Kembali

adalah ketika besi berderik tidak berhenti di bawah kaki, tiang-tiang bergeser seirama di balik kaca berdebu, awan kian saru dengan langit tempat ia digantungnya. Pun dari dua ribu kaki di atas Bumi dimana ransel-ransel penuh terisi cerita, hati-hati penuh diduduki nelangsa, dan negeri-negeri nampak kerdil bergerak menjauh menemani larut yang kian semburat. Sementara agenda bersampul kulit bertemu dengan tinta setelah kertasnya mengering terlalu lama, bersama meja tulis yang disapa tuannya setelah kehilangan taulan sejak entah kapan, lalu sebagian kamu yang dikunci kini bernafas lagi pelan-pelan.

Ia adalah sederhana, bagaimana jagat raya menuntun pulang pada pertemuan. Seperti pula bahasa yang bisu dengan gestur malu milik dua pasang sepatu coklat dan ungu di bawah meja makan sore lalu, diiring dialog tentang jalan berlubang, keramik marmer, trotoar sempit yang tidak ramah, serta rak di beranda pada sembilan puluh pagi tanpa satu sama lain.

Ia tidak pernah lebih rumit dari kelabu yang memayungi kota, mengantar yang mengelana ke angkasa untuk pulang menyuburkan rumah.


Originally published at frequencylocked.tumblr.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.