Jarak, ruang dan waktu adalah beberapa dimensi yang mungkin berperan besar dalam keputusan-keputusan besar yang pernah dan mungkin akan kita ambil.

  • Ruang adalah satu dimensi yang belum mampu saya pahami, maka saya akan mencoba menulis tentang jarak dan waktu, yang lebih saya pahami, semampu saya.

Sebelum memulai, ingin saya mengawali tulisan ini dengan sedikit cerita, terlepas dari naratif atau tidaknya beberapa kalmiat berikut ini, semoga mudah untuk dipahami.

Sedikitnya beberapa dari kita beruntung karena telah memiliki pengalaman akan perjalanan cinta atau romansa. Pelik atau tidaknya, mungkin hanya kita yang bisa menilai. Lalu apa ukuran pelik pada umumnya?

Beberapa mengatakan, pelik apabila mendapat balasan saja sulit. Yang lain mengatakan, pelik apabila restu orang tua hampir tiada. Sementara sisanya, terbebani masalah suku, ras dan agama.

Pelik bagi saya, terutama yang pernah saya alami, adalah hubungan jarak jauh dan waktu yang tidak kunjung tepat.

Sial bagi saya, 2 kelompok dimensi ini adalah sesuatu yang selalu saya temui secara bergantian setiap saya memberanikan diri memulai hubungan baru.

Ketika cinta ramai bertepuk tangan, dan tidak perlu repot mentolerir, tidak ada suku, agama dan ras yang perlu dipusingkan, dan oleh karena itu restu orang tua sudah menjadi barang yang pasti, seketika semua menjadi terasa tidak pas.

Semua hal baik tersebut, oleh takdir, seolah-olah menjadi tidak berarti ketika jarak ada di antaranya. Maka terciptalah waktu. Alhasil, dua insan terjebak dalam cinta yang tidak akan kunjung siap.

Jarak membebani kami dengan rindu. Tiap malam adalah doa dan upaya untuk segera bertemu. Tetapi tiap pagi hingga sore, kami lupa. Ada kehidupan yang mesti di jalani, seberat apapun rindu.

Rindu tidak ringan, rindu tidak murah. Menebus rindu adalah membayarnya dengan waktu.

Tiap malam adalah upaya untuk mendekatkan diri, bertemu di udara, seolah saling ada di depan mata. Namun tiap malam pula, jarak menjadi makin berarti. Mulanya hanya angka, lalu menjelma menjadi pembatas hingga akhirnya menjadi dinding pemisah.

Lalu rindu, menjelma menjadi beban.

Rindu, bukan lagi sesuatu yang manis untuk dinyanyikan.

Satu malam ia datang dengan rasa takut, malam berikutnya datang dengan rasa cemas.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.