Bela, Berhala, dan Pembunuhan

"Bela agama!"

Mulut-mulut menggemakan
nama-nama Tuhan yang Esa
namun kembali kepada letupan
molotov dan darah tumpah
menjadikan Raqib dan 'Atid
saling menukar pandang
dan menilik catatan masing-
masing.

Di sebuah pondok kopi kecil
yang tersembunyi di balik
bau keringat dan sorban
orang-orang yang marah,
Gus Dur dengan senyumnya
nyetus :
Tuhan tidak perlu dibela.

Panji-panji dikibar,
gaung hasrat hangus
dan bara pengkafiran
masih mengudara
di sebuah lapangan
di mana ribuan
manusia mencoba
membela Tuhannya.

Mana perlu?
Tuhan adalah muara segala
bela yang Maha Sempurna.
Apakah langit mesti kau bumikan,
sebagaimana bendera dan kurma
tiada beda padamu serupa berhala?

Dan masih di kedai kopi
yang sama dengan pisang goreng
yang masih hangat namun
bakwan jagung yang mulai dingin,
Nietzsche menaikan pitam
segala ruang dengan dakwanya:
Got is tott!
Tuhan telah mati!

Gaung nama Tuhan makin
kuat diiringi amarah akan
ketololannya dan telunjuk-telunjuk
tuding:
Komunis! Liberal anjing!
Ateis asu!

Tapi, siapa pembunuhnya?
Kita! Jawab Nietzsche.
Kita bukanlah membela
Tuhan, selain ego
yang kita balut dengan ayat-
ayatnya.

Kita menciptakan
berhala-berhala anyar,
dan masih mengatasnamakan
diriNya.

Seakan-akan surga adalah sesempit
kamar kecil dan hanya
boleh jadi milikmu adalah
kekejian dan menjijikan.
Apakah bidadari yang kaukejar atau
menjadi esa denganNya?

Tuhan,
padaMu kata
aku jadikan Amin
yang nyaring
dan semoga
luka-luka ini
cepat mengering.

—Bhatarafana
2018