The Transition

Jika kita melihat sejarah tentang wealth creation yang telah dilakukan oleh manusia sebagai sebuah peradaban, berbagai macam bentuk sistem ekonomi dan politik yang kita miliki merupakan sebuah respon terhadap permasalah yang berkaitan erat dengan alokasi sumber daya yang terbatas, — sebuah respon terhadap fenomena kelangkaan.

Tentunya fenomena ini secara natural menimbulkan sebuah gagasan bahwa akan ada seseorang yang ‘punya’ dan ‘tidak punya’. Hal ini dianggap sebagai hukum alam dan menjadi sesuatu yang tidak kontroversial. Yang tinggal menjadi pertanyaan adalah siapa yang bisa melanjutkan permainan dan siapa yang tidak, serta bagaimana cara kita menentukannya.

Banyak cara yang telah diarungi untuk menentukan hal tersebut, dan neo-liberalisme nampaknya menjadi sebuah sistem yang dianggap paling efektif dalam responnya terhadap masalah pengalokasian resource yang langka. Logikanya sederhana: siapapun yang paling kapabel dalam permainan akan mendapatkan reward yang paling besar, sementara siapapun yang tidak bisa melakukannya adalah mereka yang tidak mendapatkan apapun.

Ketika sistem ini berjalan secara ideal, dihasilkan sebuah skema motivasi yang tidak kenal belas kasih, namun sangatlah efisien. Jika menginginkan kekayaan dan kemakmuran, anda tahu apa yang harus dilakukan: berkerja keras untuk memproduksi dan menguasai resource yang langka. Berkompetensi untuk menjadi yang terbaik dalam permainan kelangkaan. Dengan sistem ini, dihasilkan sebuah stimulasi produktivitas di level individu dan mampu membuat semua individu terpacu (dan terpaksa) untuk menggunakan usaha dan kemampuan terbaik mereka untuk mengejar “kesuksesan”, -untuk diri mereka sendiri dan sebagai konsekuensinya dapat menciptakan kemakmuran di level masyarakat secara luas. Tidak diragukan lagi, sebuah sistem yang menjadi salah satu penggerak utama dalam wealth creation, walaupun terdapat sedikit pengorbanan integritas pada sistem dengan manipulasi dan penyalahgunaannya.

Akan tetapi, memasuki abad ke-20 dengan kemajuan teknologinya yang semakin cepat, banyak hal-hal penting mengalami pergeseran. Banyak resource yang dulunya langka menjadi semakin tidak langka. Sekarang kita mampu untuk memproduksi cukup makanan untuk semua orang yang tinggal di planet ini. Kelaparan bukan lagi merupakan fungsi dari kekurangan — namun menjadi fungsi dari sistem yang kita gunakan. Hal ini menjadi konsekuensi dari pilihan manusia dibanding dengan hukum alam.

Kita berada pada sebuah transisi, dari sebuah dunia yang didominasi oleh kekuatan kelangkaan ke dunia yang didominasi oleh kekuatan kelimpahan. Transisi ini merupakan hal yang sangat penting dan harus dipahami dalam konteks.

Kelimpahan bukan hanya berarti mempunyai banyak hal. Konsep kelimpahan disini merupakan hal yang diangkat dari fondasi yang berbeda. Ketika kita mengatakan resource yang langka, — hal ini menunjukkan sebuah dinamika benda “rivalrous”. Seperti namanya, artinya kita akan melakukan rival antar sesama untuk memiliki benda tersebut. Jika saya mempunyainya, anda tidak dan jika sudah dikonsumsi, benda itu hilang, selamanya. Makanan, air, dan energi merupakan contoh hal/benda yang “rivalrous”. Tentunya hal-hal/ benda tersebut sangat penting untuk kehidupan kita, namun perlu diperhatikan bahwa dinamika “rivalrous” ini bukanlah satu-satunya bentuk yang ada. Mulai abad ke-20, dinamika tersebut bisa kehilangan posisinya sebagai sebuah hal yang dianggap paling penting.

Kelimpahan ditemukan didalam dinamika yang “anti-rivalrous”. Jika saya mempunyainya, anda juga bisa mempunyainya tanpa saya kehilangan kepemilikan, dan ketika semakin banyak orang yang mempunyainya maka semakin kuat dan bernilai hal tersebut, layaknya sebuah network effect. Bahasa, matematika dan gagasan. Informasi serta sumber daya terbarukan. Kelimpahan bukan merupakan upgrade dari fenomena kelangkaan, hal ini merupakan sesuatu yang benar-benar berbeda dan membutuhkan sebuah sistem ekonomi dan politik yang juga berbeda dari yang telah ada. Sebuah sistem yang berbeda dengan sistem dimana proses pembuatan, pendistribusian, dan pengendalian terhadap benda “rivalrous” telah menciptakan banyak organiasi sosial yang telah membentuk kehidupan manusia sampai sekarang.

*see original source here