Bencana Perubahan Iklim
Lagi-lagi ini terjemahan tanpa ijin dari NewYorker, niatnya untuk belajar bahasa Inggris, ternyata isinya membicarakan sesuatu yang penting tentang bahayanya perubahan iklim. Kebetulan lagi aku baru selesai membaca novel karya Jostein Gaardner berjudul Dunia Anna. Juga baru-baru ini banyak demonstrasi di seluruh dunia yang diinisiasi Greta Thunberg. Ternyata masalah ini begitu peliknya. Artikel ini setidaknya membantuku sendiri untuk mengerti masalah perubahan iklim. Berikut artikel yang saya coba terjemahkan. Jika terdapat kesalahan silahkan diberikan komentar
…………………………………………………….
Beberapa bulan yang lalu, James Hansen, seorang Direktur Nasa Institute Goddard untuk penelitian luar angkasa di Manhattan, mengambil cuti untuk mengikuti demo di Washington, D.C. Niatnya adalah memprotes pembangkit listrik pusat, yang mensuplai listrik untuk Gedung DPR, tapi inti demonstrasi sebenarnya adalah menolak batu bara, yang merupakan penyebab utama efek rumah kaca. Saat itu suasana tengah bersalju. Hansen memakai jas hujan dan topi pelaut yang lebar. Dia lupa membawa sarung tangan. Adiknya yang tinggal di Washington mengatakan dia mirip Indiana Jones.
Barisan masa menuju pembangkit listrik telah dimulai di Capitol Hill, Taman Spirit of Justice. Saat Hansen tiba, ribuan demonstran telah berseliweran, menggunakan topi hijau dan membawa poster dengan tulisan “Batu Bara Tenaga Usang” dan “Batu Bara Bersih adalah Omong Kosong”. Hansen tiba-tiba dikeliling kamera TV.
“Anda adalah ahli iklim yang paling handal didunia”, salah satu wartawan berkata.”Bagaimana pendapat anda?”
“Aku mencoba menjernihkan hubungan antara ilmu pengetahuan dan politik,” kata Hansen.”Seseorang harus melakukannya”
Sang wartawan merasa tak puas. “Pembangkangan Sipil?” tanyanya, dengan nada mengejek. Hansen berkata bahwa ia tidak bisa membiarkan anak muda saja yang maju. “saya juga harus mendukungnya dari belakang”.
Wartawan ini merasa belum mendapatkan apa yang dia inginkan :”Dengar-dengar anda berencana, bahkan berharap untuk ditangkap, apa benar?
“Aku tak berharap begitu,” kata Hansen.”Tapi saya ingin masalah ini mendapat perhatian, dengan cara apapun yang perlu dilakukan”.
Hansen berusia enam puluh delapan tahun, bermata kehijauan, berambut coklat jarang, dan berperangai seperti lelaki yang baru saja kehilangan dompet. (Faktanya memang, dia sering lupa menaruh barang, bahkan mobilnya.) Tiga puluh tahun lalu, dia menciptakan model iklim pertama didunia yang dia sebut Model Zero, yang dia gunakan untuk memprediksi sebagian besar apa yang terjadi pada iklim saat itu. Seringkali dia disebut sebagai “Bapak Pemanasan Global”.
Kesimpulan Hansen sebagian berasal dari hasil permodelannya dan sebagian dari observasi ilmuan yang lain, bahwa ancaman pemanasan global jauh lebih besar, bahkan lebih dari yang ia duga. Karbon dioksida tidak hanya mendekati level berbahaya, tapi sudah dalam bahaya. Kecuali beberapa langkah segera dilakukan, termasuk menutup seluruh Pembangkit Tenaga Batu Bara dalam dua dekade mendatang. Planet ini harus berkomitmen untuk berubah dalam skala masyarakat yang lebih luas.”Masalah ini dalam keadaan darurat,”kata Hansen.
Hansen merubah perhitungannya, hal inilah yang mendorongnya untuk terlibat dalam demonstrasi di Washington. Ilmuan tua biasanya tak melakukan hal ini. September lalu, dia pergi ke Inggris untuk menjadi saksi atas nama aktivis anti batu bara yang tertangkap ketika memanjat cerobong asap untuk mengecat pesan kepada Perdana Menteri. (Mereka dibebaskan.) Sebelumnya dalam kongres komite khusus tahun lalu, Hansen menegaskan bahwa perusahaan berbahan bakar fosil sudah diketahui menyebarkan informasi yang salah soal pemanasan global. Untuk itu ketuanya “harus diadili untuk kejahatan terhadap kemanusiaan dan lingkungan hidup.” Hansen menyebut kereta batu bara sebagai “kereta kematian,” dan menulis surat kepada ketua Asosiasi Tambang Nasional yang mengiriminya surat soal ketersinggungan mereka. Jika sebutan itu “membuat anda tidak nyaman, ya, seharusnya memang begitu.”
Hansen bersikeras bahwa maksudnya bukan jadi provokatif tapi konservatif : tujuannya hanyalah melestarikan dunia seperti yang kita tahu. “Ilmu pengetahuan sangat jelas,” katanya, jika pada gilirannya dia berbicara pada demonstran yang memblokir pintu masuk Pusat Pembangkit Listrik. “Inilah satu kesempatan kita.”
Anak kelima dari tujuh bersaudara, Hansen tumbuh di Denison, Iowa, kota kecil yang sepi dekat tepi barat. Ayahnya adalah seorang petani, yang setelah perang dunia kedua, bekerja sebagai bartender. Semua anaknya tidur dalam dua kamar. Setelah ia remaja, Hansen juga pergi bekerja sebagai loper koran the Omaha World-Herald. Ketika dia berumur delapan belas tahun, dia menerima beasiswa di Universitas Iowa. Beasiswanya tidak membayar untuk penginapan, jadi dia menyewa ruangan seharga dua puluh lima dolar sebulan dan seringkali makan sereal. Dia tetap melanjutkan kuliahnya hingga mendapat gelar Ph.D di bidang fisika, menulis disertasi tentang atmosfer Venus. Dari sanalah ia bekerja di Institut Goddard untuk penelitan luar angkasa(GISS : Goddard Institute for Space Studies). Pendeknya, dia belajar tentang awan di planet Venus.
Menurut banyak orang dan dia sendiri, Hansen sangat fokus pada penelitiannya dan tidak terlalu tertarik dengan yang lainnya. Kantor GISS tak seberapa jauh dari Universitas Columbia; ketika kerusuhan menutup kampus, tahun 1968, dia nyaris tak tahu. Saat itu komputer di GISS adalah yang tercepat didunia, tapi masih menggunakan kartu memori. “Aku masih disana saat tengah malam, membacai kartu memoriku,” Ingat Hansen. Pada Tahun 1969, dia meninggalkan GISS enam bulan lamanya untuk belajar ke Belanda. Disanalah ia bertemu istrinya, Anniek, seorang Belanda. Pasangan ini berbulan madu di Florida, dekat tanjung Canaveral, sehingga mereka bisa menyaksikan peluncuran roket Apollo.
Tahun 1973, Pioner Misi Venus pertama telah diumumkan, Hansen mulai mendesain sebuah alat — polarimeter yang dibawa saat orbit. Tapi kemudian minat penelitiannya bergeser ke bumi. Tiga ahli kimia- yang kemudian mendapat hadiah Nobel- telah menemukan bahwa chlorofluorocarbons dan bahan kimia buatan lain, bisa merusak lapisan ozon. Jelas akan meningkatkan efek rumah kaca pada atmosfer.
“Kita akhirnya menyadari bahwa perubahan didepan mata kita, dan ini menarik,” kata Hansen padaku. Hansen tertarik pada topik ini, alasannya sama seperti awan di Venus : ada pertanyaan baru untuk riset yang perlu dijawab. Dia memutuskan untuk merubah program komputer yang telah di desain untuk meramal cuaca, apakah akan berguna di masa depan. Apa yang akan terjadi di bumi, contohnya, apakah efek rumah kaca akan semakin meningkat?
“Dia tidak akan mengerjakan topik apapun jika itu tak berguna untuk dunia,” kata Anniek padaku. “Dia hanya ingin mengetahuinya secara ilmiah.”
Ketika Hansen mengerjakan modelnya, terdapat alasan yang baik secera teori untuk percaya bahwa meningkatnya CO2 adalah penyebab dunia menjadi lebih hangat, namun sangat sedikit bukti empirisnya. Rata-rata temperatur dunia telah meningkat pada tahun 1930an dan 1940an; kemudian menurun dibeberapa daerah pada tahuan 1950an dan 1960an. Beberapa dalam proyeknya, Hansen menyimpulkan bahwa terdapat pola baru yang muncul. Tahun 1981, saat dia menjadi direktur GISS. Pada sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah tahun itu, Dia meramalkan bahwa pada dekade selanjutnya akan hangat tak seperti biasanya. (Ternyata benar terjadi.) Dalam makalah yang sama, dia memprediksi pada tahun 1990an akan masih tetap lebih hangat.(Itu juga ternyata benar.) Akhirnya, dia memprediksi bahwa di akhir abad 20, gejala pemanasan global muncul dari banyaknya variable iklim alami. (Ini juga telah terbukti benar.)
Kemudian, Hansen menjadi lebih jitu. Tahun 1990, dia bertaruh dengan seluruh ilmuan dalam satu ruangan tahun itu, bahwa satu atau dua tahun kedepan akan menjadi tahun terhangat. (Dalam sembilan bulan, dia memenangkan taruhannya.) Tahun 1991, dia memprediksi bahwa, akibat letusan gunung Pinatubo di Filipina, suhu global rata-rata akan turun. Beberapa tahun kemudian, yang terjadi kemudian justru suhu malah naik.
Dari awal, pemikiran Hansen diakui oleh para ilmuan.”Karyanya ditahun 70an sampai 90an adalah terobosan yang luar biasa.” Kata Spencer Weart, seorang fisikawan dan sejarawan yang meneliti tentang perubahan iklim, mengatakan padaku. Dia menambahkan, “Ini sangat membantu menguak kebenaran.”
Saya memiliki semua data di laci saya, yang berlabel ‘Makalah Kanon,’ kata Michael Oppenheimer yang seorang ilmuan dari Princeton. “Separuhnya adalah karya Jim.”
Karena akibatnya pada kemanusiaan, karya Hansen juga mendapat perhatian besar seluruh dunia. Makalahnya tahun 1981 diminta menjadi judul utama dalam artikel tentang perubahan iklim di Majalah Times.”Pemanasan Global dapat Meningkatkan Permukaan Air Laut,” dalam beberapa tahun, dia sering sekali diundang berbicara dalam Kongres. Selalu Hansen katakan bahwa ia tak pernah membayangkan bisa ikut andil dalam penelitian ini. Dia seorang yang “buruk dalam berkomunikasi” dan “kurang bijak.”
“Dia pemalu,” kata Ralph Cicerone, Seorang Presiden Akademi Ilmuan Nasionl, yang mengenal Hansen selama empat puluh tahun. “Sejauh yang aku tahu, dia tidak menikmati banyak karya publiknya.”
“Jim tidak terlalu suka melihat siapapun,”kata Anniek Hansen padaku. “Aku katakan,”hanya lihat saja!”
Sepanjang tahun 1980 dan 90an, bukti bahwa iklim berubah dan berpotensi berbahaya, terus tumbuh. Hansen masih berharap sistem politik merespon. Apa yang akan terjadi dengan masalah ozon. Bukti bahwa clorofluorocarbons yang menghancurkan lapisan ozon telah ada sejak 1985, ketika ilmuan Inggris menemukan bahwa lubang ozon berada di atas Antartika. Krisis teratasi atau setidaknya mencegahnya dari kondisi yang lebih buruk oleh perjanjian internasional yang secara bertahap menghapus clorofluorocarbons yang disahkan tahun 1987.
“Awalnya, kerja Jim tak melibatkan aktivis,” kata seorang penulis Bill McKibben, yang mengikuti seluruh karir Hansen selama 20 tahun dan membantunya mengorganisasi demonstrasi anti batu bara di Washington.”Aku pikir apa yang dia pikirkan, sama sepertiku, jika kita telah mengetahui satu fakta dan diketahui banyak orang, maka kemauan masyarakat akan lebih kuat untuk melakukan sesuatu. Namun tentu saja pemikiran ini naif.
Baru-baru ini dalam pemerintahan George Bush, Hansen masih mengira, bahwa mengatakan fakta yang benar kepada orang yang tepat sudah cukup. Tahun 2001, dia diundang untuk bicara kepada wakil presiden Dick Cheney dan pejabat tinggi pemerintah yang lain. Untuk pertemuan ini, dia menyiapkan presentasi secara mendetail dengan Judul “Faktor Dasar Perubahan Iklim,” Tahun 2003, dia diundang Washington lagi, untuk bertemu Dewan Kualitas Lingkungan di Gedung Putih. Saat itu, dia mempresentasikan catatannya tentang inti es yang menunjukkan sensitivitas iklim untuk mengubah konsentrasi efek rumah kaca. Tapi tahun 2004, Pemerintah ternyata hanya berpura-pura peduli soal perubahan iklim. Pada tahun itu, NASA diperintah oleh Gedung putih, dan bersikeras agar semua komunikasi antar ilmuan GISS dan dunia luar, harus melalui politikus yang ditunjuk oleh lembaga. Tahun berikutnya, Pemerintah mencegah GISS untuk mengunggah data suhu bulanan di situs Webnya sendiri, seolah mereka tak mematuhi prosedur. (Data menunjukkan tahun 2005 adalah tahun terhangat.) Hansen juga mengatakan bahwa dia tidak mendapat dana saat rutin di wawancara oleh Radio Nasional. Ketika ia membicarakan soal pembatasan, ilmuan di Lembaga Pemerintah lain mengeluh bahwa mereka diperlakukan sama. Dan sebutan baru lahir : Ilmuan pemerintah telah disusupi pemikiran Hansen (Hansenized).
“Dia telah menunggu seumur hidupnya agar pemanasan global menjadi masalah yang diperbincangkan seperti ozon dulu,” kata Anniek Hansen. “Dan dia sangat sabar. Dia tetap bekerja dan mempublikasikan karyanya, berharap seseorang akan melakukan sesuatu. Dia akhirnya banyak membicarakannya, bukan karena dia mampu melakukannya, atau dia menikmatinya tapi karena ini harus dilakukan.”
“Ketika Jim mengambil keputusan, dan mendapat kesimpulan akhir,” kata Michael Oppenheimer. “Dan dia memerintahkan untuk menghentikan semuanya. Seluruh kerja ilmu pengetahuannya akan sia-sia jika ia tidak ikut dalam aksi politik. “Dimulai pada tahun 2007, Hansen mulai menyurati para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Gordon Brown dari Inggris, dan Yasua Fukuda, Perdana Menteri Jepang. Pada Desember tahun 2008, dia menjadi daya tarik bagi Barack dan Michelle Obama.
“Kesimpulan ilmiahnya, kita harus mengurangi efek rumah kaca saat ini, untuk melestarikan alam dan manusia, itu sudah jelas,” tulis Hansen.”Ini layak dilakukan untuk mencegah bencana iklim, tapi jika kebijakannya konsisten dengan apa yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan.” Hansen memberikan surat itu kepada kepala penasehat Sains Obama, John Holdren, dengannyalah dia akrab, dan Holdren, menjanjikan untuk menyampaikan surat itu. Tapi Hansen tak pernah mendengar kabarnya lagi, dan hingga musim semi dia mulai kehilangan kepercayaan kepada pemerintahan baru ini. (Dalam surel, Holdren katakan bahwa ia tidak bisa mendiskusikan “apa yang aku berikan atau katakan kepada presiden.”)
“Aku harap bahwa Obama mengerti realitas masalah ini dan mengambil kesempatan untuk menggabungkan energi dan iklim juga keamanan nasional dan membuat program yang kuat,” kata Hansen.”Mungkin dia masih akan melakukannya, tapi saya berprasangka buruk.”
Ada banyak cara untuk kehilangan antusias dalam mendiskusikan masalah pemanasan global, dan yang terbaru, tampaknya ditemukan sepanjang waktu. Seperti orang pada umumnya, Hansen seharusnya memahaminya, namun masih saja ia gigih menghubungi setiap orang. Dia sering berceramah; hanya beberapa bulan lalu, dia berbicara dengan pribumi Amerika di Washington, mahasiswa di Dartmout, siswa SMA di Copenhagen, warga yang peduli akan masalah ini, termasuk King Harald di Oslo, pecinta energi terbarukan di Milwaukee, pecinta musik rakyat di Beacon, New York, dan pegawai kesehatan di Manhattan.
Pada bulan April, saya bertemu dengan Hansen ibukota negara bagian di Concord, New Hampshire. Dia diundang kesana untuk ceramah, oleh Aktivis anti batu bara. Publikasi dilakukan hanya beberapa hari sebelum acara ini dimulai. Namun lebih dari dua ratus lima puluh orang hadir. Aku bertanya pada seorang wanita dari kota Ossipee, soal mengapa ia hadi. Untuknya “Ini adalah momen sekali seumur hidup untuk mendengar berita buruk langsung dari sumbernya.” Untuk acara itu, seperti biasa Hansen menyiapkan presentasi power point. Ditampilkan di layar sebelah foto George Washington. Layar pertama menampilkan judul “Iklim mengancam Planet” bersama dengan catatan bahwa “segala pernyataan yang mengacu pada kebijakan adalah opini pribadi.”
Hansen memulai ceramahnya dengan ringkas tapi memancing diskusi yang panjang tentang sejarah iklim, dimulai pada jaman awal Eocene, lima puluh juta tahun lalu. Pada saat itu, kadar CO2 sangat tinggi, dan seperti catatan Hansen, bumi saat itu sangatlah hangat. Saat itu tak ada es di planet ini, dan pohon-pohon palem mulai tumbuh di Artik. Lalu kadar CO2 mulai anjlok. Tak ada yang tahu pasti apa penyebabnya, tapi satu sebab yang mungkin berkaitan dengan proses pelapukan, bahwa lebih dari jutaan millennium, karbon dioksida di udara terikat di batu kapur. Saat kadar karbon dioksida turun, planet menjadi lebih dingin. Hansen memindahkan tampilan di layar, yang menunjukkan bahwa, diantara lima puluh juta dan tiga puluh lima juta tahun yang lalu, suhu laut-dalam turun, lebih dari 10 derajat. Terjadi sekitar tiga puluh empat juta tahun lalu, suhu turun cukup rendah hingga gletser terbentuk di Antartika. Sekitar tiga juta tahun lalu mungkin lebih lama lagi, es permanen mulai terbentuk di Hemisphere utara juga. Lalu sekitar, dua juta tahun lalu dunia memasuki periode glasiasi. Dijaman es ini yang berakhir pada dua belas ribu tahun lalu, kadar CO2 turun lebih jauh lagi.
Apa yang terjadi sekarang, Hansen menjelaskan kepada suatu kelompok di New Hampshire, bahwa sejarah iklim telah bergerak namun berbalik dan dalam kecepatan yang tinggi, seperti kaset tape yang di mundurkan. Karbon dioksida telah dipompa ke udara sepuluh ribu kali lebih cepat daripada cuaca alamiah bisa menghapusnya.
“Manusia sekarang bertanggung jawab terhadap atmosfer,” kata Hansen. Lalu meralat omongannya “Ya, kita yang memulainya, apa kita perlu bertanggung jawab.”
Diantara semua resiko dari sistem yang berjalan mundur adalah lapisan es yang terbentuk akan hancur. Jika ini terjadi, proses ini akan semakin kuat.” Jika kita membakar semua energi fosil dan menaruh semua CO2 ke atmosfer, kita akan mengantarkan kembali planet kita ke jaman tanpa es,”kata Hansen.”Takkan lama untuk sampai kesana, lapisan es tidak tiba-tiba meleleh, tapi itulah yang akan kita lakukan. Lalu jika kita melelehkan seluruh es, permukaan air laut akan meningkat dua ratus dan lima puluh kaki. Tak akan ada yang bisa dilakukan kecuali membuat planet baru.
Tak ada ukuran pasti untuk kadar CO2 yang akan menghancurkan iklim, ilmuan terbaik dan pembuat kebijakan dapat mengatakan dengan frase “Bahaya Gangguan Antropogenik,” atau BGA. Sebagian besar diskusi resmi didasarkan pada gagasan bahwa BGA tidak akan sampai pada level CO2 empat ratus lima puluh bagian per satu juta. Namun Hansen telah menyimpulkan bahwa ambang batas BGA harusnya lebih rendah.
“Kabar buruknya adalah ini semakin jelas bahwa tingkat bahaya dari karbon dioksida adalah tak lebih dari tiga ratus lima puluh bagian per sejuta,” dia mengatakan pada khalayak di Concord. Berita terburuk adalah bahwa kadar CO2 telah mencapai tiga ratus delapan puluh lima bagian per sejuta. (Selama sepuluh ribu tahun sebelumnya sampai revolusi industri, level CO2 adalah sekitar dua ratus delapan puluh bagian per sejuta, dan jika emisi hari ini terus berlanjut, ini akan mencapai empat ratus lima puluh pada tahun 2035.)
Ketika kita telah mencapai kadar CO2 yang sudah terlalu tinggi, ini jelas, kata Hansen, apa yang perlu kita lakukan. Dia menampilkan grafik tentang bahan bakar fosil, batang yang terpendek adalah minyak bumi, yang lebih pendek lagi adalah gas alam dan batang tertinggi adalah batu bara.
“Kita telah menggunakan sekitar separuh minyak,” menurut pangamatannya,”Dan kita telah menggunakan semua minyak bumi dan gas alam yang tersedia, dimiliki oleh Rusia dan Arab Saudi, dan kita tak bisa memberi tahu mereka agar tak menjualnya. Jika kamu melihat ukuran waduk bahan bakar fosil, akan sangat jelas. Satu-satunya cara untuk memaksa menurunkan jumlah karbon dioksida di udara adalah dengan menutup sumber batu bara. Dengan mengatakan bahwa kita telah meninggalkan batu bara di tanah atau kita akan membakarnya hanya untuk pembangkit listrik yang sebenarnya menangkap CO2.”Pembangkit listrik semacam itu sering disebut “Tenaga Batu bara Ramah Lingkungan.” Meskipun ini masih menjadi perdebatan, pada titik ini tidak ada sebenarnya pembangkit listrik tenaga batu bara yang ramah lingkungan. Hanya alasan ekonomi dan teknologi saja, dan tak pernah ada.
Hansen melanjutkan,”Jika ada moratorium untuk setiap pembangkit batu bara baru dan menghapus pembangkit sebelumnya setelah dua puluh tahun, kita bisa kembali ke tiga ratus lima puluh bagian per sejuta, hanya dalam beberapa dekade.”Reboisasi contohnya, jika dipraktekkan dalam skala yang besar, akan menurunkan kadar CO2 secara global, kata Hansen,”Jadi secara teknis memungkinkan,” tapi “harus dilakukan secara tepat.”
Kebetulan, siang itu pemungutan suara dijadwalkan di Legislatif negara bagian New Hampshire, pada proposal yang melibatkan pembangkit tenaga batu bara terbesar di stasiun Merrimack dikota Bow. Pemilik stasiun berencana mengeluarkan beberapa ratus juta dollar untuk mengurangi emisi merkuri dari pembangkit, biaya direncanakan untuk diteruskan kepada pembayar pajak. Hansen mengatakan, harusnya sederhana, matikan saja pembangkit itu, dia menyebut rencana itu “buang-buang duit.” Seorang anggota parlemen yang bersimpati pada pandangan ini telah memperkenalkan rancangan undang-undang untuk lebih mendalami proyek ini, tapi beberapa orang yang datang untuk berbicara dengan Hansen setelah mendapat penjelasan. Akhirnya ditolak oleh serikat pekerja konstruksi dan tampaknya akan kalah. (Kurang dari satu jam, rancangan undang-undang ditolak oleh komite dengan suara bulat)
“Aku anggap anda terbiasa mengatakan kebenaran pada parlemen, lalu mereka mengabaikannya,” kata seseorang kepada Hansen.
Hansen tersenyum kecut.”Kamu benar.”
Dalam lingkungan ilmuan, khawatir akan Bahaya Gangguan Antropogenik menyebar. Selama beberapa tahun lalu, peneliti seluruh dunia memperhatikan tren yang aneh, planet berubah lebih cepat daripada yang dapat diantisipasi. Antartika contohnya, tak diharapkan kehilangan es dalam waktu seabad, tapi penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa lapisan es besar di benua itu menyusut. Diujung lain dunia, Es kutub utara telah mencair dengan kecepatan yang mencengangkan, es pada musim panas sekarang lebih sedikit dari pada empat tahun lalu. Sementara, para ilmuan menemukan zona gersang yang mengelilingi bumi bagian utara dan selatan zona tropis telah meluas dengan cepat daripada yang model komputer prediksi. Ekspansi ke daerah subtropis ini berarti daerah dengan populasi tinggi, termasuk Amerika Selatan dan lembah Mediterania, akan lebih menderita, dan lebih sering mengalami kekeringan.
“Tentu, aku pikir menyusutnya lapisan es kutub utara membuat para ilmuan terkesan,” kata Spencer Weart, seorang fisikawan. “Dan hal semacam ini terus bermunculan. Kamu pikir, apa ada lagi? Ada lagi? Hampir semuanya bergerak kearah yang salah, kearah yang memperburuk dan mempercepatnya.
“Di hampir segala bidang, perkembangan terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan,” kata Hans Joachim Shellnhuber, seorang kepala Institue German untuk dampak iklim. “Kita menuju pada ketidakstabilan iklim dunia, yang menjadi jauh lebih sulit daripada yang masyarakat dan pemerintah sadari,”
Penasihat sains Obama, John Holdren, seorang fisikawan lulusan Harvard, mengatakan bahwa ia percaya”semua bukti yang komprehensif dan terbaru membuktikan bahwa peradaban telah membuat intervensi antropogenik yang berbahaya dalam sistem iklim.”
Ada persetujuan antar ilmuan bahwa batu bara merupakan ancaman paling serius terhadap iklim. Batu bara adalah penyedia listrik di Amerika. Di Cina, angka itu mendekati delapan puluh persen, dan pembangkit listrik tenaga batu bara baru akan beroperasi setiap satu atau dua minggu. Seiring berkurangnya bahan bakar minyak, masih ada banyak batu bara yang bisa dikonversi menjadi bahan bakar cair yang kotor. Sebelum Steven Chu, seorang fisikawan pemenang Nobel, ditunjuk untuk jabatannnya saat ini sebagai sekretaris energi, ia katakan dalam sebuah pidato, “ada banyak karbon di tanah yang bisa “memasak”kita, yang terburuk adalah batu bara.” (Ini adalah kutipan yang disukai Hansen.) Beberapa bulan lalu, tujuh ilmuan iklim terkemuka dari Australia menulis surat terbuka kepada BUMN yang mendesak agar “Tidak ada pembangkit listrik tenaga batu bara baru, kecuali yang memiliki emisi nol” dibangun. Mereka juga merekomendasikan “program mendesak” untuk menghapus pembangkit lama.
“Apesnya, tindakan yang harus dilakukan terhadap perubahan iklim adalah menghentikan seluruh pembangkit listrik tenaga baru bara,” tulis kelompok itu.
Tapi jika kecemasan Hansen tentang Bahaya Gangguan Antropogenik dan batu bara telah diketahui khalayak, dia masih asing diantara para ilmuan. “Hampir setiap orang dalam komunitas ilmiah bersiap untuk mengatakan bahwa jika kita tidak melakukan sesuatu untuk mengubah arah, maka dengan cepat kita akan dalam posisi yang berbahaya,”Naomi Oreskes, ilmuan sejarah dan seorang rektor di Universitas California di San Diego, mengatakan padaku. “Tapi Hansen berbicara lebih keras, dia menggunakan kata sifat, dia mulai berbicara menggunakan bahasa moral, dan itu membuat ilmuan tak nyaman.”
Hansen juga semakin terisolasi diantara aktivis iklim.”Aku lihat Jim Hansen adalah pahlawan diantara pada ilmuan.”Eileen Claussen, Presiden Pew Center untuk Perubahan Iklim Global, mengatakan. “Dia disana awalnya, dia menghadapi berbagai tekanan politik, dan dia menyelesaikan pekerjaan yang hebat, Aku pikir, untuk terus fokus. Tapi aku harap dia akan tetap memegang teguh apa yang dia ketahui. Karena saya tak berpikir dia memiliki pandangan yang realistis, dari apa yang secara politik memungkinkan, atau apa kebijakan yang terbaik untuk mengatasi masalah ini.”
Di Washington, satu-satunya pendekatan untuk mengurangi emisi yang memiliki peluang untuk di realisasikan adalah sistem yang disebut “Cap and Trade”. Dibawah sistem seperti ini, pemerintah akan menetapkan batas atas semua emisi CO2, kemudian mengalokasikan tunjangan dari penghasil emisi, seperti pembangkit listrik dan kilang minyak, yang dapat diperdagangkan di pasar karbon. Secara teori, paling tidak sistem ini mencegah penggunaan bahan bakar fosil dengan membuat penghasil emisi membayar apa yang mereka keluarkan. Sejauh ini telah dicoba di Eropa, tapi hasilnya sejauh ini tak meyakinkan, Hansen berpendapat bahwa itu pada dasarnya palsu. (Dia menyebutnya sebagai “Kuil Malapetaka”) Apa yang perlu, menurut dia adalah menerapkan pajak langsung di emisi karbon. Pajaknya haruslah signifikan dari awal, setara dengan satu dollar per galon untuk bensin dan kemudian naik dari waktu ke waktu.
“Satu-satunya cara absurd yang mengerikan, yang pernah aku dengar adalah, Hansen menulis beberapa Minggu yang lalu, merujuk pada sistem Cap and Trade. Hansen mengatakan “Baik, kamu benar, itu tak baik, tapi kereta telah melewati stasiun. Jika kereta telah berangkat, lebih baik cepat tergelincir, dari pada planet jauh masuk ke jurang lebih dalam.”
Markas GISS, di jalan 112 Broadway, berada di atas restoran milik Tom, yang makan malamnya dibuat oleh “Seinfeld dan Suzanne Vega. Hansen telah menempati kantor yang sama di lantai 7, sejak dia menjadi direktur institut sejak tiga dekade lalu. Suatu hari, di bulan yang lalu, aku mengunjunginya. Hansen mengatakan padaku bahwa dia mencoba mengkomputerisasi data tuanya, namun tetap saja hal yang paling mencolok dalam kantor itu adalah tiga meja kayu yang besar dan setiap permukaan meja itu ditutupi oleh tumpukan kertas
Minggu ini, Hansen tinggal di apartemen hanya beberapa blok dari kantornya, tapi di akhir pekan dia dan Anniek sering pergi ke sebuah rumah abad delapan belas yang mereka miliki di Bucks County, Pennsylvania, anak dan cucunya biasanya pergi mengunjunginya. Hansen menyayangi cucunya, saat sering ngobrol denganku, dia sangat antusias ketika membahas saat dia menanam pohon dengan cucunya di musim semi ini dan dia mengklaim bahwa itulah alasan utamanya menjadi aktivis. “Aku putuskan bahwa aku tak ingin cucuku nanti bilang” Opa mengerti apa yang terjadi, tapi tak melakukan apapun,” dia menjelaskan.
Ketika aku mengunjung kantor Hansen, Kantor Komite Energi dan Perdagangan mulai membuat undang-undang Cap and Trade yang disponsori oleh ketua komite Henry Waxman dari California. RUU Keamanan dan Energi Bersih Amerika berencana memotong emisi karbon negara itu sebesar tujuh belas persen pada tahun 2020. Ini adalah Undang-undang yang paling signifikan yang telah dicapai sejauh ini di DPR. Hansen menunjukkan bahwa undang-undang tersebut secara eksplisit memungkinkan pembangunan pembangkit batu-bara baru, jadi kalau sampai disahkan maka semua ini tak ada artinya. Maka lebih baik kalau RUU itu dibatalkan, sehingga Kongres dapat”melakukan hal yang lebih bijaksana.”
Aku katakan jika RUU itu gagal, kemungkinan Kongres akan membiarkan masalah ini turun, dan itu yang membuat sebagian besar kelompok lingkungan mendukungnya.
“Ini hanyalah kebodohan organisasi lingkungan di Washington,”kata Hansen.”Faktanya beberapa organisasi ini adalah antek Washington yang tak punya pendirian.”
Hansen berpendapat bahwa politikus dengan sengaja salah paham akan ilmu iklim, dan bisa dikatakan bahwa Hansen juga dengan sengaja salah memahami politik. Untuk menstabilkan tingkat karbon dioksida di atmosfer, emisi global tahunan harus dipotong tiga perempat oleh sesuatu. Untuk bisa menurunkannya praktik pertanian dan kehutanan juga harus berubah secara drastis. Sejauh ini, setidaknya tak ada bukti bahwa negara manapun melakukan langkah yang perlu dilakukan. Sebaliknya, kecenderungannya adalah berlawanan. Hanya karena dunia membutuhkan keseimbangan politik dan ilmu pengetahuan, tak berarti salah satu hal tersebut harus ada.
Pada bagian ini, Hansen berpendapat bahwa sementara hukum geofisika tidak dapat diubah, masyarakat sendirilah yang harus menentukan. Ketika aku katakan bahwa takkan bisa lepas dari pembangkit tenaga batu bara, dia mengatakan, “Kita bisa tunjukkan negara mana yang lima puluh persen lebih efisien daripada kita. Kita mendapat lima puluh persen energi listrik kita dari batu bara. Itu saja merupakan argumentasi yang kuat.”
Lalu bagaimana dengan China dan India?
Kedua negara itu sudah menderita oleh perubahan cuaca yang dramatis, katanya. “Mereka mulai menyadari bahwa, faktanya mereka baru saja menyadarinya.”
“Ini tak realistis,” dia melanjutkan.”Tapi kebijakannya telah mendorong kita pada arah yang seperti itu. Dan, sejauh kita membiarkan para politisi dan orang-orang yang mendukung mereka membuat aturan, seperti “bisnis pada umumnya” berlanjut, atau cubitan kecil “bisnis pada umumnya,” ini tak masuk akal. Jadi kita harus merubah aturannya. “Dia mengatakan bahwa dia pikir, dia akan menghadiri demonstrasi lain segera, di negerinya batubara yaitu negara bagian Virginia Barat.
Ditulis oleh Elizabeth Kolbert, buku terkenalnya berjudul The Sixth Extinction: An Unnatural History pemenang Pulitzer Prize untuk non fiksi tahun 2015
