Roman Picisan dan Ideal Tulisan

Bernard Batubara
Oct 4, 2018 · 3 min read

Sebuah refleksi personal dari penulis cerita-cerita roman picisan.

Foto milik pribadi

Saya, seperti umumnya anak muda lain pada masanya, menulis untuk curhat. Tidak kurang dan tidak lebih. Tujuan ini muncul sejak dini. Sebagai anak kecil saya merasakan banyak hal, tapi jarang bisa mengungkapkannya secara lisan. Hingga suatu hari saya bertemu dengan tulisan dan kegiatan asyik bernama menulis. Melalui kata-kata tersurat, saya menyalurkan emosi. Saya tak pernah berpikir tentang tujuan-tujuan lain dari menulis.

Tapi seiring waktu saya mulai berpikir. Apa benar hanya ini gunanya tulisan? Apa kekuatan tulisan sebatas menjadi tempat curhat? Apa tak ada hal lain yang sanggup dilakukan tulisan di samping jadi alat balas dendam kepada mantan pacar yang mengewakan, kepada kisah cinta yang tidak berjalan sesuai harapan?

Dalam delapan tahun terakhir saya bertemu banyak anak muda lewat berbagai kesempatan. Hampir semuanya memberikan pengakuan bahwa mereka ingin menjadi penulis, dan mereka menulis untuk menyalurkan perasaannya. Untuk curhat, seperti yang saya sendiri lakukan. Saya tidak bilang itu salah, tentu saja. Namun, dalam kesempatan ini saya ingin bicara tentang kekuatan tulisan yang lain, yaitu mengemukakan gagasan.


Dulu saya selalu defensif setiap kali mendengar tuduhan, langsung ataupun tidak, terhadap buku-buku saya yang pernah terbit. Buku-buku pertama saya. Semuanya seperti yang saya singgung sedikit di bagian sebelum, bercerita tentang kisah cinta. Cinta yang tidak punya banyak lapisan. Namun, saya mengetahuinya bahkan saat saya menuliskannya. Dalam pembelaan saya, saya tak bisa menulis hal lain karena satu-satunya yang dekat dengan diri saya adalah hal tersebut. Kisah cinta yang sederhana. Roman picisan.

Beberapa orang memandang buku-buku pertama saya terutama sebagai buku-buku tidak bermutu. Seorang pembaca di Goodreads bahkan pernah bilang buku saya sama dengan sampah. Saya tidak pernah membantahnya. Dalam hati saya berharap sampah yang pernah saya produksi dapat jadi bahan daur ulang bagi proses berpikir saya sendiri, yang saya harap bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Apa itu? Yakni hal yang kini saya anggap sebuah ideal tulisan.

Tulisan, idealnya, tidak sekadar jadi tempat penyaluran emosi yang mentah. Tulisan juga dapat dan perlu menjadi cara seseorang menyampaikan sebuah gagasan. Sebentuk pemikiran. Guna sebuah tulisan lebih krusial daripada sekadar dijadikan kantung kresek tempat muntah kegalauan cetek kata-kata cinta yang tak memberikan apapun selain perulangan-perulangan.


Saya tidak menyesal pernah menulis buku-buku berisi roman picisan. Itu bagian dari proses saya sebagai penulis. Termasuk tentu saja bagian dari proses tumbuh-kembang alam berpikir saya sebagai manusia. Buku-buku yang dianggap roman picisan itu mengizinkan saya bertemu dengan banyak sekali pembaca, sesuatu yang dahulu kala saat kecil hanya bisa saya bayang-bayangkan (jujur saya tak pernah berpikir hal itu akan terjadi)

Tapi saya tidak bisa lagi kembali ke masa itu. Masa ketika yang bisa keluar dari jari-jari tangan saya hanya sebuah kisah roman picisan. Mungkin, tentu sangat mungkin, kelak saya masih akan menulis mengenai kisah cinta. Tapi saya tak bisa lagi melihat cinta sebagai sesuatu yang unidimensional. Ketika saya menulis karya fiksi yang konfliknya berpusat pada romance, saya akan memikirkan lapisan-lapisan lain yang mengitarinya, yang dulu tak pernah saya ketahui.

Setiap penulis boleh menulis apapun yang ia mau, termasuk menyiarkannya, baik sebagai konten di medsos atau naskah yang menjadi buku. Namun, saya percaya setiap penulis harus terus-menerus bertanya ke diri sendiri mengenai apa yang saya coba sebut sebagai ideal tulisan. Apa tulisan seperti ini yang ingin terus-terusan aku berikan ke dunia? Apa hanya sampai di sini yang bisa aku tawarkan kepada pembacaku tercinta, yang sangat baik hati hingga apapun yang aku berikan akan selalu disambut oleh mereka?