Mahasiswa: Ambis vs Aktivis

Tulisan ini ditulis berdasarkan opini pribadi dan tidak berdasarkan data yang akurat untuk membuktikannya.
foto :http://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2016/09/08/kecil-demo-hari-ham4-300x249-57d0503b82afbd6477a8da93.jpg?t=o&v=760

Mahasiswa ambis dan mahasiswa aktivis, dua golongan mahasiswa yang jauh berbeda. Dari perspektif mahasiswa ambis, mahasiswa aktivis ialah orang yang hanya mencari eksistensi di kampus saja dan sebenernya tidak tahu menahu tentang realitas bangsanya sendiri. Dari perspektif mahasiswa aktivis, mahasiswa ambis ialah orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan nasib masa depan bangsanya. Tanpa merendahkan salah satu dari kedua golongan ini, saya ingin mencoba mengupas sedikit yang saya tahu tentang kedua golongan ini setelah dua tahun kuliah di institusi yang katanya terbaik bangsa ini.

Mahasiswa ambis terbagi menjadi dua kelompok lagi, mahasiswa ambis golongan atas dan golongan bawah. Golongan atas ini terdiri atas anak-anak orang kaya yang akses pendidikannya lancar jaya sedari tingkat dasar. Golongan atas ini tidak usah pusing-pusing lah memikirkan bagaimana nanti makan malamnya, tidurnya ataupun buku-bukunya. Semua sudah ditangani papa mama. Ohiya, golongan ini biasanya berasal dari daerah perkotaan, kota-kota besar sih biasanya hehe. Golongan yang kedua adalah golongan ambis tingkat bawah. Mereka ambis karena keadaan. Golongan bawah ini saya definisikan sebagai golongan mahasiswa yang kurang mampu, yang mengandalkan beasiswa untuk dapat terus mengenyam pendidikan. Dalam pikiran mereka, asalkan akademik bagus, untuk memperoleh pekerjaan atau beasiswa S2 ke luar negeri dirasa lebih gampang. Ya, ujung-ujungnya golongan ambis tingkat bawah ini nantinya ingin menaikkan derajat keluarga yang ada di kampung.

Lain halnya dengan mahasiswa aktivis, mahasiswa yang satu ini memilih memperjuangkan nasib bangsanya dan berkegiatan demi pergerakan yang lebih baik, katanya. Mahasiswa aktivis ini juga dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan aktivis ori dan aktivis ngehe. Sesuai dengan namanya, mahasiswa aktivis ori memang murni memperjuangkan nasib mahasiswa lain dan tentunya nasib bangsanya sendiri. Namanya ori, saya jarang menemui orang-orang yang seperti ini. Ah mungkin saya saja yang kurang keliling-keliling kampus untuk melihat aktivis ori berkeliaran. Golongan yang kedua adalah golongan aktivis ngehe. Nah kalau golongan ini memang lagi ngetren di kalangan mahasiswa. Aktivis ngehe ini sebenarnya tidak tahu menahu bagaimana kondisi bangsanya sendiri ataupun nasib bangsanya mau dibawa kemana. Terjadi pergeseran niat bahwa aktivis digunakan untuk mencari eksistensi dan popularitas. Eksistensi dan popularitas yang bagaimana? Saya pun tidak tahu.

Namun, dengan adanya mahasiswa ambis dan mahasiswa aktivis ini saya menjadi semakin yakin bahwa dunia butuh manusia-manusia pewaris peradaban yang berjiwa besar membangun bangsanya sesuai bidangnya. Saya mencoba berkhusnuzon bahwa mahasiswa ambis menjadi terbuka pikirannya, tidak berkacamata kuda hanya fokus pada satu hal t anpa melihat lingkungan sekitar dan akhirnya sadar bahwa dirinya dibutuhkan untuk membangun negerinya. Saya juga berkhusnuzon bahwa mahasiswa aktivis nantinya yang akan memegang roda peradaban bangsanya.

Sedikit kegelisahan saya adalah mahasiswa ambis nantinya mengabdikan dirinya untuk bangsa lain karena di negerinya sendiri dirinya tidak dihargai dan mahasiswa aktivis yang awalnya memang berjuang di jalan rakyat mencicipi politik praktis dan idealisme yang awal berjuang untuk rakyat menjadi berjuang untuk kepentingan golongan. Yah, semoga itu semua tidak terjadi di masa kita kawan.

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.