Kalau ada tanda petik diantara kalimat, itu tandanya copas ya ges..

“Mahasiswa ambis? Cek dulu
...........
Ada sekelompok golongan kawan-kawan mahasiswa yang menjadi sisi lain tersendiri dari kehidupan kampus. Kawan-kawan kita ini tenggelam diantara orasi para aktivis dan buaian para hedonis.

Dalam perspektif aktivis, kawan-kawan ini tak ubahnya seperti batu. Seakan kuliah hanya untuk akademik, sangat sulit di ajak bergerak. Nama mereka juga sangat asing dalam dinamika pemerintahan kampus, apalagi pergerakan mahasiswa antar universitas.

Di mata para hedonis, kawan-kawan kita ini seperti artefak tua. Tak pernah mau di ajak jalan-jalan atau sekedar mencoba tempat makan baru. Gaya pakaiannya pun ketinggalan jaman. Pantas mereka disebut artefak.

Lalu, di mana peran kawan kita tersebut dalam kehidupan kampus? Hampir tidak ada. Kecuali bagi segelintir orang.
Tetapi, walau di kampus hanya sedikit orang yang mengetahui 'keberadaan' mereka, di rumah mereka adalah pahlawan, rela pergi jauh-jauh merantau meninggalkan gubuk tua di kampung demi memperjuangkan nasib keluarga.
Tak usahlah neko-neko berpikir tentang kondisi bangsa, kondisi ayah emak adik kakak di kampung sudah cukup jadi beban pikiran. Selain itu jg tak terpikirkan sedikitpun dalam otak kawan-kawan ini untuk bersikap konsumtif. Mereka tidak ingin jd anak durhaka dengan bisa makan enak sedang keluarganya di rumah melarat.

Kawan-kawan ini mati-matian mengejar IP tinggi demi bisa melanjutkan sekolah di luar negeri atau bekerja di perusahaan multinasional. Semuanya demi keluarga, bukan untuk bangsa. Untuk apa memperjuangkan sesuatu yang padahal darinya kemelaratan berawal? Entah disadari entah tidak, bangsa yang membuat dan 'merawat' teman-teman kita ini.

Lalu tiba-tiba, macam penampakan setan, muncul orang-orang 'sok' aktivis yang menunjuk-nunjuk ke mereka, mengatakan mereka 'budak asing', 'penjual negara', 'tidak ada idealisme', dan kalimat sepantaran lainnya.

Coba dicek, tabayyun dulu. Pun belum tentu yang menunjuk-nunjuk itu tahan jika diposisikan sebagai kawan-kawan kita ini, kawan yang sudah babak belur dihajar dengan realita bangsa sebenarnya.

Kawan-kawan inilah orang-orang 'syahid' yang berjalan di muka bumi. Kisah mereka juga mungkin lebih penuh semangat ketimbang orasi-orasi mahasiswa yang mengklaim dirinya aktivis.
..........
Kurnia Sandi Girsang
Bekas Pimpinan Umum Majalah Ganesha ITB 2015"

Like what you read? Give Bintang Kusuma Yuda a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.