Perjalanan Nikmat dan Bermanfaat

Saya suka dengan sebuah perjalanan, terutama saat mengunjungi destinasi liburan. Bagi saya, perjalanan itu cukup mengasyikkan. Ada banyak pemandangan yang bisa dilihat dan seru menikmati suasana di dalam kendaraan. Tentu dengan pengecualian, kalau perjalanan itu tidak mengalami kemacetan atau hambatan lainnya! Hehe..

Terasa makin seru ketika sudah sampai di destinasi wisata yang dituju. Pemandangan indah atau spot-spot instagrammable yang tersedia membuat diri ingin segera mengabadikannya dengan kamera handphone. Selfie, wefie, memang sudah ‘menjangkiti’ para wisatawan untuk menikmati sensasi pemandangan yang disajikan pada destinasi tersebut.

Awal Desember 2018 selama hampir 1 minggu, rencananya saya bersama teman-teman kuliah akan berlibur ke Yogyakarta. Yeayy, alhamdulillah. Beberapa destinasi liburan akan kami kunjungi, seperti Tebing Breaksi, Pantai Baron, Tebing Bintang, dan lain-lain. Melihat potret destinasi liburan tersebut di google, membuat saya khususnya, begitu antusias. Sudah membayangkan bagaimana serunya bisa berfoto di sana.

Pict by Berlian Shona

Namun, saya merasa ada yang keliru dari tujuan saya untuk berlibur. Hanya berfoto bersama pemandangan dan spot-spot yang ada? Hanya itu? Ah, sayang sekali rasanya. Perasaan yang mengusik ini muncul ketika saya menyusuri perjalanan Hamka, seorang Ulama sekaligus Sastrawan selama di Amerika dalam buku 4 Bulan di Amerika.

Kedatangan Hamka di Amerika bermula dari sebuah undangan pemerintah Amerika Serikat untuk mengunjungi negerinya selama 4 bulan. Bagi saya waktu 4 bulan itu waktu yang cukup lama bertandang ke negeri orang, namun bagi Hamka itu waktu yang sangat sedikit. Mengapa?

Mungkin bagi saya yang hanya memiliki tujuan sekadar berfoto, waktu 4 bulan itu cukup lama. Lain lagi dengan Hamka, ia punya tujuan yang berbeda untuk menikmati perjalanannya di Amerika. Hamka benar-benar menikmati perjalanannya dengan hal-hal yang bermanfaat baginya, bahkan untuk semua orang.

Selama perjalanannya di sana, Hamka mendapat jawaban dari berbagai pertanyaan dirinya seputar kehidupan beragama manusia modern, tentang Tanah Air Indonesia dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia, dan tentang hakikat keberadaan manusia di dunia.

Pict by Berlian Shona

Bahkan, Hamka juga mengamati kultur orang-orang di Amerika, khususnya di New York. Salah satunya tentang bagaimana mereka berinteraksi saat dalam perjalanan. Mereka begitu tergesa, bertumbuk di tengah jalan, tapi tidak ada yang berkelahi, cukup dengan excuse me saja. Selesai perkara!

Itu baru sedikit kekaguman Hamka dengan apa yang ada di Amerika. Hamka juga mengagumi pembangunan yang cukup pesat di sana dan bagaimana peraturan universitas-universitas Amerika dibangun serta diterapkan.

Pict by Berlian Shona

Berada di negeri orang, tentu tidak membuat Hamka lupa dengan kampung halaman. Saat bertandang ke Chicago, Hamka mengingat kota Bukittinggi. Ketika itu ia sedang berada di sebuah kafetaria di Chicago. Negara berbeda tentunya memiliki kultur, kebiasaan, cara hidup, dan kekhasan lain yang berbeda.

Namun, di buku ini foto Hamka selama di Amerika terlalu sedikit dan yang ada pun kualitas fotonya kurang jelas. Bisa jadi karena memang Hamka lebih fokus bagaimana ia mengambil pengalaman dan pengetahuan di Amerika ketimbang menimbun banyak foto tanpa membawa manfaat. Foto yang ada kurang bagus kualitasnya juga bisa jadi karena telah ‘dimakan usia’.

Menyimak perjalanan Hamka yang tidak hanya dirasakannya nikmat, tapi juga bermanfaat, jadi mengubah pandangan saya tentang suatu perjalanan. Mengabadikan momen dalam suatu perjalanan tentu tidak ada salahnya. Namun, alangkah lebih bermanfaatnya jika dibersamai dengan kegiatan yang bisa menambah wawasan, pengalaman menarik, dan sebagainya.

Insya Allah, perjalanan saya di Yogyakarta nanti akan lebih berwarna, bermakna, nikmat, tapi juga bermanfaat. Akan saya abadikan kisah perjalanan itu dalam foto dan tulisan.

Bagi kamu yang mau tahu kisah perjalanan Hamka selengkapnya, bisa baca buku 4 Bulan di Amerika terbitan Gema Insani seharga Rp 75.000.