Menulis Jangan Kebanyakan Mikir

Bernard Batubara
Sep 3, 2018 · 4 min read

Membebaskan diri dari beban riset, ekspektasi, dan kekhawatiran-kekhawatiran lain, demi proses menulis yang lebih santai dan mengalir.

Foto milik pribadi

Hal pertama yang harus dicamkan: berpikir berbeda dengan kebanyakan mikir. Berpikir tentu saja adalah hal baik, bahkan yang utama dalam menulis. Kita menulis karena berpikir. Tulisan yang bagus memancing kita berpikir, dan menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan serta memahami pikiran-pikiran kita sendiri. Namun, ada kalanya kita, yang pengin menjadi penulis ini, kebanyakan mikir sehingga proses menulis berhenti di riset dan rancangan. Kita bertanya-tanya, apakah gagasan kita cukup penting untuk ditulis? Bagaimana kalau nanti ceritanya ternyata tidak menarik? Apa sudah benar bentuk tulisannya seperti ini atau itu? Kalau nanti jelek gimana?

Walhasil, pertanyaan-pertanyaan bernada kekhawatiran tersebut berujung pada tulisan yang tak pernah menjadi, tak kunjung selesai. Paling mentok jadi outline, tapi belasan judul cerpen, draf novel, dan daftar panjang ide tulisan tak pernah menemukan wujud utuhnya. Fakta pahit membuat kita mengeluh karena merasa sulit sekali menyelesaikan satu tulisan saja, satu novel saja. Kita mengikuti kelas-kelas penulisan kreatif untuk mencari jalan keluar, membaca buku-buku how to menulis, menghadiri sesi workshop eksklusif yang diisi oleh penulis nasional ternama dengan rekam jejak cemerlang di daftar buku laris dan penghargaan sastra. Padahal solusinya sangat sederhana: kalau ingin menulis, jangan kebanyakan mikir.


Sebagai penulis yang juga mengerjakan proyek-proyek komersil, naskah pesanan, saya terbiasa menulis dengan perencanaan yang terukur. Ketika akan menulis novel, saya harus membuat timeline yang jelas. Kapan mulai riset, merancang kerangka, menulis draf pertama. Hal ini wajib dilakukan karena ada tenggat waktu yang harus ditepati. Kontrak di awal yang sudah diteken. Metode bekerja seperti ini ternyata berguna ketika saya menulis proyek-proyek pribadi. Meski tidak sedang terikat tenggat waktu resmi dengan penerbit, saya tetap bisa menyelesaikan naskah.

Tapi saya tidak selalu bisa melakukannya. Untuk proyek-proyek pribadi, naskah-naskah yang saya tulis atas keinginan sendiri, saya tak selalu bisa menulis dengan cara seperti saya mengerjakan naskah pesanan. Saya biasanya akan riset lebih panjang, brainstorming lebih lama dan bersama lebih banyak orang, bongkar-pasang kerangka hingga kehilangan selera untuk mengeksekusinya. Saya akan bertanya-tanya dengan sikap pesimistis tentang gagasan yang ingin saya garap, apakah yang saya tulis ini penting, apakah bentuknya yang begini atau begitu sudah tepat, apakah kalimat dan dialog dan situasinya sudah berbobot. Saya akan lebih keras kepada diri sendiri.

Yang mana adalah hal baik karena ada harapan untuk menulis sesuatu yang bagus. Namun, jika itu setara dengan berpikir terlalu panjang, terlalu banyak menimbang-nimbang, berlarut-larut dalam kebimbangan, sikap perfeksionis yang kontra-produktif terhadap progres, mungkin kamu, saya, kita yang pengin jadi penulis, perlu menulis dengan lebih santai.


Saya pernah menulis draf pertama novel dalam tiga minggu. Saya pernah menghabiskan tiga bulan penuh, hanya untuk menulis satu paragraf. Saya punya beberapa naskah novel yang belum diterbitkan. Salah satunya sudah berusia empat tahun dan belum menemukan kata selesai. Saya menulis dengan cepat tetapi juga lambat. Saya menulis dengan beragam cara, berusaha mencari yang terbaik untuk setiap ide. Namun, saya sering melupakan satu hal penting dalam proses menulis: bersenang-senang.

Proses yang panjang dan berliku-liku, ambisi yang jauh dan samar, sering bikin saya lupa kenapa awalnya saya pengin menulis. Saya pengin menulis karena saya senang menciptakan cerita. Saya senang mengarang. Dunia fiktif menemukan wujudnya ketika saya menuangkan pikiran dan imajinasi melalui kata-kata. Saya senang menyusun kalimat, percakapan, menggambarkan situasi dalam adegan-adegan yang emosional dan menggugah. Saya senang hal-hal yang saya rasakan ketika menulis.

Menulis haruslah menyenangkan. Jika tidak, ada cara lain yang lebih baik untuk menyiksa diri. Seorang penulis sesekali perlu kembali ke niat awal kenapa ia melakukan semua ini. Menikmati proses. Lebih penting lagi, memulai proses.


Di antara banyak hambatan menulis, kita kerap luput memeriksa hambatan yang paling mendasar, yakni memulai. Kita bisa membayangkan banyak hal, merancang outline dengan sangat detail, tetapi seringkali sebuah cerita membentuk dirinya sendiri ketika kalimat pertama telah dituangkan.

Menulis, bagi mereka yang serius melakukannya, seringkali menjadi sebuah beban. Terlalu banyak riset dilakukan dan terlalu sedikit keberanian memulai. Padahal, cerita adalah sesuatu yang hidup. Jika kita memberinya napas, ia akan membimbing kita menuju jiwanya.

Lagipula menulis tidak selesai sekali jalan. Masih ada tahap menulis ulang yang bisa terjadi berkali-kali tanpa kita tahu pasti kapan berakhirnya. Tetapi yang jelas kita tidak bisa menulis ulang, tidak bisa memperbaiki sesuatu yang jelek jika tidak ada yang bisa ditulis ulang dan diperbaiki. Naskah yang baik tentu saja adalah naskah yang ditulis dengan bagus, tapi naskah yang lebih baik adalah naskah yang ada.

Jadi, jangan kebanyakan mikir, mulai saja dulu.

Tulis saja dulu.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade