Bersama Sang Merah Putih di Tokyo Marathon Expo 2017

Tokyo Marathon 2017

Perjalanan Panjang Meraih Cita — Cita


Tahun 2015 saya pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta untuk bekerja di Asuransi Astra. Pada saat itu tidak ada keinginan untuk terjun ke dunia lari sedikitpun. Tetapi, kemudian di hari pertama saya bekerja, di hari itu juga saya bertemu dengan orang yang menurut saya ikut andil dalam perjalanan dunia lari saya kedepannya. Ya, dia adalah Jurian Andika, salah satu tokoh lari di Indonesia yang ternyata founder dari salah satu gerakan paling keren yang pernah saya tahu, yaitu Nusantarun. Di hari pertama itu, saya “diracuni” oleh Bang Jurian untuk ikut Nusantarun, kenapa dia meracuni saya dengan dunia lari, karena sebelumnya saya secara random menceritakan ke dia bahwa selama SMA saya rajin lari, dan alasan saya suka lari adalah karena ditolak berkali — kali ketika ingin mendonorkan darah. Mulai dari darah rendah, sampai kondisi fisik yang kurang baik yang menyebabkan saya tidak bisa ikut mendonorkan darah. Sampai suatu hari ada yang memberikan info bahwa saya harus rajin lari pagi untuk memperbaiki kondisi tubuh saya sehingga suatu hari bisa ikut mendonorkan darah saya untuk orang — orang yang membutuhkan. Singkat cerita, berkat rajin berlari setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah, akhirnya saya bisa mendonorkan darah saya. Saat itu saya merasa sangat bahagia, karena ternyata lari itu menyenangkan dan secara tidak langsung bisa membantu orang lain juga.

Bang Jurian akhirnya memberikan tips dan trik nya untuk bisa berlari dengan benar. Selama beberapa bulan saya di Jakarta, ada beberapa Running Event yang saya ikuti. Dan untuk setiap kategori event (5K, 10K, 10Miles, HM, FM) saya merasakan euforia yang berbeda, terlebih jika saya bisa menembus personal best dari event sebelumnya. The best feeling ever!

Thanks to Bang Jurian yang sudah memberikan ilmu nya kepada saya. Dan saya merupakan orang yang beruntung karena bisa mendapatkan sharing ilmu langsung dari tokoh lari Indonesia. Kesempatan ini tidak akan saya sia — siakan begitu saja.

Saya pertama kali mengikuti race FM adalah di Bali Marathon 2016, itu karena saya ingin ikut serta dalam Nusantarun yang memang salah satu persyaratannya adalah harus pernah ikut race kategori FM terlebih dahulu. Latihan untuk FM memang berbeda dari latihan race denga kategori yang lain, karena Bang Jurian pernah bilang, “Lari FM itu life threatening, yang artinya mengancam hidup lo kalo lo ga serius latihannya. Bayangin aja, sejarah lari marathon itu sendiri seperti apa, seorang prajurit Yunani berlari dari Marathona ke Athena hanya untuk memberikan kabar ke Caesar bahwa Yunani menang perang, dan apa yang terjadi setelah itu? Si prajurit meninggal dunia. Setelah dia berlari sejauh kurang lebih 42 KM.”

Dari situ saya mulai melakukan latihan yang lebih serius. Saya mengikuti training plan yang diberikan Bang Jurian. Sebisa mungkin selama 3 bulan sebelum race saya benar — benar mencoba untuk mengikuti menu training tersebut. Walaupun pada kenyataannya, banyak sekali menu yang tidak saya penuhi, salah satunya yang membuat saya berat adalah latihan long run. Karena tidak banyak waktu saya untuk latihan, hanya weekend yang bisa digunakan untuk long run, seperti kita tahu bahwa long run paling tidak membutuhkan waktu lebih dari 2 jam, untuk weekdays itu susah buat saya sebagai pekerja kantoran.

Untuk FM pertama saya di Bali Marathon 2016, tidak ada target waktu untuk saya, karena memang virgin FM. Berusaha menikmati race adalah cara terbaik untuk bisa finish. Itu yang ada di pikiran saya. Alhasil, 6 Jam 8 menit adalah waktu yang saya butuhkan untuk menaklukan jalanan Gianyar yang naik turun itu. Finish line adalah surga buat saya, dimana ternyata saya bisa finish FM. Saat itu, saya berpikir, slogan impossible is nothing itu benar — benar terjadi di hidup saya, asalkan mau berusaha dan berdoa. Tanpa doa, usaha tidak akan ada artinya.

Setelah Bali Marathon, saya memutuskan iseng — iseng untuk daftar Tokyo Marathon. Tiba — tiba terbersit keinginan untuk meraih cita — cita saya sejak kecil, pergi ke Jepang. Dan kebetulan sekarang saya sudah memutuskan untuk terjun ke dunia lari, Jepang punya World Major Marathon, salah satu event marathon terbaik di dunia, Tokyo Marathon. Dikarenakan banyaknya peminat dari seluruh dunia, dan panitia hanya menyediakan slot sebanyak 35.000 orang, maka sistem lottery pun harus dijalani oleh para calon runners Tokmar. Dari sekian ratus ribu orang yang daftar, saya ada di salah satunya.

Sebetulnya, saya pernah membuat kaos yang isinya adalah saya akan menjadi finisher Tokyo Marathon 2018, karena pada saat saya buat kaos itu, saya belum menemukan cara untuk pergi ke sana, yang ada hanya niat di hati. Tujuan saya membuat kaos itu adalah untuk memotivasi saya sendiri untuk semangat ikut Tokyo Marathon. Siapa tahu ada jalan nanti untuk benar — benar kesana. Tetapi, Allah mengetahui niat kuat saya untuk pergi kesana, dan Allah mengabulkan keinginan saya, bahkan setahun lebih cepat! Memang kalau sudah ada niat, pasti ada jalannya. Alhamdulillah, dan Allahu Akbar!

Tantangan selanjutnya datang, bagaimana saya pergi kesana, yang pasti adalah beli tiket dan akomodasi selama disana bagaimana. Selain tentunya adalah latihan lari. Selama setahun saya menabung dan menghindari pengeluaran yang kurang berguna.

Perburuan tiket dimulai, yang jelas promo ya. Belum sanggup kalau bukan promo. Hehe..

Akhirnya saya mendapat tiket promo untuk berangkatnya Garuda Indonesia dan pulang ke Indonesia nya AirAsia. Setelah tiket di tangan, hal yang harus dilakukan adalah menyusun itinerary, mumpung ke Jepang dan seperti yang saya katakan di atas, itu adalah cita — cita saya dari kecil, saya harus menjelajahi Jepang.

Mindset saya benar — benar harus fokus ke menabung, demi cita — cita dan menjadi wakil Indonesia di Tokyo Marathon 2017, banyak yang harus dikorbankan, salah satunya budget untuk ikut race di Indonesia jadi berkurang, itulah alasan saya mulai memilih — milih race yang akan saya ikuti, karena belakangan ini biaya untuk daftar race di Jakarta khususnya menjadi semakin mahal. Dan sebagai anak paling tua di keluarga sederhana, saya berangkat merantau jauh — jauh ke Jakarta untuk mencari rejeki dan bisa membantu ekonomi keluarga di kampung, jadi jangan sampai untuk mencapai cita — cita pribadi saya, keseimbangan ekonomi saya dengan keluarga di rumah menjadi terganggu. Itulah tantangan terberat yang saya alami, karena mungkin untuk sebagian orang, pergi ke Jepang bukanlah hal sulit, tetapi saya membutuhkan waktu hampir 20 Tahun untuk mewujudkannya dengan usaha dan kerja keras saya sendiri. Ini momen yang sangat monumental di hidup saya.

Masuk 3 bulan sebelum race, saya mulai meningkatkan intensitas latihan, walaupun tetap seperti Bali Marathon 2016, latihan saya masih kurang disiplin. Tetapi berusaha untuk tetap optimis adalah salah satu hal yang sangat membantu selama 3 bulan itu. Seminggu serasa kurang untuk latihan, karena mungkin hanya efektif 3–4 hari untuk latihan, maksimal. Dan hanya ada 1 hari untuk latihan long run. Jujur saya akui, latihan long run itu berat buat saya. Mungkin mental yang membuat berat, walaupun fisik mungkin sanggup, tapi mindset saya belum sepenuhnya benar dalam menghadapi lari jauh. Jika terus seperti ini, akan berbahaya buat saya sendiri karena FM adalah event dimana bukan hanya fisik saja yang diuji, tetapi mental akan berbicara banyak disana. Bayangkan, kalo dalam satu menit saya harus melangkah sebanyak 170 kali, berarti ada berapa langkah yang harus saya lakukan dari Start hingga Finish, yang kemungkinan akan saya tempuh lebih dari 5 jam. Silahkan di hitung sendiri. :p

Dengan keadaan seperti itu, saya pasti akan merasa bosan, melakukan hal yang sama dan dilakukan puluhan ribu kali atau bahkan ratusan ribu. Saya kurang latihan mental untuk training plan FM, dan long run adalah salah satu cara untuk latihan mental, sedangkan saya sulit untuk latihan long run. Disitu saya mulai merasa gugup, bisakah saya melewati jalanan Tokyo sejauh 42KM dengan kondisi cuaca dan lingkungan yang pastinya sangat asing buat saya. Kalau berat, ya memang berat, tapi itu hanya di pikiran, saya belum mengalami nya secara langsung.

Selama training plan, saya juga melatih core sedikit. Hanya seminggu sekali. Saya hindari latihan speed training seperti interval train, dan malah berusaha lari dibawah pace normal saya. Karena menurut pengalaman saya, ketika seseorang berada di bawah pace normal nya lebih dari 10KM maka akan terjadi sesuatu yang kurang nyaman di kaki. Itu terjadi mungkin karena saya lebih sering latihan 5K dan 10K, akibat kurang latihan long run. Dan ternyata, susah sekali lari dibawah pace normal. Butuh beberapa kali latihan untuk bisa melakukannya. Lari FM itu yang dibutuhkan adalah endurance, lebih dari speed. Jika pace normal saya 5.30 untuk 5K dan 10K, pace FM saya mungkin menjadi 6.30 atau bahkan 7.30, yang artinya kaki saya harus menahan untuk tidak lebih cepat dari 5.30. Itu susah, kalau tidak latihan secara rutin.

Selama training plan, ketika saya merasa lelah, merasa seperti tidak sanggup lagi untuk melanjutkan latihan, di kepala saya terus berulang kata — kata “Tokyo, Tokyo, Tokyo!” dan secara tidak sadar, kadang mulut saya juga mengucapkan “Tokyo, Tokyo, Tokyo” selama berlari. Itu sangat membantu untuk membangkitkan mental yang sedang down. Di bayangan saya, terus saya ulang, bagaimana saya melintasi jalanan Tokyo dan dikelilingi oleh ribuan orang yang menyaksikan, bersama puluhan ribu orang yang sama — sama berjuang mencapai garis finish. Sekali lagi, mental memang harus dilatih.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya bersama rekan Astra Runners yang juga berangkat ke Tokyo Marathon2017, Mas Fami, mendapat undangan untuk ikut lari bersama di SCBD, dan disitu kami berdua mendapatkan merchandise eksklusif dari Astra Runners, yaitu sebuah kaos yang di depannya bertuliskan “ASTRA RUNNERS TOKYO MARATHON 2017” dan di bagian punggung nya bertuliskan nama kami berdua, “BINTAR” dan dibawahnya “INDONESIA”. Keren, ini keren, terima kasih saya ucapkan kepada rekan — rekan Astra Runners atas dukungan yang sangat keren ini. Saya merasa benar — benar menjadi wakil Indonesia. :P

Dan hari keberangkatan pun akhirnya tiba, 23 February 2017. Semua perasaan campur aduk disitu; yang jelas sangat bahagia, gugup, takut yang jelas tidak ada kesedihan disitu karena akhirnya kurang beberapa jam lagi saya akan menginjakkan kaki di negara yang saya cita — citakan dari kecil, The Land of Rising Sun, Japan. Suasana semakin tegang ketika pesawat akan take off dari Soekarno-Hatta Airport, malam itu saya ingat pukul 23.30. Selama di pesawat saya berusaha untuk tidur, karena besok pasti akan menjadi hari yang panjang. Salah satu yang harus saya lakukan adalah megambil racepack Tokyo Marathon.

Setelah penerbangan direct 7 jam dari Jakarta ke Tokyo, akhirnya pagi itu saya tiba di Haneda Airport, dan hal pertama yang saya cek adalah weather apps di HP. Benar saja, suhu di Tokyo saat itu menunjukkan 4C. Dalam hati, “Baiklah, yakin nih mau lari besok dengan keadaan seperti ini?”, karena saya tidak latihan sama sekali di udara dingin, bayangkan Jakarta dengan rata — rata suhunya diatas 28C. Ketika berada di conveyor belt menunggu bagasi, saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang ternyata juga ikut Tokyo Marathon, lega rasanya ada yang senasib dengan saya, tapi mungkin mereka lebih berpengalaman dari saya baik lari di kondisi dingin.

Samar — samar saya mendengar percakapan mereka, “Tunggu ntar keluar dari bandara, baru tau bedanya Jakarta sama Tokyo suhu nya, di dalem sini mah emang pake heater”

Omaigat, benar juga, saya sampai tidak berpikir ini masih di dalam ruangan, dan saya tidak terbiasa dengan adanya heater, maklum buat apa heater di Jakarta, yang ada hanya AC pendingin ruangan. Baiklah, saya merasa semakin deg-degan ketika akan keluar dari bandara. Setibanya di stasiun kereta Haneda, saya masih berpikir, kenapa ini AC dingin banget, kenapa di stasiun sebesar ini AC nya bisa sedingin ini. Maklum ini benar — benar pengalaman saya pertama kali datang di negara dengan 4 musim dan datang saat musim dingin. Noraknya muncul.

Kereta adalah transportasi paling efisien di Tokyo, karena jalurnya sangat banyak dan bisa menjangkau di seluruh pelosok Tokyo, kebetulan saya akan menginap di dekat salah satu stasiun di Tokyo. Setiba nya di salah satu stasiun paling besar dan sibuk di Tokyo, bahkan di Jepang, Shinjuku Station, saya pertama kali berinteraksi dengan udara luar secara langsung, dan benar saja, seperti ini kah rasanya 4 derajat C, dan rasanya sama seperti yang saya rasakan di Haneda Station tadi,jadi tadi memang bukan AC, tapi udara dari luar yang masuk. Selama seminggu saya harus bertahan dengan kondisi cuaca seperti ini. Semoga waktu 2 hari ini cukup untuk aklimatisasi sebelum lari di hari Minggu nanti.

Sebaiknya memang sudah memakai perlengkapan musim dingin sebelum keluar dari bandara, terlebih jika memang belum pernah merasakan udara sedingin itu, karena akan mengganggu aktifitas, seluruh badan menjadi kaku. Dan saya salah satu orang yang tidak prepare dengan keadaan seperti itu, hanya memakai jaket dan kaos, celana jeans dan sepatu lari. Setibanya di hostel, yang kebetulan hanya 100m dari Okubo Station (hanya 1 stasiun dari Shinjuku Station), saya langsung mempersiapkan diri untuk menjelajah Tokyo. Kali ini merasakan lebih hangat karena sudah memakai heat tech sebagai pelapis paling dalam, dan beberapa lapis baju serta syall.

Jumat sore, saya menuju ke Tokyo Big Sight, yang terletak di Odaiba, sudah sangat dekat dengan laut. FYI, Tokyo Big Sight adalah finish line dari Tokyo Marathon pertama hingga tahun 2016, dan untuk tahun 2017, finish line nya dirubah di Tokyo Station, dikarenakan panitia ingin world record pecah di Tokyo, tidak lagi di Berlin yang notabene adalah track dengan elevasi paling flat diantara World Major Marathon yang lain. Sehingga, perubahan rute yang cukup signifikan terjadi di Tokmar 2017 ini, dengan elevasi memang lebih landai jika saya lihat dari elevation route yang ada di web resmi nya.

Tokyo Big Sight adalah salah satu exhibition hall dengan arsitektur sangat menarik dan berukuran sangat besar di pinggiran Tokyo. Tempat untuk pengambilan race pack nya ada di lantai 3, dan di pintu masuk nya kita harus memperlihatkan dokumen- dokumen yang di butuhkan untuk pengambilan, yaitu confirmation letter yang dikirimkan ke rumah masing — masing beberapa bulan sebelumnya dan tentunya ID kita, bisa menggunakan passport. Setelah masuk, saya ditunjukkan ke arah paling kiri dari sekian banyak booth pengambilan, booth untuk foreigner memang dibedakan. Sesaimpai nya di booth pengambilan, tidak sampai 2 menit saya sudah menerima BIB dan racepack yang lain kecuali kaos. Dan ketika memasuki booth, ada seorang petugas yang memberikan gelang yang harus dipakai sampai kita melewati garis finish nanti. Gelang ini gunanya untuk memastikan bahwa orang yang mengambil race pack adalah orang yang akan mengikuti race, tidak bisa dipindah tangankan. Setelah menerima racepack, saya disuruh untuk pengecekan BIB, yang letaknya ada di ujung ruangan yang lain, sepanjang perjalana saya ke pengecekan BIB, tidak berhenti para volunteer yang ada disana meneriakkan “Ganbatte, ganbatte, ganbatte” yang artinya selamat berjuang, kepada saya dan pelari — pelari yang lain. Ini yang tidak saya dapatkan di race yang lain. Sungguh luar biasa. Pengecekan BIB selesai, dan saya menuju ke tempat pengambilan kaos. Dengan ini, saya sudah mendapatkan semua race pack yang harus saya ambil. Tidak sampai 10 menit, bahkan mungkin hanya 5 menit, saya sudah menerima race pack nya. Panitia benar — benar memikirkan flow process yang baik untuk para pelari dalam mengambil race pack nya. The best one!

Tokyo Big Sight, Tempat dimana Tokyo Marathon Expo 2017 diadakan

Dan bagian terbaik nya adalah setelah mengambil race pack, pelari melewati Tokyo Marathon Expo, yang menjual barang — barang eksklusif Tokyo Marathon 2017. Mulai dari Tokyo Marathon Cookies yang diatasnya tergambar rute lari, handuk, bolpoin, name tag, boneka dan masih banyak lagi. Dan saya tidak melewatkan untuk mampir ke booth ASICS, disana benar — benar surga untuk pecinta lari. Mulai dari sepatu limited edition Tokyo Marathon 2017, puluhan desain kaos eksklusif Asics Tokyo Marathon, jaket, celana, tas, topi, kaos kaki, apapun yang ada hubungannya dengan lari, dan secara eksklusif dijual disana. Sayangnya karena saya datang di hari kedua expo, banyak barang yang sudah habis ukurannya, jadi saya sarankan jika ingin membeli barang — barang disini, datang di hari pertama dan pagi hari. Karena itu adalah sasaran utama dari pelari maupun non pelari dari seluruh dunia. Tidak hanya Asics, tapi masih sangat banyak brand lain yang mengisi booth disana, memang Asics yang paling besar karena selaku sponsor utama. Saya memutuskan untuk membeli 2 buah kaos titipan dari seorang teman dan untuk saya sendiri saya membeli windbreaker Tokyo Marathon 2017 edition. Lumayan buat menghalau dingin selama di Jepang.

Hari Sabtu pagi saya mencoba untuk jogging di sekitar Shinjuku, dengan suhu masih sekitar 3–4 derajat, ternyata benar, saya tidak merasa haus karena memang tidak panas suhu nya, tidak seperti di Indonesia, tetapi itu yang berbahaya, tubuh saya merasa lemas karena dehidrasi, jadi walaupun merasa tidak haus, saya harus tetap cukup minum. Tantangan yang lain jelas adalah otot saya terasa sangat kaku, terasa nyeri di beberapa sendi kaki, karena serangan udara dingin. Sepertinya besok saya harus memakai heat tech untuk mengurangi efek udara dingin ini dan kenapa saya memilih heat tech, karena sangat nyaman dipakai untuk berlari, tidak mengganggu gerakan saya ketika berlari. Untuk FM, yang dibutuhkan adalah kenyamanan selama berlari. Hari itu saya hanya berlari 7K, dan sudah merasakan apa yang akan saya alami besok. Saya berharap karena besok start pukul 9 pagi, suhu udara akan sedikit lebih hangat dari 4 derajat.

Selama hari Sabtu itu, saya berusaha menghidrasi tubuh saya dengan baik. Saya meminum air putih satu botol setiap satu jam, itu bertujuan agar besok pagi saya tidak harus banyak minum tetapi tubuh saya sudah mengandung banyak air yang tersimpan, karena jika saya banyak minum besok, saya akan merasa ingin buang air kecil lebih sering ditambah udara dingin yang menambah pemicunya. Setiap melewati vending machine di jalanan, saya selalu membeli air putih, dengan harga rata — rata 130 yen atau 15 ribu rupiah satu botolnya.

Harapan saya selanjutnya adalah besok tidak hujan, karena jika hujan, suhu akan semakin dingin dan selain itu berlari di tengah hujan adalah tantangan tersendiri. Sepanjang hari Sabtu saya mencoba santai dengan jalan — jalan disekitar Tokyo saja. Dan malam harinya saya mencoba memakan Ramen Halal di dekat Shinjuku Gyoen Station. Memang harga makanan halal lebih mahal di Jepang, tapi porsi yang diberikan juga tidak tanggung — tanggung. Sangat cukup untuk bekal esok hari. Ngomong — ngomong soal makanan, disana saya tidak khawatir untuk carbo loading karena di hampir setiap mini market selalu menjual makanan yang mengandung nasi. Bagi orang Indonesia, kalau belum makan nasi namanya belum makan. Bukankah begitu? ☺

Sesampai nya di hostel, biasa, anxious level saya meningkat. Malam sebelum race selalu seperti ini buat saya, apalagi ini Tokyo Marathon. Saya masih belum percaya, walaupun sudah 2 hari disini, saya belum percaya sudah berada di Jepang, negara impian saya, dan besok pagi, kurang dari beberapa jam lagi, saya akan mengikuti Tokyo Marathon, dan menjadi salah satu wakil dari Indonesia. Perasaan bangga dan senang sekaligus cemas tidak bisa saya hilangkan dari pikiran selama malam itu. Cemas apakah saya bisa finish besok? Sudah banyak yang mendukung saya, sudah banyak yang memberikan saya doa, saya tidak boleh gagal, saya harus menyelesaikan apa yang saya mulai.

The day finally comes! Pagi itu saya berangkat dari hostel jam 7 pagi, dan karena hostel saya berjarak kurang dari 2K dari titik start, tidak perlu lagi naik kereta untuk menuju kesana. Ternyata di tengah perjalanan, saya bertemu dengan banyak pelari yang sama — sama menuju ke start line, saya bisa mengenali karena bag yang dibagikan saat race pack collection kemarinlah yang hanya bisa diterima di drop bag race day, otomatis semua pelari pasti membawa bag tersebut. Suhu saya lihat menunjukkan 7–9 derajat. Saya bersyukur, karena mungkin jam 9 nanti akan lebih hangat lagi, sekitar 12 derajat harapan saya.

Saya mendapatkan wave start “J” yang artinya harus berada di bagian cukup belakang untuk bisa menuju start line. Wave A hanya untuk atlet undangan dan beberapa atlet yang benar — benar “Atlet” bukan amatir. Sehingga dibutuhkan waktu sekitar 15 menit setelah gun time berjalan, saya baru melewati start line. Untuk security system nya, saya harus mencari dimana gate dan wave saya berada, akan sangat banyak volunteer yang membawa penunjuk arah, tetapi tidak semua volunteer tersebut bisa berbahasa Inggris, hanya volunteer dengan topi berwarna kuning yang bisa berbahasa Inggris. Saya sempat kesulitan mencari dimana wave J berada, tetapi ada seorang volunteer yang membantu saya dengan bahasa Inggris yang bagus juga untungnya. Untuk drop bag juga sangat mudah mencarinya, tertulis di BIB nomor berapa drop bag saya, wave saya, gate masuk saya,jadi tidak perlu khawatir akan kesulitan.

Ada yang aneh, hari semakin siang kenapa saya merasakan semakin dingin. Ternyata setelah saya lihat di HP, suhu nya malah turun ke 4–5 derajat. Ditambah angin yang berhembus, jadi semakin dingin rasanya. Ketika saya masuk di wave J, sudah ada beberapa orang yang ada di sana, dan saya kembali bertemu dengan sesama pelari Indonesia. Karena kaos belakang saya bertuliskan Indonesia, sehingga mudah dikenali oleh sesama pelari Indonesia. Senang rasanya bertemu orang Indonesia, kami bertiga akhirnya melakukan pemanasan selama beberapa menit, namun waktu start masih sekitar 40 menit lagi. Sulit untuk menjaga badan tetap hangat,sehingga selama itu kami terus menerus menggerak — gerakkan badan dan otot — otot kami agar tidak dingin dan kaku. Pelari yang masuk wave J semakin banyak, dan perlahan rombongan wave depan juga maju, itu menandakan start akan segera di mulai.

Sesaat sebelum start di wave J

MC juga sudah memulai speech nya, terdengar dari beberapa sound system yang memang dipasang di beberapa titik. Helikopter yang tidak ada hentinya berkeliling di sekitar area start, bersiap meliput dan mengamankan area. Ini adalah event besar, salah satu event terbesar dunia, Jepang tidak mau kecolongan sama seperti Boston Marathon beberapa tahun yang lalu, ketika tiba — tiba ada pelaku bom bunuh diri. Keamanan diperketat tetapi saya sebagai pelari merasakan tidak masalah dan justru merasa nyaman karena keamanan pelari benar — benar dijaga oleh panitia dan polisi disana.

Suara tembakan memecah dinginnya udara Tokyo pagi itu. Tokyo Marathon 2017 telah dimulai dan siap atau tidak, aku sudah ada didepannya. Perlahan rombongan yang berisikan orang — orang dari seluruh dunia merangsek maju mendekati garis start. Sekitar 800m dari titik saya menunggu tadi, akhirnya start gate nampak dengan sangat megah di depan saya. Rasa debar — debar sangat tidak terbendung dan rasanya ingin berteriak untuk melepaskan semua perasaan yang ada ini. Semua orang terlihat sangat bahagia, energi positif yang dikeluarkan 35ribu orang ini telah membanjiri seluruh Tokyo. Matahari bersinar sangat terik, tetapi tidak terasa panas. Dan suhu 4 derajat yang saya rasakan sebelum start, sudah tidak terasa lagi. Panas tubuh karena semangat ini sudah mengalahkan dinginnya Tokyo.

Lepas dari start gate, saya langsung melihat kerumunan orang di tepi kiri dan kanan jalan, penuh sesak. Mendukung keluarga mereka, teman, saudara, atau bahkan sekedar mendukung orang yang tidak mereka kenal. Dalam benak saya, di semua marathon akan selalu ada hal seperti ini. Dukungan dari penduduk lokal selepas start. Namun pendapat saya itu, terpatahkan satu kilo demi satu kilo. Sepanjang 5K pertama, saya belum melihat ada spot kosong di kiri dan kanan jalanan Tokyo yang dilewati rute Tokyo Marathon. Kebetulan saya bertemu dengan salah satu pelari lagi dari Indonesia, beliau bergabung dalam RFI, sedangkan 2 orang yang satu wave bersama saya tadi sudah terpisah karena sudah beda pace.

Saya terus bersama bapak yang jujur saja saya lupa namanya, saking asiknya lari. Waterstation pertama baru muncul di KM3, kami melewatkan ini karena memang masih terlalu padat oleh pelari dan belum haus juga, dan ternyata WS kedua adanya di kilometer 11, ini menjadi catatan buat saya karena berbeda dengan race di Indonesia yang setiap 2.5KM ada waterstation. Sudah mulai haus, akhirnya saya harus mampir ke WS untuk meminum isotonik. Saya sudah terpisah dengan bapak tadi. Sesampainya di jalanan Ginza, orang — orang yang berkerumun semakin padat. Ginza merupakan distrik mewah di Tokyo dengan jalanan super lebar, total ada 8 line untuk jalur yang bisa dilewati pelari. Dan dikelilingi gedung — gedung mewah super tinggi. Hampir lebih dari 15KM, dukungan dari orang — orang tidak surut juga, malah semakin ramai. Ini gila! Belum pernah saya mengalami hal seperti ini, kata “Ganbatte, ganbatte, ganbatte” seperti tidak ada habisnya. Seluruh orang berteriak, sangat bahagia, ceria, meminta toss, meminta senyum, menawarkan makanan, minuman buatan mereka sendiri. This is madness! Saya berpikir, apakah akan terus seperti ini sampai nanti finish. Jika iya, saya bisa gila karena bahagia mendapatkan dukungan seperti ini sepanjang 42KM!!

Saat saya melintas di jalanan Ginza yang terkenal

Suhu dingin sudah tidak begitu terasa, matahari semakin terik, dan saya melihat jam tangan yang sudah menunjukkan tengah hari. Walaupun tidak dingin, tapi juga tidak panas, suhu sekitar 10 derajat. Yang perlu diperhatikan adalah, hidrasi yang bagus. Karena dengan kondisi seperti ini, saya yang terbiasa berlari di Indonesia, dengan suhu yang lebih panas, akan merasa haus dan pasti minum, tetapi di Jepang, saya tidak merasa haus, padahal tubuh saya tetap membutuhkan cairan, oleh karena itu sehari sebelum race, saya meminum air putih setiap satu jam satu botol, untuk menghidrasi tubuh saya dengan baik.

Sampai melewati half way, atau 21KM, di setiap WS ada yang berbeda, bukan hanya menyediakan minuman isotonik dan air putih saja. Tetapi ada food station, isinya sangat membuat saya bahagia. Ada buah jeruk, anggur, semangka, melon, strawberry, dan makanan roti isi es krim cokelat (yang membuat selalu berhenti dan mengambil tidak kurang dari 4 :D) serta makanan ringan. Selepas kilometer 21, di pinggir jalan, para penonton semakin membuat saya ingin menangis bahagia. Mereka berteriak “Hamburgeeeeerrr”, dan ternyata banyak yang menyediakan makanan buatan mereka sendiri dan sengaja di suguhkan untuk para pelari, ini luar biasa. Saat itu saya beberapa kali melipir ke pinggir jalan dan mendapatkan sandwich tuna yang rasanya benar — benar enak. Jadi jangan khawatir, ketika kita lapar dan food station ataupun water station masih jauh, penduduk lokal akan selalu ada menyediakan apapun yang mereka punya untuk kita. Hebat! Sugoi!!

Yang lebih gila lagi, di setiap titik keramaian jalanan Tokyo yang dilewati rute marathon ini, akan selalu ada hiburan dari para seniman lokal. Mulai dari bermain genderang khas Jepang, tarian tradisional dari Ibu — ibu, cheerleaders, paduan suara, dan masih banyak lagi. Sehingga baik pelari maupun penonton akan sangat terhibur dengan adanya hiburan ini.

Rute baru yang dilewati ini, melewati beberapa tanjakan yang walaupun tidak terlalu tinggi tapi tetap saja, tanjakan adalah musuh besar para pelari road marathon. Di beberapa tanjakan saya tidak mau memaksakan diri, dan menurunkan pace saya secara drastis, takut jika terjadi kram atau kaku otot, sedangkan jam di tangan saya masih menunjukkan kilometer ke 26, masih panjang. Saya harus sangat bijak mengatur pace. Dan benar saja, di KM 28, kaki saya terasa ada yang aneh, sedikit lagi saya paksakan berlari, pasti otot nya ketarik dan malah akan menghambat saya, seperti yang terjadi di Bali Marathon lalu. Akhirnya saya menepi, dan stretching sebentar, saat itu ada volunteer yang mendatangi saya dengan wajah penuh senyum sambil bertanya “Daijobu desuka?” yang artinya “Apakah kamu baik-baik saja?”, terkejut saya akhirnya reflek menjawab “Hai, daijobu desu, domo arigato”, sambil berjalan pelan saya akhirnya meninggalkan dia.

Setelah stretching tadi, rasanya kaki saya sudah lumayan bisa berlari lagi, walaupun sudah tidak bisa dengan pace normal saya. Karena di Tokyo Marathon ini pelari dilarang membawa spray, saya merasa sedikit kesulitan menahan nyeri di bagian lutut. Tetapi, lagi — lagi penonton membuat saya sekali lagi kagum. Hampir disetiap 200m, ada saja yang menawarkan spray. Ternyata mereka sudah menyiapkan spray untuk pelari yang membutuhkan. Kita hanya menunjukkan bagian kaki mana yang ingin di spray, mereka dengan senang hati akan menyemprotkan spray ke bagian yang kita inginkan. Sungguh ini luar biasa sekali, tidak henti — hentinya saya kagum kepada mereka, dan setiap saya merasa lelah, saya hanya perlu berlari di tepi, dan melakukan higb five kepada penonton yang hampir semuanya melambaikan tangannya untuk meminta toss kepada pelari yang melintas. Saat itu, semangat saya terasa meluap — luap kembali. Domo arigato gozaimasu minna san!!

Jalanan yang dilewati kebanyakan adalah jalan raya dalam kota yang memiliki paling sedikit 6 lajur untuk kendaraan, dan ada juga 8 lajur. Sehingga ketika saya mengambil lajur paling luar, dan melewati tikungan, akan menyebabkan deviasi jarak yang cukup signifikan pada akhirnya nanti. Itu yang harus saya perhatikan untuk marathon berikutnya, racing line. Harus belajar untuk mengikuti racing line yang benar.

Terjadi kehebohan ketika saya melewati Minato, atau daerah dimana landmark paling terkenal Tokyo berdiri, Tokyo Tower. Di dekat taman Tokyo Tower, penonton seperti tumpah ruah, penuh sesak, dengan berbagai macam atraksi yang disuguhkan oleh seniman Jepang, tarian, musik, cheerleaders, semua nya ada. Tidak sedikit dari pelari yang berhenti dan mengabadikan momen tersebut, termasuk juga saya. Yang ada di benak saya adalah, energi positif sejak saya start hingga hampir kilometer marker menunjukkan angka 35, tidak berkurang sedikitpun malah semakin meningkat. Energi yang di keluarkan oleh semua pelari dan penonton, saya merasakan sekali efeknya. Semangat untuk mencapai garis finish kembali membuncah, walaupun dengan keadaan kaki yang semakin tidak kondusif, tetapi mental saya semakin menguat.

Jujur, beberapa kali saya ingin menangis karena terharu. Saya melihat sekeliling saya, ribuan orang dengan semangat berlari menuju garis finish, mungkin ini adalah cita — cita mereka dari dulu. Dari sorot mata mereka, tidak ada yang menunnjukkan tanda menyerah. Dari kakek umur 60 tahun sampai anak muda seumuran dengan saya, semuanya semangat. Saya masih belum percaya, bisa menjadi salah satu dari ribuan orang itu, dan mewakili Indonesia di Tokyo Marathon yang banyak sekali orang dari seluruh dunia ingin mengikuti karena terkenal dengan luar biasanya event ini dilaksanakan setiap tahunnya. Saya tiba — tiba ingat pertama kali lari 5K di Jakarta dulu, 2 tahun lalu. Dan sekarang saya sudah berada di sini, Jepang, negara impian saya, dan mewakili Indonesia untuk berlari di Tokyo Marathon 2017. Tidak jarang saya menyeka air mata selama berlari jika mengingat ini. Flash back selama 2 tahun kebelakang membuat saya tidak kuasa untuk menahan air mata.

Melintasi U-Turn terakhir di kilometer 37, kurang 5KM lagi, dalam benak saya ini gampang, saya biasa lari 5KM, tidak akan ada masalah. Tetapi, justru di sinilah the real marathon dimulai buat saya. Kaki semakin sakit dan berat, walalupun nafas tidak ada masalah. Tapi sedikit saja saya menambah pace, akan selesai lari saya disini. Saya tahan di pace 8, pelan, tapi saya pikir, untuk apa saya memaksa kalau nantinya malah tidak bisa finisih strong. Saya menggunakan metode 500m lari 500m jalan, dan itu sangat membantu. Saya tidak peduli dengan catatan waktu, saya hanya ingin menikmati lari ini. Kilometer 39 terlihat, dan saya melihat jam tangan. Tiba — tiba mental saya langsung drop. Di jam sudah menunjukkan 42KM, dan disini masih 39KM. Itulah mengapa saya menuliskan tentang deviasi jarak diatas tadi. Saya terlalu banyak mengambil lajur terluar.

Disitu, saya langsung berjalan, sepenuhnya berjalan, tidak ada lagi niatan untuk berlari. Harus 3K lagi saya berlari, waktu saya saat itu tercatat 4 jam 45 menit. Mental masih berusaha dibangun kembali, full 1 kilometer saya jalan. Mencoba mencari cara agar bisa kembali berlari, kurang 2K lagi. Tetapi saya belum menemukan alasan untuk kembali berlari. Teriakan penonton yang semakin kencang, tidak lagi banyak menolong. Sampai ada bis berwarna kuning melintas di jalur seberang. Ya, itulah bis yang digunakan untuk mengangkut pelari yang terkena COT di tiap checkpoint.

Tetapi bukan bis nya yang membuat saya takut dan semangat, tetapi ada orang yang masih berusaha berlari, walaupun dengan sangat kesulitan dan tertatih — tatih, tepat di depan bis itu yang memang berjalan sangat pelan. Dalam hati saya, jarak saya dengan bis itu lebih dari 5K, tidak akan saya kena COT, tetapi bagaimana dengan orang itu, sudah pasti dia tidak akan sempat melintasi checkpoint terkahir. Tetapi dia masih berusaha berlari! Sedangkan saya, sudah down dan tidak mau lagi untuk berlari. Apalah saya ini, yang sok keren bilang mewakili Indonesia, mau membanggakan Indonesia, tetapi seperti ini keadaannya. Malu saya. Sungguh itu lecutan semangat yang membuat rasa sakit di kaki ini hilang, pikiran negatif hilang seketika.

Saya memutuskan untuk berlari kembali, dengan pace normal, ajaib. Diluar kendali saya, kaki ini terus berlari, kurang 2K lagi, saya berhasil mewujudkan cita — cita saya disini. Tidak peduli dengan rasa sakit kaki ini, saya terus berlari dan menaikkan pace. Sampai saya tiba di tikungan terakhir, dimana ribuan orang sudah menyambut para pelari yang kurang dari 500M lagi mencapai finish. Kilometer marker menunjukkan “500 M TO GO!” itu menjadi pelecut akhir saya. Dan tidak lama, benar saja, saya sudah melihat atap Tokyo Station yang sangat megah, dengan warna merah bata nya yang khas, dan bentuk bangunan nya seperti istana di film disney, itu sangat megah dan indah. Kilometer marker terakhir pun saya lewati, “195 Meters To Go” yang otomatis, gate finish pun sudah nampak. Sekejap mata saya seperti mimpi dan sudah melintasi gate bertuliskan “FINISH” tersebut.

Ya, saya sudah menjadi FINISHER WORLD MAJOR MARATHON — TOKYO MARATHON 2017

Perasaan yang tidak bisa saya tuliskan disini.

Disamping kiri dan kanan saya, banyak yang menangis terharu, ada yang berteriak bahagia, ada yang terlihat pucat, tapi yang jelas, kita semua sama, berjuang bersama, start bersama, melalui jalanan yang sama, dan menyelesaikan misi yang sama. Kami semua bahagia bukan main. Tokyo Marathon 2017, saya berhasil menaklukkan mu!

Akhirnya saya bisa menjadi salah satu finisher Tokyo Marathon

Jam saya menunjukkan 45KM dan waktu nya 5 jam 16 Menit. Otomatis ini menjadikan personal best saya di kategori Full Marathon yang sebelumnya adalah 6 jam 8 menit di Bali Marathon 2016. Tetapi bukan itu yang saya cari disini, tetapi pengalaman dan rasa puas yang tidak akan bisa saya ungkapkan lewat tulisan. Rasa syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan saya kekuatan sehingga saya bisa mencapai titik ini.

Saya hanya ingin mengatakan,

JIKA SAYA BISA MELAKUKAN INI, MAKA KALIAN SEMUA YANG MEMBACA TULISAN INI JUGA PASTI BISA MELAKUKANNYA. TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BISA. SELAMA ADA KEMAUAN, USAHA DAN DOA, TIDAK ADA YANG MUSTAHIL.

Semoga tulisan dan pengalaman saya ini bisa menginspirasi teman — teman pelari yang lain khususnya dan semua orang yang membaca cerita saya ini.

Terima kasih Ya Allah,

Terima kasih Tokyo,

Terima kasih Astra Runners,

Terima kasih semua yang sudah mendukung saya selama ini

Dan terima kasih untuk mama dan papa ☺

Merah Putih saya kembangkan di Jepang karena saya bangga mewakili Indonesia di Tokyo Marathon 2017