sendirinya memikirkan bibit-bibit cerita. Ketika melihat seorang laki-laki tua membaca koran sendirian di area merokok coffee shop, atau sepasang laki-laki dan perempuan saling membuang muka dan berlama-lama hanya diam, saya membayangkan kemungkinan-kemungkinan cerita yang bisa dikarang dari pemandangan tersebut. Sebagaimana saya menyukai cerita, saya senang ketika mengetahui ada coffee shop yang juga menyadari kekuatan cerita untuk membangun sugesti, memperkuat citra, bahkan barangkali, meningkatkan sales?
But, to my surprise, dari sekian banyak akun Instagram coffee shop (saya percaya sudah melihat cukup banyak akun) ternyata tidak banyak yang memakai storytelling sebagai metode membuat konten, terlebih cara berkomunikasi dengan pelanggannya. Di antara yang tidak banyak itu, ada satu coffee shop yang sangat mencolok: Klinik Kopi.
Klinik Kopi adalah coffee shop di Yogyakarta yang telah berdiri sejak 2013. Saya tak berminat berdebat tentang penggunaan coffee shop, kedai kopi, atau warung kopi; tak ada gunanya dalam tulisan ini. Kali pertama mengetahui Klinik Kopi dari seorang teman, katanya ia pergi ke warung kopi yang unik karena harus bikin janji terlebih dahulu dengan yang empunya sebelum berkunjung, dan di tempatnya tidak ada wi-fi. Ia menambahkan, sembari menyeduh, si empunya warung akan bercerita panjang lebar tentang kopi kepada para pelanggan, yang juga dibatasi jumlahnya jika ingin datang berkelompok.
Pada saat itu saya langsung berpikir, wow, ini bukan coffee shop seperti yang biasanya Anda kunjungi. Saya tidak berkunjung karena satu dan lain hal, tapi terutama karena merasa canggung harus bikin janji terlebih dahulu, dan saya tak punya cukup banyak teman yang bisa diajak berkelompok menyambangi tempat tersebut. Saya ingat sempat mengintip Instagram Klinik Kopi, tapi ketika itu tak begitu memperhatikan apa saja yang sudah saya baca.
Setelah Ada Apa Dengan Cinta 2, Klinik Kopi kebanjiran perhatian, saya kira jauh lebih dahsyat dibanding periode sebelum film itu tayang. Tiba-tiba saja banyak turis lokal maupun internasional yang datang ke Yogyakarta untuk mendapatkan pengalaman unik ngopi dengan mengantre, layaknya di klinik. Di antara keunikan-keunikan Klinik Kopi: tidak menyediakan gula, tidak menyediakan wi-fi, tidak menggunakan mesin espresso — yang paling menarik perhatian saya justru bukan apa yang terjadi di kedainya, offline, melainkan apa yang Klinik tampilkan di akun Instagram-nya.
Suatu malam, sebagai rutinitas sebelum tidur, saya mondar-mandir di Instagram dan berujung di profil Klinik Kopi. Saya tap salah satu foto, membaca caption-nya, dan tanpa sadar menghabiskan dua jam untuk membaca foto-foto lain. Saat itu ada 2.000 foto lebih di feed Instagram Klinik dan barangkali saya membaca seperempatnya. Kalau di antara Anda pernah mengakses web 9gag dan tanpa sadar menghabiskan berjam-jam di depan laptop, rasanya menelusuri Instagram Klinik persis seperti itu, sangat immersive dan bisa jadi, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, candu.
Tidak seperti coffee shop pada umumnya yang menggunakan Instagram sebatas menampilkan foto-foto cantik, deskripsi produk, serta program promo musiman, Klinik Kopi memakainya untuk bercerita, dan tentang banyak hal di luar kopi yang merupakan jualan utamanya. Akun Instagram Klinik Kopi bercerita tentang arsitektur, kisah-kisah para pelanggan, hingga berbagi intrik-intrik di balik dapur seduh beserta tips mengatasinya. Baru belakangan saya tahu bahwa Mas Pepeng, panggilan akrab sang empunya Klinik, sebelum menekuni dunia hitam, adalah seorang blogger.
Pantas saja, saya pikir.
Yang lebih menarik lagi adalah gaya bahasa Klinik. Alih-alih menggunakan kalimat marketing yang baku dan tertata, Klinik memakai gaya yang lebih bloggish. Saking santainya, tidak jarang terdapat kesalahan pengetikan di sana-sini, tanda baca yang kurang pas, dan singkatan-singkatan yang tidak perlu. Namun, alih-alih membuat mata saya perih seperti yang seharusnya terjadi, saya justru merasa sangat terhibur. Dibanding caption di akun coffee shop yang kalimat-kalimatnya rapi dan cenderung terasa kaku, membaca caption Klinik Kopi yang gaya bahasanya sangat personal (saya selalu membayangkan Mas Pepeng yang bicara) justru terasa akrab, seperti mendengar langsung cerita dari seorang teman lama.
Klinik Kopi adalah contoh terbaik sebuah bisnis yang menggunakan storytelling sebagai kekuatan utamanya. Lebih dari sekadar menjual kopi tanpa gula, Klinik menyajikan cerita-cerita yang personal dan mendalam, yang memikat para pelanggannya untuk terus mengikuti, memperhatikan, bahkan terlibat dalam tumbuh-kembang coffee shop tersebut. Setiap batch biji kopi yang baru selesai disangari, kebun kopi yang dikunjungi, aksesoris baru di rumah cum warung kopi, bahkan yang terbaru grinder Mahlkonig EK43 sebagai penghuni meja seduh Klinik, semuanya menjadi bahan cerita yang apik, menyentuh, dan meninggalkan bekas.
Jika bagi coffee shop pada umumnya, mesin dan biji kopi menjadi komoditas semata, customer yang sedang minum kopi sekadar jadi bahan konten Instagram, objek penghias agar isi feed tidak melulu gelas kopi, meja kayu, dan tumbuh-tumbuhan cantik nan artsy, Klinik Kopi mengolahnya, semua hal itu, menjadi cerita yang menarik, kisah-kisah yang personal, inspiratif, dan membuat siapapun menjadi merasa lebih dekat dengannya, ingin segera menyambanginya untuk mendengar langsung celotehan sang penyeduh, Pepeng. ***
