Social Entrepreneurship = Marketing Tools?

Bernhart Farras S
Aug 26, 2017 · 3 min read

Kembali lagi dengan Saya Bernhart Farras, fenomena entrepreneurship di Indonesia sekarang sudah mulai menjamur dan meningkat, bahkan ratio wirausaha Indonesia naik jadi 3.1 persen menurut depkop dari 1.7% pada 2013/2014 lalu.

Muncul suatu kata baru yang bernama Social Entrepreneurship / Pengusaha Sosial. Sebutan ini makin sering terdengar saat Saya diberikan tugas oleh fasilitator xl future leaders untuk melakukan social innovation challenge pada tahun 2016 lalu. Jujur Saya sangat bingung dengan tugas ini, begitupun beberapa teman Saya.

Instruksi yang saya dapat adalah “Cobalah buat bisnis/usaha yang dapat berdampak sosial” dan bentuklah pemikiran kita bisnis tapi hati kita sosial. Itu kata fasilitator Saya.

Beberapa hal yang menjadi pertanyaan Saya yang sampai sekarang membuat Saya belum merasa puas dengan jawaban yang telah dijawab oleh penggiat usaha sosial dan fasilitator Saya.

  • Berapa persenkah pembagian penghasilan untuk usaha tersebut bisa disebut usaha sosial? (Pembagian untuk sosial dan bisnis)
  • Kenapa perusahaan besar yang memiliki csr tidak disebut sebagai usaha sosial?
  • Kenapa perusahaan besar yang memiliki program untuk mensupport orang-orang disabilitas tidak disebut sebagai usaha sosial?
  • Kenapa saat kita memberi, kita harus mempublikasikannya kepada banyak orang? karena yang Saya tahu, saat kita memberi dengan tangan kanan, tangan kiri lebih baik tidak mengetahui apapun.
  • Kenapa bisnis dicampur dengan menyumbang? Kenapa tidak kita buat satu usaha yang memang fokus untuk profit dan buat satu kegiatan untuk menyumbang tanpa harus mempublikasikannya?
  • Apa yang bisa membuat kita bisa mendefinisikan dan mendeklarasikan bahwa usaha kita itu usaha sosial dan kita adalah sosial entrepreneur?

Jawaban yang Saya dapatkan baru hanya:

  • Ada beberapa persen yang harus disumbangkan untuk sosial Bern. (Tapi berapa pastinya? kalau saya menyumbang 2.5% saja lalu apa bedanya dong dengan CSR?)
  • Yang penting tujuan di awal Bern.

Lalu mulailah Saya melakukan riset dengan mengambil contoh dari perusahaan toms shoes dengan tagline nya “the one for one” agar lebih mengetahui dari salah satu perusahaan yang menggunakan masalah sosial sebagai fokus utama publikasi bisnisnya.

Founder nya adalah blake mycoskie. Sebelum blake membuat toms shoes, ia adalah artis reality show amazing race dan the bachelorette. Berawal dari kunjungannya ke Argentina ia melihat efek dari kemisikinan dan dimulailah keinginannya untuk membantu orang dengan cara memberikan sesuatu. Lalu toms shoes dimulai di amerika dengan model bisnis, jika Anda membeli satu sepatu maka ada orang yang Anda berikan satu sepatu di daerah dengan kemiskinan (salah satu contoh: uganda di Afrika).

Sounds very generous right?

Tapi pertanyaannya adalah apakah orang-orang tersebut sangat membutuhkan sepatu? berdasarkan data yang Saya dapatkan di internet, malaria adalah salah satu masalah terbesar di Uganda, kekurangan lapangan pekerjaan, ketersediaan listrik juga menjadi masalah penting. Lalu bagaimana dengan pengusaha sepatu lokal disana? dengan pasokan sepatu gratis, maka pastinya berkuranglah pembelian sepatu di daerah tersebut. Dan dengan berkurangnya pembelian, pastinya meningkatkan resiko pemecatan karyawan yang menjadikan lapangan pekerjaan makin berkurang.

Tapi tidak apa-apa Bern, banyak orang yang membeli sepatu tersebut karena tahu itu akan disumbangkan. Makanya fine-fine saja jika ia melakukan promosi dengan menggunakan kemiskinan orang diluar sana. Apakah Iya?

Mari kita pecahkan berapa yang disumbangkan jika sepatu ini dikonversikan dengan uang. Data didapatkan dari La Weekly

  • Harga jual toms shoes $60.
  • Harga pembuatan sepatu slip-on canvas berkisar antara $3.50 dan $5. jadi kita ambil saja harga tengahnya $4.
  • Jika harga satu sepatunya $4 + satu sepatu gratis untuk disumbangkan $4 total $8 untuk biaya produksi.
  • Lalu kemana uang $52 nya? (Mungkin TOMS SHOES Company)

Masih menjadi pembicaraan hangat dan pertanyaan yang belum terjawab untuk Saya batasan manakah yang dapat menjadikan kita sebagai social entrepreneur dan menjadikan perusahaan kita social enterprise. Karena banyak teman-teman Saya bilang oh berarti HartLogic(Bisnis yang Saya Bangun) Social Enterprise dong Bern? Saya selalu menjawab Saya tidak tahu dan teman-teman bisa mendefinisikan HartLogic sebagai apa. Untuk Saya HartLogic adalah Entrepreneurship Platform yang mendukung pengusaha.

Feedback dari para professional disini sangat Saya nantikan dengan segala ketidaktahuan dan kekurangan Saya.

Saya sangat mendukung segala kegiatan usaha untuk membangun masyarakat, menolong sesama, berkolaborasi dan kerjasama lain yang dapat saling menguntungkan. Apalagi usaha untuk membangun negara Saya tercinta. Indonesia.

Tetapi tolong dengar pesan terakhir dari Saya.

Tolong Jangan! lakukan aksi sosial jika Anda menggunakan orang disabilitas atau kemiskinan masyarakat untuk marketing tools demi mendapatkan profit.

)
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade