Lagi lari Lagi

Apa sih yang terlintas di kepala ketika mendengar kata ‘lari’?

Latihan kardio? Oh iya, jelas.

Membosankan? Itu betul.

Untuk menurunkan berat badan? Nggak efektif, kecuali lo berniat untuk jadi atlet lari beneran.

Lari dari tanggung jawab / masalah hidup? Klise abis becandaan seperti ini.

Tapi pernyataan terakhir ada benarnya. Paling tidak, untuk gue pribadi.

Di tahun 2017 ini, gue berarti sudah berlari selama kurang lebih 5 tahun (kalau menghitung rekam jejak di app Nike+). Tapi, seperti mayoritas pelari yang motivasinya mengurangi berat badan, aktivitas lari gue selama 3 tahun pertama bisa dibilang sangat fluktuatif. Boro-boro sampai 10 km, sampai 5 km saja sudah mati-matian walaupun saat itu sudah masuk ke catatan waktu yang lumayan bagi banyak orang.

Titik balik gue dalam berlari adalah tahun 2015. Di tahun ini, gue rasanya mengalami banyak hal yang membebani pikiran dan perasaan. Mulai dari urusan pindah kantor, patah hati #yha, dan banyak lagi. Jengah dengan berbagai keribetan saat itu, gue memutuskan untuk berlari lagi and I never look back since then.

Dari pelampiasan, ujungnya jadi kebiasaan, sampai kenekatan.

Jadi nekat karena akhirnya mulai ikut race dengan persiapan yang minim. Di tahun 2015 itu, gue pertama kalinya mengikuti race 10k dan mencatat PB (personal best) saat itu. Setelah itu, gue pun mulai nekat lari hingga jarak Half Marathon walaupun tidak pernah ikut race resmi untuk kategori ini. Puncaknya adalah ketika gue dengan nekat mendaftarkan diri untuk ikut Full Marathon di Singapore pada akhir 2016 lalu. Nekat mendaftar juga atas ajakan teman mendaftar lewat kompetisi online yang membuat gue dan teman gue ini dapat tiket gratis untuk ikut Full Marathon, dapat posisi start terdepan pula. Untungnya finish, walaupun tidak dengan catatan waktu yang membanggakan.

Gue sendiri hampir nggak pernah menentukan tujuan akhir dalam berlari, sesuatu yang ingin dicapai. Dan gue pun nggak ada keinginan untuk naik tingkat ke level ultra marathon karena buat gue jarak segitu sudah menghilangkan kesenangan pribadi gue sebagai pelari, yang ada malah sakit semua badannya. Sempat terlintas keinginan untuk beralih ke triathlon yang secara teknis harusnya lebih ringan daripada Full Marathon, tapi untuk sekarang nampaknya belum bisa kesampaian.

Buat gue, lari adalah salah satu cara untuk menenangkan diri dan mengalahkan diri gue sendiri. Lari buat gue adalah salah satu bentuk meditasi. Mendengarkan setiap langkah kaki, suara napas, dan lingkungan saat berlari itu ternyata hal yang sangat menenangkan. Ditambah lagi dengan keinginan untuk lari lebih cepat lagi dari sebelumnya. Dua hal ini cukup untuk jadi motivasi berlari hingga sekarang ini.

Sampai kapan gue akan berlari? Jujur, gue pun tidak tahu. Yang pasti tidak dalam waktu dekat karena garis finish itu belum terlihat sampai sekarang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.