Sendiri

Sekelebat lewat dengan beribu tanda tanya menggentayangi hati dan pikir. Saat ini, hanya sendiri yang mampu merasakannya dan mencoba untuk melawannya. Sendiri dalam diam, sendiri dalam tanda tanya, sendiri dalam kesadaran, sendiri dalam kekalutan, sendiri dalam usai.

Upaya untuk membagi sendiri itu sepertinya tidak berani diambil. Apa gerangan sebab? Bagi jiwa sendiri ini, membagi itu bukan perkara mudah. Keyakinan bahwa sendiri itu mampu ditepis dengan membagi ruang dengan sendiri yang lain masih dalam pergulatan pikir dan rasa. Keyakinan yang sepadan dengan kepercayaan itu sulit dicari dalam kamus pembagian.

Entah apakah bisa usai dengan sendirinya atau malah berlarut-larut (?). Dalam hal ini tidak ada yang bisa dipercaya selain sendiri itu sendiri. Dalam banyak hal sendiri itu telah mencoba untuk memahami kesendirian yang lain dan selalu berhasil. Namun malang tak dapat dinafikkan, ketika sendiri itu dalam kesendirian…. tidak ada kesendirian lain yang mampu dan memahami si sendiri itu. Rumit memang, tentu ini bukan perkara pamrih. Apakah sendiri itu harus benar-benar sendiri dalam menghadapi berbagai deraan dan rintang yang ada didepannya (?).

Sendiri itu hilang arah, hilang gairah, dan hilang percaya bahwa lintasan pacunya baik-baik saja. Dalam hening bersedekap, dalam sunyi menengadah, dan dalam damai berbisik. Dalam-dalam itu menjadi upaya agar supaya sendiri ini bisa lega hati dan pikirnya, lepas dari taklukan dan belenggu kesendirian yang sendiri. Dalam-dalam itu hanya salah satu cara dan saksi bisu atas keadaan sendiri. Kali ini yang sendiri percaya tidak hanya dirinya, namun penciptanya ikut dipercayainya kini dalam membagi ruang kesendiriannya.

Diluar sana hanya tahu kalau sendiri itu teguh dan kuat dalam berbagai hal. Seperti pernah bahkan sering terdengar perkataan dari orang-orang yang katanya bijak. Dibalik teguh dan kuat itu sebenarnya tersimpan banyak pecahan,guratan, sayatan, bahkan luka dalam yang tak kasat mata. Ya, itu semua memang tak kasat mata. Tetapi perlu diingat, pasti ada yang bisa ditangkap oleh mata dari apa-apa yang tidak kasat mata itu. Tentu tidak banyak yang bisa melihatnya. Tentu hanya mereka yang peka dan sadar dan pada akhirnya terseleksi oleh alam untuk bisa berbagi ruang sendiri dengan sendiri itu.

Sayangnya, sampai saat ini si sendiri itu masih harus menghadapi pesakitannya dalam ruangnya tanpa bisa berbagi ruang itu dengan kesendirian yang lain.

    Embun Aksara Bestari

    Written by

    Dalam cerita.Kelenturan pandang.Gemuruh pikiran.