Proposal Kepada Tuhan


Hari ini, tepat 1 tahun yang lalu Engkau panggil Bapakku kembali.
Teringat semua memoriku tentang Bapak.
Ku ingat . . . makan berdua terakhir kita. Pagi-pagi. Di warung Gudeg depan supermarket Giant Magelang. Membicarakan topik santai. Tentang tukang cukur langganan kami yang ingin berjualan seragam sekolah, tentang alat pengobatan baru yang Bapak beli dan coba di rumah, dan tak lupa senda gurau khas keluarga kami. Suasana tenang, nyaman, tak terpikirkan hari ini akan tiba.
Ku ingat . . . ketika Bapak ‘memerkan’ alat yang baru dibeli. Siang-hari. Alat tentang melihat kondisi darah seseorang yang bisa terlihat memalui layar TV. Begitu gembira Bapak bercerita dan memperagakan alat itu, sambil berkata: “Bim, katamu kan entrepreneur harus selalu berinovasi. Nah, ini makanya Bapak beli. Biar ada yang baru di klinik Bekam. Baru mau Bapak teliti alat ini” Kata Bapak sambil senyum-senyum. Dalam hatiku, sama sekali tak menyangka aku, Bapak memperhatikan kata-kataku sampai sejauh itu.
Ku ingat . . . nonton TV berdua terakhir. Malam-hari. Acara komedi kesukaan Bapak. Bapak pun tertidur lebih dahulu. Terdengar suara nafas Bapak yang memang agak tersendat. Aku pun menatapnya pada waktu tidur. Dan tidak sadar aku bertanya dalam hatiku, apakah Bapak sehat? Masihkah besok kita bisa menonton TV lagi berdua?
Ku ingat . . . hari-hari terakhir liburanku. Aku jatuh sakit. Aku membolos kuliah seminggu. Dan Bapak merawatku. Diatur pola makanku, dibekam, dimanjakan dirumah. Memang, pada waktu itu rasanya tak ingin segera balik ke Bandung. Seperti sakit ini sebuah tarikan untuk lebih lama di rumah. Semacam rencana-Mu yang memang baik untukku. Dan ternyata memang benar. Setelah ku sembuh dan berangkat ke Bandung, sesampainya ku di Bandung. Esok harinya Bapak sudah kembali.
Tak terasa sudah 1 tahun kuhidup di dunia ini tanpamu.
Sejauh ini baik. Tapi terkadang aku rindu dan butuh bertemu. Namun, aku juga sadar bahwa inilah yang terbaik. Karena keputusanmu kembali adalah keputusan-Nya.
Sekarang, ku hanya ingin bercerita kepada-Mu. Mengungkapkan isi hatiku. Walaupun aku tahu sejatinya Kau sudah mengerti isi hati ini.
Ku ingin menceritakan dan bernostalgia dengan 10 kalimat Bapak. Dengan momen ketika Bapak bercerita tentang kalimat-kalimat itu yang terus hidup dalam diriku, menemaniku tumbuh dan membentukku sampai sekarang hingga giliranku tiba dipanggil kembali.

1 dari 10 kalimat Bapak
“Menentukan skala prioritas itu bukan hanya dengan feeling atau menakar penting tidaknya. Tapi tentang seberapa besar peran kita dalam sebuah peristiwa.”
Aku ingat sekali momen ketika Bapak mengutarakan kalimat ini. Saat itu aku, Mas Sena dan Bapak sedang dalam 1 mobil, dan tiba-tiba bapak bertanya,”Ini bapak ada rapat dan mengajar (Bapak adalah seorang dosen) dalam waktu yang bersamaan, nah kira-kira kalo Bapak harus milih, milih acara yang mana?”. Waktu itu aku dan Mas Sena sepakat kalau Bapak ikut rapat, karena kami pikir, rapat itu tidak pasti waktu nya, hanya kadang-kadang diadakan, dan kalau diadakan rapat, pastilah itu sebuah hal yang penting. Itu pikiran dan keputusan kami.
Namun ternyata, pendapat Bapak lain. Bapak memilih untuk mengajar. Mengapa? Jika bapak tidak mengajar, maka kelas akan kosong. Peristiwa itu tidak akan jalan bila tidak ada Bapak. Berbeda dengan rapat. Apabila Bapak tidak menghadiri rapat. Rapat tersebut tetap akan bisa berjalan.
Itulah cara Bapak menentukan skala prioritas. Ditentukan dengan seberapa besar peran kita terhadap suatu peristiwa. Kalau kita tidak ada di peristiwa tersebut, akankah tetap bisa berjalan atau tidak? Jika ada satu peristiwa yang tidak hadirnya kita menjadikan acara tersebut tidak berjalan, itulah skala prioritas paling utama.
2 dari 10 Kalimat Bapak
“Lupa itu tidak ada, yang ada itu tidak memperhatikan.”
Bapak marah waktu mengatakan kalimat ini. Pasalnya, aku melupakan pesan Ibuku saat Study Tour ke Bali. Aku lupa membelikan titipan Ibu yaitu salak bali. Ya salak bali.
Mungkin memang terlihat sederhana, lupa membelikan pesanan Ibu yaitu salak bali, tapi menurut Bapak itu kelupaan yang keterlaluan. Aku saja tak menyangka akan semarah itu.
Aku membela diri dengan mengatakan memang benar-benar lupa aku membelikan salak bali, tak ada alasan lain, karena memang cuma lupa saja.
Tapi ternyata lupa itu tidak cuma. Bapak mengartikan bahwa lupa itu bukanlah alasan, lupa itu tidak ada. Yang ada adalah aku tidak memperhatikan apa titipan Ibu. Kalau memang ada resiko lupa, kenapa tidak dicatat? Kenapa tidak dibuat alarm pengingat?
Kalau memang dicatat, itu adalah usaha untuk memperhatikan agar tidak lupa. Jadi, lupa itu bukan sebuah alasan, itu karena aku tidak memperhatikan Ibu. Disitu aku sangat merasa bersalah kepada Ibu.
Oleh karena itu, setiap kecil kegiatanku sekarang yang aku sudah berkata “ya” kepada orang lain, kuusahakan tidak ada alasan lupa. Entah aku catat di-notes HP, ku buat alarm pengingat, atau kulakukan segera mungkin ketika ingat.
Kalo memang tidak bisa, jangan berkata “ya”, bilang saja “tidak”. Itu akan lebih baik dari pada nantinya aku beralasan lupa.
3 dari 10 Kalimat Bapak
“Apa saja boleh, asal bertanggung jawab.”
Kalimat ini kudengar dari mulut Bapak waktu aku masih sekolah di taman kanak-kanak. Waktu itu aku memang sangat hobi jajan. Pada suatu ketika, diajak Bapak ke supermarket untuk belanja bulanan. Aku yang memang jarang ke supermarket dan melihat begitu banyak jajanan terpampang, aku ambil sebanyak mungkin. Bapak sama sekali tidak melarangku. Aku benar-benar dibebaskan.
Sesampainya kita dirumah, aku sesegera mungkin makan satu per satu jajanan yang kubeli. Kubuka satu, belum habis sudah kubuka yang satu lagi, belum habis sudah kubuka lagi yang lain. Sampai akhirnya aku tak kuat menghabiskan jajanan yang kubuka. Waktu itu Bapak menyuruhku untuk menghabiskan. Bagaimana caranya, harus dihabiskan apa yang sudah dibeli dan dibuka itu. Aku tak sanggup.
Saat momen itulah Bapak berkata bahwa aku boleh jajan apapun dan sebanyak apapun, asalkan dihabiskan. Jangan hanya menuruti keinginan saja, tapi lihat juga kapasitas perut.
Bahkan, semakin dewasa ini, aku mendalami peristiwa ini tidak hanya terhenti pada kalimat Bapak “apa saja boleh, asal bertanggung jawab”. Ada makna lain yang bisa diambil, yaitu bahwa kita menjadi manusia itu jangan rakus. Sebanyak apapun kita kumpulkan kekayaan, sehari mungkin hanya berapa ribu yang keluar juga sebenarnya cukup. Lalu kenapa harus menimbun banyak kekayaan?
Cicak saja yang makan lalat atau serangga kecil lain yang didekatnya, kita tidak pernah lihat membawa kantong untuk menimbun lalat. Dia yakin bahwa rejekinya sudah diatur. Kalau memang sudah waktunya makan, nanti juga akan ada lalat yang mendekat. Kalau memang belum waktunya makan, ya mungkin harus lapar dahulu agar nanti waktu makan lebih terasa nikmat.
4 dari 10 Kalimat Bapak
“Sekolah itu untuk mendewasakan”
Ini alasan Bapak mengapa tidak pernah memarahiku saat nilaiku jelek, bahkan memang selalu jelek. Ranking saat SMA saja aku tak pernah lebih bagus dari 21, sedangkan jumlah siswa kelasku 30 orang. Kadang ranking 27 atau 28 pun juga pernah.
Saat mengambil rapot pun tak ada masalah jika hari itu juga aku langsung main bersama teman-teman. Bahkan tak jarang Bapak tidak meilhat nilai rapotku, hanya diletakan begitu saja di atas kulkas.
Kata Bapak, “Sekolah itu yang butuh kamu, bukan Bapak. Jadi kalo ada apa-apa tentang sekolahmu, ya itu urusanmu. Bapak cuma mengarahkan dan memfasilitasi. Kamu sendiri yang harus berpikir bahwa sekolah memang kamu butuhkan, bukan karena disuruh siapa pun.”
Begini lanjut beliau, “Lagi pula, sekolah itu tempat untuk mendewasakan. Bukan untuk mencari ilmu saja. Mencari ilmu bisa dimana saja. Tapi sekolah tempatmu bergaul dengan teman, bersosialisasi dengan teman, menghormati guru, bertanya kepada guru, berorganisasi, mengikuti kegiatan non akademik, mengikuti kompetisi dan hal lain yang berguna untuk mendewasakanmu.”
5 dari 10 Kalimat Bapak
“Jangan terlalu mengharap semua orang akan senang dengan apa yang kita katakan atau pun lakukan”
Kalimat yang menyadarkanku bahwa aku tidak bisa membuat semua orang setuju dengan apa yang katakana atau kulakukan. Ini selaras dengan ajaran agamaku. Bahkan kewajibanku sebagai muslim hanya menyampaikan, tidak boleh memaksakan sesuatu.
Momen kalimat ini ketika aku sedang mengusulkan acara yang cukup besar di kota kecilku, Magelang, kepada Pembina sekolahku. Kebetulan waktu itu aku menjabat menjadi Ketua OSIS SMA.
Segala persiapan telah kulakukan. Survey segala macam, komunikasi dengan alumni, penyusunan proposal, perencanaan anggaran, pembetukan kepanitiaan, pembagian tugas per devisi, timeline kerja, target potensial penjualan tiket, kepercyaan massa siswa SMA ku tentang acara ini akan berhasil dengan dukungan semua teman satu sekolah, dan semua perlangkapan lain yang kiranya dibutuhkan untuk menjalankan acara tersebut. Hingga hanya kurang satu hal, yaitu restu dari Pembina OSIS.
Saat itu ku presesntasikan segala sesuatu yang telah kupersiapkan dan kuperhitungkan bersama teman-teman. Dengan jelas dan tegas semua kendala dan resiko yang mungkin terjadi aku jawab dengan segala persiapan yang sudah matang. Namun, Pembina berkata lain. Aku masih ingat kata-kata itu,”tapi itu semuakan hanya angan-anganmu saja Bim”.
Aku tak bisa menyalahkan siapapun. Kecewa memang. Tapi kucoba cerita dengan Bapak. Bapak berkata,”Jangan berharap semua orang akan suka dan setuju dengan apa yang kamu katakana dan lakukan Bim. Itu memang tugas pembinamu, itulah orang tua.”
Lanjut kata Bapak,”Orang tua itu memang berhati-hati, segala sesuatu dihitung dan diukur dengan matang dengan pengalamannya, karena orang tua hidup lebih lama. Menjadikanlah pendapatnya demikian. Namun, disisi lain kamu anak muda, semangatmu besar, keingin tahuanmu tinggi, gairahmu meluap-luap. Senang berinovasi dan eksperimen dengan hal-hal baru, karena anak muda memang penggerak. Ya memang inilah hidup, ada yang tua ada yang muda. Kalo semuanya tua, gak aka nada perubahan karena semuanya serba hati hati. Tapi kalo semuanya muda, ya hancur dunia ini. Nah, tugasmu memahami itu, agar bagaimana caranya inovasi tetap terlaksana dengan mempertimbangkan segala hal”
Kurang lebih itu yang aku dapatkan dari Bapak.
Dan benar saja, acara kami lancar, terlaksana dengan baik.
6 dari 10 kalimat Bapak
“Ikhlas itu melakukan dengan senang hati, bukan tanpa pamrih”
Kalimat yang unik dan menarik karena beda dengan dengan definisi biasanya. Mengapa demikian?
Bapak bercerita tentang kalimat ini secara tiba-tiba aja, tidak ada momen khusus. Bapak mengatakan,”Ikhlas tu melakukan apa pun dengan senang hati bukan berarti tanpa pamrih. Orang kita ibadah aja masih mengharapkan pahala dan surga, kok tanpa pamrih gimana. Ikhlas itu ya melakukan segala sesuatu dengan senang hati. Mengajar ya dengan senang. Ada masalah, kita sikapi dengan senang hati. Ada apapun yang menimpa Kediri kita, kita hadapi dengan senang hati, itulah ikhlas.”
7 dari 10 Kalimat Bapak
“Pasrah itu bukan berarti menyerah, pasrah itu hanya pada hasil”
Kalimat yang membuatku tenang dalam berjuang. Kalimat yang membuatku yakin bahwa kita hidup memang sudah ada yang menjaga ‘sistem’ agar teratur.
Aku wajib untuk berjuang, memperjuangkan apapun yang patut diperjuangkan. Namun, hasil bukannya urusaku. Dengan hasil aku harus pasrah. Itulah hidup menurut Bapak.
Kalau mengutip kata-kata Cak Nun (Emha Ainun Najib), “Hidup itu memang tempat untuk berjuang, sukses itu tidak wajib. Layaknya kita menanam padi. Kita tanam dengan bibit terbia, dengan pupuk terbaik, dengan irigasi yang cukup dan perawatan yang maximal. Namun, sesempurna apapun yang kita lakukan, yang menentukan panen akan berhasil adalah kehendakNya.”
8 dari 10 Kalimat Bapak
“Makin tua kepekaan akan makin bertambah, selarasnya bertambahnya usia”
Kalimat ini Bapak sampaikan melalui chat.
Pada waktu itu, Ibu ke Bandung karena kakaku sakit demam berdarah sehingga butuh dirawat ke rumah sakit. Sebenarnya, jarang sekali Ibu ke Bandung. Bahkan selama ini baru 2 kali. Saat wisuda kakak dan saat kakak sakit ini.
Pada waktu, Ibu menemani Kakak dirumah sakit, dan aku belum sempat menengok. Tapi Bapak berkomunikasi denganku melalui WA. Bapak berkata,”Mas Bima udah nengok mas Sena belum? Oh ya, bilang Ibu butuh apa, selimut, makan atau apa?”
Aku jawab memang belum, rencanaku besok. Bapak menjawab,”Nah itulah bedanya anak muda sama orang tua hehe. Kepekaan akan semakin bertambah selaras bertambahnya usia.”
Disitu aku mengalami banyak rasa dalam satu peristiwa. Peristiwa ini adalah sebuah romantisme yang sejati, dimana Bapak tidak mau hanya terlihat perhatian kepada ibu dengan menanyakan langsung kebutuhan Ibu, namun Bapak ‘sembunyi-sembunyi’ mengirimkan perhatian kepada Ibu melalui aku. Ketika aku membawakan kebutuhan Ibu, itu sebenernya bukan hanya aku, tapi Bapak dengan romantisme yang hakiki, yang peduli bukan untuk dilihat kalo Bapak peduli.
Peristiwa ini juga sebuah kepedulian yang sejati, kekhawatiran yang pas, dan tentu pembelajaran yang indah buatku, karena peduli tidak harus diketahui, itulah romantisme sejati.
9 dari 10 Kalimat Bapak
“Egois itu penting tapi mengalah juga penting”
Aku memahami kalimat ini dengan lebih luas. Bahwa Bapak mengajarkanku, dua hal yang bertolak belakang pun sama-sama penting. Menjadikan kesimpulanku adalah semua yang ada di alam semesta ini memeliki peran masing-masing dan semuanperan itu penting.
Bapak mencontohkan dengan ceritanya,”Seorang ilmuan itu ya harus egois. Kalo gak egois, ya kalah dengan ilmuan yang lain, ilmu pengetahuan gak akan cepat berkembang. Tapi megalah juga penting. Kalo pengusaha pengen enaknya sendiri, ya gak bisa. Harus bisa mengalah. Mengalah mengambil bagian terakhir, mengalah dengan urusan pribadi.”
Menambah satu lagi makna dalam kutipan kalimat Bapak, yaitu bahwa semuanya akan baik apa bila di tempat yang tepat. Di posisi yang pas. Semua ada porsinya masing-masing. Dan itulah hidup. Tentang menyikapi satu sama lain.
10 dari 10 Kalimat Bapak
“Masalah itu tidak harus diselesaikan, tapi disikapi”
Kalimat yang membuatku tenang dalam menjalani hidup. Karena memang tenang adala tujuan hidup menurutku, bukan bahagia.
Mengapa? Kalimat Bapak aku tafsirkan bahwa hidup itu pasti ada masalah, orang namanya hidup. Nah, kalau memang sudah pasti ada masalah, kenapa harus berusaha menyelesaikan semua? Cukup disikapi. Sesuai dengan ruang gerak, kemampuan dan posisi masing-masing.
Seandainya memang harus menyelesaikan masalah, aku hanya berusaha menyelesaikan, bejuang. Tapi yang menentukan selesai tidaknya adalah Yang Berkehendak. Dan perlu disadari juga bahwa masalah itu selesai barang kali bukan karena usahaku. Tapi karena Yang Berkehendak sayang kepada kita, bahkan terharu melihat perjuangan kita.
Sehingga, cukuplah masalah itu disikapi. Penyikapan masalah bermacam-macam. Mungkin dengan dijalani, didiskusikan, didoakan, dihadapi, atau mungkin dibiarkan dahulu.

Tuhan, kata-kataku mungkin tak bisa mengungkapkan semua isi hati dan pikiran yang kurasakan karena kata-kata ada setelah adanya makna. Jadi maknalah yang terlebih dahulu hadir dan aku manusia hanya berusaha mengungkapkan makna dari kata-kata yang terbatas ini.
Lagi pula, Engkau Yang Maha Tahu pasti lebih tahu isi hatiku dari pada aku sendiri. Sehingga, kutulis ini bukan untuk menjelaskan apapun kepadaMu. Hanya untuk menikmatinya dalam menulis, mengenang-ngenang Bapak dan berada pada peristiwa romantismeku kepadaMu.
Aku ingin memohon kepadaMu Tuhan, bahwa 10 kalimat yang terus hidup dalam diriku ini adalah bukti bahwa Bapak layak untuk mendapatkan kasih sayangMu, mendapatkan ridhoMu dan berada disisiMu. Aku sangat yakin bahwa Engkau menyangi Bapak.
Aku memohon dengan bukti 10 kalimat ini.
Dan Tuhanku yang Maha Segala-galanya, aku mengajukan proposal ini kepadamu sebagai ungkapan rasa rinduku kepada Bapak dan merayuMu agar Bapak berada disampingMu
selalu.
Dari
hambaMu,
anak dari Bapak Budi Ekanto