Sakit dan Sembuh

Pernahkah kamu jatuh sakit saat ditinggal pergi oleh orang yang kamu cintai dan tiba-tiba saja sembuh ketika ia sudah kembali?

Hari ini Glo kembali ke Jakarta. Selama empat hari, untuk kepentingan pekerjaan, ia berada di Dabo, Singkep, Kepulauan Riau. Ia dan rekan-rekannya mendapat mandat untuk melakukan renovasi bandar udara perintis di pulau kecil di kawasan Sumatera tersebut. Pekerjaan itu, seperti ia katakan kepada saya, akan dilaksanakan dalam kurang-lebih dua bulan. Ia sendiri punya satu misi khusus: mengambil gambar-gambar bandara Dabo.

Ini adalah kali pertama Glo pergi hingga ke luar Jakarta untuk urusan pekerjaan, setidaknya selama kami berhubungan. Selama ini pekerjaannya selalu berkisar di Jakarta. Memang ada beberapa wacana rencana pekerjaan di Bali, Batam, bahkan kota tempat saya tinggal sekarang, Yogyakarta-tetapi semuanya belum sempat terlaksana. Dabo lah akhirnya yang terwujud dan membuat Glo benar-benar harus keluar dari Jakarta dan “meninggalkan” saya.

“Meninggalkan” memang terdengar lebay, berlebihan. Saya dan Glo toh menjalani hubungan jarak jauh, LDR bahasa gaulnya. Saya di Yogyakarta, Glo di Jakarta. Jadi, terpisah jarak sudah makanan sehari-hari kami.

Tapi, ternyata ditinggal pergi bertugas ke luar kota rasanya tidak enak buat saya.


Pada hari pertama Glo berada di Dabo, saya baik-baik saja. Saya senang melihat foto-foto yang ia kirim: bandar udara, pantai, dan suasana tempat ia menginap yang memiliki halaman rumput hijau nan bersih dan saung-saung yang tampak nyaman menghadap pantai. Glo pasti sangat menikmati berada di Dabo, saya membatin. Ia pernah bilang, ia merindukan pergi ke suatu tempat yang bukan kota besar. Suasana Dabo sebagai pulau kecil yang tenang, dikelilingi pantai dan laut menjadi destinasi yang sempurna buat Glo.

Tetapi pada hari kedua mulai ada yang aneh pada diri saya.

Saya jatuh sakit.

Pertama-tama, saya merasa ada yang tidak beres pada pencernaan saya. Perut terasa mulas, padahal saya tidak terlambat makan. Apa mungkin karena kopi yang saya minum? Tidak juga. Sambal dari nasi kuning yang saya santap pagi harinya? Tidak mungkin. Kopi dan sambal, meski bukan kombinasi yang baik bagi lambung, sudah menjadi santapan yang biasa saya konsumsi setiap harinya. Jadi rasanya tidak mungkin hal-hal itu menjadi penyebab mulas saya di hari kedua Glo berada di Dabo.

Penyakit saya semakin parah di hari ketiga Glo berada di Dabo. Glo mengirim foto-foto ia sedang berada di dermaga kecil; ia berjongkok memotret jalanan beraspal yang membelah hutan; dan foto wajah dirinya. Saya melihatnya sambil tersenyum-senyum, sembari menahan rasa mulas di perut yang kini telah sukses membuat tubuh saya lemas. Kepala saya pun ikut-ikutan menjadi sakit.

Saya mengabarkan ke Glo tentang sakit saya. Ia terdengar cemas, dan buru-buru menyuruh saya membeli obat. Saya bersikeras tidak mau beli obat, karena saya pikir nanti akan membaik sendiri. Namun, menjelang tengah malam saya hanya bisa meringkuk, menahan rasa mulas di perut, dan tidak dapat bergerak sama sekali. Glo membaca pesan saya, ia kembali menyuruh saya pergi membeli obat. Mau tidak mau saya memaksakan tubuh saya yang terasa sangat lemas dan berat untuk berganti pakaian dan berkendara ke apotek terdekat.

Setelah kembali ke indekos dan meminum obat, saya berpamitan tidur ke Glo.


Menjelang Glo pulang, seiring saya mengonsumsi obat dan beristirahat total, kondisi saya perlahan-lahan saya membaik. Perut saya tidak mulas lagi. Kepala saya tidak pusing lagi. Selera makan saya juga kembali bagus (selama sakit beberapa hari saya hanya sanggup menelan empat sendok nasi tiap kali makan)

Tentu saja, bisa dikatakan penyebab kondisi kesehatan saya membaik adalah karena obat yang saya konsumsi. Tapi, pertanyaan yang masih tersisa di benak saya adalah, kenapa saya jatuh sakit tepat saat Glo pergi kerja ke luar kota dan saya mulai sembuh ketika ia sudah kembali ke rumahnya?

Saya merasa seperti anak kecil yang ditinggal ibunya pergi dinas lalu mendadak jatuh sakit, padahal tidak ada hal signifikan apapun yang menjadi penyebab penyakit itu, semata-mata karena alasan psikologis: si anak sangat merindukan ibunya sampai sakit.

Saya merasa mungkin saja saya seperti anak kecil itu. Ketika Glo pergi jauh, saya jatuh sakit. Tepat saat ia sudah pulang, saya membaik. Mungkin saja berlebihan jika saya simpulkan demikian. Tapi, mungkin saja tidak. Bukankah rasa sakit itu, selain terkait dengan penyebab yang bersifat fisik, juga erat kaitannya dengan kondisi pikiran? Barangkali rasa rindu dan pikiran saya tidak stabil saat Glo pergi ke tempat yang, buat saya, terhitung “jauh”.

Pernahkah kamu jatuh sakit saat ditinggal pergi oleh orang yang kamu cintai dan tiba-tiba saja sembuh ketika ia sudah kembali?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.