Seni Untuk Hidup

Bintangbrams
Nov 3 · 6 min read
Gambar dilansir dari forums.getpaint.net

Menjadi manusia merupakan dua kata sederhana yang implementasinya tidak semudah seperti apa yang kita pikirkan, apalagi di jaman sekarang. Tapi sebelum membahas lebih jauh lagi, kita perlu benar-benar paham kalau manusia hidup dalam ruang dan waktu. Berdasarkan dimensi waktu, manusia hidup di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tapi, cepatnya arus informasi sering banget bikin gue sendiri ngerasa gak bisa catch up dengan dunia ini.

Setiap dimensi memiliki maknanya tersendiri, semisal kita adalah bayi yang baru saja dilahirkan, maka mustahil untuk kita bisa langsung berlari. Kita perlu belajar merangkak dengan benar, untuk kemudian bisa belajar berdiri berjalan dengan baik, baru setelah itu kita siap untuk belajar berlari. Begitupula dengan hidup, kita perlu selesai dengan masa lalu kita, untuk bisa benar-benar hadir di masa sekarang. Baru setelah itu kita memikirkan masa depan.

Banyak yang gak sadar kalau proses yang kita lalui dalam kehidupan ini adalah tahapan yang perlu kita jalani satu per satu, bukan satu hal yang sifatnya instan. Gue beranggapan kalau segala sesuatu yang instan atau tanpa peduli apa esensinya, maka sifatnya hanya sementara. Contoh realnya mungkin mirip kayak video-video trending di youtube, twitter, instagram dll Iya sih lu bisa sedikit lebih terkenal, video lu diliat banyak orang, setelah itu?

Menurut gue banyak banget orang yang cuma ngejar ‘terkenal’ aja, jadi banyak yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan itu, meskipun hanya satu atau dua kali. Sukses itu memang perlu persiapan dan kematangan, coba saja lihat sudah berapa banyak video yang viral di negara kita ini… tapi pada akhirnya mereka gak bisa catch up dengan ke’viral’an itu. Contoh yang paling gampang deh, siapa sih yang ga tau Norman Kamaru?

Polisi yang menynanyi dan joget dengan luwes, viral, diundang kesana kemari, sampai pada akhirnya memilih untuk meninggalkan karirnya. Tapi pada akhirnya, iya tidak bisa terus berada di lingkungan ‘atas’. Alasannya? Ya karena itu hanya akibat dari momen dan dia belum siap dengan hal tersebut.

Sayangnya, dalam setiap proses pasti kita akan menemui momen dimana kita belum berhasil (bukan gagal). Dari kegagalan tersebut banyak yang beranggapan kalau dirinya sampah atau tidak berguna sama sekali. Padahal untuk kita bisa menciptakan sebuah sampah saja membutuhkan usaha tersendiri, misal kita perlu membeli botol berisi air mineral, menghabiskan airnya, baru membuang botolnya. Untuk membuat sesuatu benda menjadi sampah yang menurut kebanyakan orang tidak ada nilainya saja membutuhkan uang, usaha, dan waktu. Yang terjadi justru sering kali manusia dengan mudahnya menganggap dirinya sampah dan gagal.

“Gagal hanya akan benar-benar terjadi ketika kita memutuskan untuk berhenti atau menyerah dalam menjalankan sebuah proses.”

Sering kali ancaman yang paling berbahaya bagi diri kita adalah diri sendiri, padahal jelas-jelas kita yang memilih dan memutuskan racun yang akan kita konsumsi. Mungkin kita perlu membiasakan diri untuk melakukan refleksi dan evaluasi atas apa yang sudah kita jalani. Kalau ada yang bertanya “Siapa manusia yang paling jahat di bumi ini?”, mungkin penulis dengan mudah menjawabnya “Manusia yang paling jahat di bumi ini adalah diri sendiri.”

Bagaimana ceritanya, ia berpuluh-puluh tahun hidup tapi tidak benar-benar hidup? Bagaimana ceritanya, ia berpuluh-puluh tahun menjadi diri sendiri tanpa mengenali seperti apa diri sendiri? Bagaimana ceritanya, kalimat negatif, caci maki, dan umpatan itu justru lebih sering datang dari dalam kepala kita sendiri? Bagaimana ceritanya, kita tidak pernah mengapresiasi diri sendiri yang sudah berusaha dan lebih memilih mencari apresiasi itu dari orang lain? Bagaimana ceritanya, kita ingin peduli dengan nasib orang lain tapi dengan diri sendiri saja belum selesai? Kalau kata Bang Uus: Bagaimana ceritanya, kita ingin menjadi orang lain padahal menjadi diri sendiri saja belum becus? ”

Sebagai manusia, mungkin kita perlu lebih jauh lagi melatih beberapa kemampuan yang tidak diajarkan di ‘sekolah’, seperti self awareness, problem solving, dan learning skill (gue kutip dari cuitan bang Iqbal Hariadi) . Dari situ kita akan mengerti siapa diri kita, apa minat dan bakat kita, apa prinsip yang kita yakini dalam hidup, apa kelebihan serta kekurangan kita, apa yang penting dan tidak penting bagi diri kita, dan yang terpenting adalah apa tujuan hidup kita. Dengan demikian, di jaman yang ramai informasi dan serba cepat ini kita bisa meminimalisir perilaku membandingkan diri sendiri dengan orang lain (dalam sudut pandang negatif).

Sedikit berbagi pandangan mengenai tujuan hidup, banyak orang yang menyebutkan kalau tujuan hidup mereka adalah ini, itu, dan sebagainya. Padahal dari definisi tujuan hidup saja mereka belum paham. Analoginya, tujuan kuliah adalah tujuan yang akan kita lakukan selama kita menjalani kuliah. Maka, tujuan hidup adalah satu hal yang akan kita jalani selama hidup. Beberapa misleading yang sering muncul seputar tujuan hidup mungkin seperti ini:

1. Tujuan hidup saya adalah masuk surga! (Ini bagus, tapi surga adalah hal lain setelah kita selesai hidup di dunia. Seperti yang sudah penulis utarakan diatas, tujuan hidup adalah hal yang akan kita jalani selama hidup ini, bukan setelah kehidupan).

2. Tujuan hidup saya adalah menjadi guru! (Ini bagus, mungkin benar, mungkin juga tidak. Tujuan hidup bukanlah sebuah profesi, tapi sebuah profesi bisa merupakan bagian dari tujuan hidup.)

3. Tujuan hidup saya adalah membahagiakan orang tua, menjadi suami atau istri yang baik, dan contoh yang baik untuk anak! (Ini juga sangat bagus, tapi bukankah itu sebuah kewajiban? Jadi, itu juga bukan sebuah tujuan hidup).

4. Tujuan hidup saya adalah memiliki perusahaan unicorn di usia ke 30 tahun! (Ini juga bagus, tapi sayangnya tujuan hidup itu untuk dijalani, bukan dicapai. Analoginya, tujuan hidup merupakan visi besar, dan capaian-capaian tersebut merupakan misi yang kita gunakan sebagai indikator ketercapaian visi kita).

Lalu tujuan hidup itu seperti apa sih? Mungkin akan lebih mudah jika kita memahami analogi ini. Tujuan satu hal diciptakan tidak mungkin untuk hal itu sendiri, misal tujuan sepatu diciptakan tidak mungkin untuk sepatu itu sendiri, melainkan untuk manusia gunakan berjalan. Tujuan utama telepon genggam diciptakan adalah sebagai alat komunikasi yang membantu hidup manusia (terlepas dari fitur lainnya yang bisa juga dimanfaatkan), sejauh apapun telepon genggam berkembang mengikuti ilmu pengetahuan dan teknologi, tujuan utama suatu hal diciptakan tidak akan pernah berubah.

Dari sini kita bisa mendapatkan dua hal penting, pertama tujuan manusia diciptakan tidak mungkin untuk manusia itu sendiri (mungkin ini salah satu alasan kenapa muncul gagasan kalau manusia merupakan mahluk sosial). Kedua, tujuan suatu hal diciptakan itu tidak mungkin berubah, (menurut penulis) tidak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu pada awalnya tujuannya untuk A, lalu ditengah jalan melakukan revisi karena tidak jadi, atau karena gagal. Tujuan hidup setiap orang sejak awal sudah ada dan sifatnya tetap, hanya saja pemahaman kita terhadap tujuan hidup kita yang berubah.

Seberapa penting kita tahu tujuan hidup kita? Dengan kita paham apa tujuan kita, semua tindakan yang kita lakukan akan memiliki makna yang jelas. Kita tahu betul kemana arah langkah kaki kita, kemana tujuan kita, dan bagaimana cara kita bisa mencapai tujuan tersebut. Hasilnya, tidak ada lagi peristiwa salah jurusan kuliah, kerja tidak sesuai passion, dan hidup tidak bahagia.

Dengan tujuan hidup yang jelas, semisal ‘Saya ingin membantu menyelesaikan permasalahan kesehatan di Indonesia’ kita bisa memiliki beberapa profesi. Misal kita bisa menjadi dokter, sekaligus pebisnis di bidang farmasi atau kuliner sehat. Kita bisa menjadi aktivis lingkungan, penulis artikel bidang kesehatan, aktif di komunitas yang peduli dengan kesehatan, atau bekerja di kementerian kesehatan. Untuk bisa hidup dengan baik, kita memang perlu ‘selesai’ dengan diri kita sendiri terlebih dahulu.

Oh iya, beberapa tulisan gue diatas kurang lebihnya terinspirasi dari orang yang udah pernah ngobrol sama gue: Bang Ali, dr. Jiemi, Bang Iqbal, dan Mas Adjie adalah beberapa namanya.

Pada akhirnya, jangan pernah mengeluhkan sebuah proses karena yang terjadi pasti akan berat, menyakitkan, dan memakan waktu. Mungkin masih banyak manusia yang menghabiskan waktu untuk menyesali apa yang sudah terjadi sebelumnya dan mengeluhkan apa yang sedang kita jalani. Gue pernah denger kalimat ini dari Bang Fellexandro Ruby,kurang lebih bunyinya

“Pernah gak kalian mikir gini: Kenapa kita gak memikirkan hal apa yang bisa kita siapkan, lakukan, atau kira-kira perbuatan apa saja yang nantinya (entah 5, 10 atau 20 tahun lagi) bisa membuat kita bilang makasih ya ‘gue di masa muda’, dulu udah ngelakuin ini!”

-Semoga Bahagia-

#IniTulisanKita

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade