Kotak Intelektual itu Bernama Sekolah Kehidupan

Sampai pada akhirnya merasakan sendiri, saya selalu menganggap jargon-jargon pengagungan terhadap masa sma adalah omong kosong belaka. Manusia memang selalu memiliki tendensi untuk merekayasa bahwa masa yang lampau selalu menyimpan nilai-nilai kebaikan lebih banyak ketimbang yang datang di masa kini. Akan tetapi, setelah akhirnya melewati masa seragam putih-abu itu, mungkin lagu-lagu Chrisye, film-film 70-an, dan sastra-sastra pasca perang ada benarnya juga; masa SMA adalah sesuatu yang berada di luar kontruksi pikiran dan perasaan kita. Ia selalu menjadi bagian integral dari langkah kaki kita. Kisah cinta, persahabatan, organisasi, acara-acara, merokok diam-diam di kamar mandi, celana yang dipensil, guru yang keren dan buruk, dan masih terlalu banyak lagi bagian-bagian yang turut menyumbang dalam formulasi matematis masa SMA. Mungkin, mengapa masa ini tumbuh dalam diri hampir setiap orang sebagai kesan yang dalam adalah karena kita tumbuh menjadi dewasa pertama kali di masa ini. Pola pikir, tubuh, ketertarikan terhadap lawan jenis, tumbuh bersama orang-orang ini, dan gedung sekolah ini.
Salah satu hal yang sangat saya syukuri, berkaitan dengan masa putih abu ini, adalah beruntungnya saya untuk menjalani masa ini di sekolah kehidupan. Es em a satu kota bogor. Sekolah yang semenjak saya sd selalu memberi kesan elit dan pekat akan kehidupan akademis. Beruntung, saat SMP kapasitas berpikir saya masih mencukupi untuk masuk SMA ini. Dan, dor! Saat masuk menjadi bagian dari sekolah ini, ya, seperti teman-teman saya yang lainnya, kita menggoblok. Saat pertama sekali masuk SMA ini, saya belum tahu apa spesialnya sekolah ini. Tapi, ospek yang berjalan di awal cukup memberi gambaran baru bagi saya; bahwa sekolah ini selalu berorientasi pada output berupa esensi, yang seperti sistem sensor, esensi ini juga menggerakkan sesuatu tersebut di awal. Sehingga bila suatu kegiatan esensinya masih abu-abu, kemungkinan tidak akan dilaksanakan di sini.
Hingga pada bulan sekitar September, saat masih semester pertama di sini, pembelajaran belum efektif. Ada acara-acara, regenerasi, event-event eksternal, hingga banyak dari kami siswa baru mulai berpikir; sekolah jarang belajar gini kok jadi favorit sih? Lalu, ‘mereka’ mulai menampakkan dirinya. Ulangan-ulangan, tugas-tugas yang kadang kerap amat berat, teman-teman yang pinternya keterlaluan, lomba-lomba yang membuat insekuritas kami tergelitik, ah, mulai terasa bagaimana sekolah ini menjadi spesial. Tugas memang kerap berat, namun, entah, tidak terlalu banyak mengambil waktu pada dasarnya. Dan inilah yang menjadi nilai lebih sekolah kehidupan.
Waktu luang adalah ladang paling subur aktualisasi diri. Dengan keluangan waktu tersebut, kami diberi ruang-waktu cukup luas untuk memulai proses membentuk, bukan sekadar mencari, jati diri kami masing-masing. Silakan berorganisasi, silakan berolahraga, silakan berolimpiade, silakan menciptakan inovasi, silakan menciptakan lagu, silakan menciptakan tulisan, silakan memperluas relasi, silakan! Sehingga siswa/i sekolah kehidupan kerap memancarkan kekhasan berupa kesadaran yang mulai terbentuk dengan luar biasa di umur yang masih berkisar di 16–18 tahun.
Pola pikir merupakan konstruksi yang dibuat oleh lingkungan sekolah ini sebagai barang mewah dan fungsional. Cara berpikir yang mengedepankan rasionalitas dan deep thinking berupa analisis nilai dan manfaat ternyata sangat menjadikan setiap pelaku akademis di dalamnya, terutama murid-murid (karena masih muda) akhirnya memiliki kemampuan berpikir serta pola dalam pikiran yang tajam, masuk akal, dan dalam. Sehingga tercipta semacam frekuensi di dalam interaksi siswa/i yang senada.
Smansa mungkin tidak pernah terdengar sama sekali di lapangan tawuran. Karena, kembali ke pada penjelasan sebelumnya, setiap pelaku akademis di kotak kecil ini sadar bahwa tawuran adalah bentuk kesia-siaan dan penurunan harga diri serta pelecehan intelektualitas. Atau bahasa sederhananya, tawuran adalah kegiatan orang dungu. Kita tidak melakukan itu di sini. Tidak. Tapi, itu hanya turunan dari gambaran besarnya. Bahwa nama Sekolah Kehidupan tidak melekat tanpa alasan yang kuat. Smansa adalah miniatur kehidupan dan miniature kehidupan adalah smansa.
Sekolah kehidupan selalu ditekankan Pak Bas terutama saat kita masih baru di sana (menggunakan kata ‘sana’, mengingat beberapa dari kita sudah pergi ke masa depannya masing-masing). Selama tiga tahun di sini, metafora itu bukan menjadi sekadar majas lagi, tapi sebuah kenyataan yang harfiah. Banyak sekali kehidupan versi kecil yang terjadi di sekolah ini. Kami melihat dan belajar bagaimana mengatur organisasi dan massa secara efektif dan efisien, bagaimana mengatur waktu yang baik antara kehidupan akademis dan non-akademis, apakah ada relasi antara kelancaran birokrasi dan uang, entah berlabel mui atau tidak, bagaimana cara bangun dari jatuh saat di sekelilingmu sudah berlari. Banyak sekali nilai-nilai dan realitas yang diberikan kepada kami untuk akhirnya sadar, kehidupan banyak serunya, juga tidak kalah banyak busuknya.
Memiliki kemampuan lain selain akademis menjadi salah satu hal yang saya suka dari kehidupan di sekolah ini. Hanya memiliki nilai 100 tanpa mengaktualisasikan diri di bidang lain hanya membuatmu tenggelam dan tidak terpahat secara sempurna. Sehingga mengatakan bahwa Smansa hanya berisi orang-orang dengan akademis yang hebat hanya mengerdilkan konteks eksplorasi dan aktualisasi diri yang dijalani murid-murid di dalam sini. Berproses sebagai manusia yang inovatif, kreatif, dan mempunyai potensi kebermanfaatan bagi sesame adalah alur yang dibentuk lingkungan ini. Lingkungan dalam kotak kecil yang sekarang banyak tanaman rambat bak hutan. Tapi, sekecil apapun tempat ini, esensi pulang masih selalu menggantung di dalamnya.
Dari sastrawan selevel Taufik Ismail hingga aktivis selayak a Manik dan a Royan, Smansa adalah rumah yang tepat dalam mendidik kami bukan semata-mata sebagai alat kerja, tapi menjadi manusia dengan segenap potensinya, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya.
Sehat selalu seluruh keluarga smansa. Ibu-bapak guru dan seluruh staf sekolah, aa, teteh, teman-teman Teropong Mandala yang keren-keren semua (apa kabar?), adik-adik, seluruh penghuni selot, bl, semoga semua sehat dan kuat selalu.
Tulisan ini ditujukkan sebagai apresiasi kepada Sekolah Kehidupan dalam konteks yang bahkan seluas negara dan bangsa bahkan dunia, karena sudah membentuk manusia-manusia menjadi manusia-manusia yang paling manusia-manusia yang punya potensi besar untuk dunia. Salam kangen.
-Bhatarafana, yang dibentuk Ajil, yang diproses Smansa.
Foto milik: panditakris
