Hal yang membuatku jatuh cinta

Aku mempunyai kecintaan yang besar terhadap langit. Aku ingat pertama kali aku jatuh cinta padanya. Saat itu aku masih berumur delapan tahun, ditinggal sendirian di rumah oleh ibu dan kakak-kakakku. Aku tiduran di bangku panjang di beranda rumahku yang dulu. Rumah itu kecil, tapi memiliki sebuah halaman dan pohon bunga bougenvil besar yang berbunga banyak. Saat itu tengah hari di musim kemarau dan matahari bersinar terik. Semburat cahaya masuk melalui sela-sela daun lebat pohon bougenvil di halaman. Aku menengadah dan saat itulah aku jatuh cinta.

Aku jatuh cinta pada warna birunya. Aku jatuh cinta pada kemegahannya. Aku jatuh cinta pada gelebuk angin yang dibawanya. Aku cemburu pada burung yang bisa mengarunginya. Aku juga jatuh cinta pada kekosongan yang berada di dalamnya.

Sepi. Itulah yang selalu kurasakan ketika menghabiskan berpuluh-puluh menit hanya menengadah dan memandang birunya yang tak bercela. Di antara sepi itu aku menemukan ketenangan, seolah langit berkata, “Aku mengerti.”

Aku kehilangan langitku sekarang. Jarang aku memiliki waktu hanya untuk bengong menatap langit selama satu jam. Satu-satunya hal yang aku tatap adalah layar laptopku yang hampir selalu menyala 24 jam. Aku merindukan langitku.

Tapi kini ada hal lain yang bisa membagi rasa sepiku. Ada manusia-manusia baru yang aku cintai (hampir) layaknya aku mencintai langit. Mereka dapat membuatku melupakan sepi dan merasakan rasanya hidup. Memang jumlahnya tak banyak. Aku hanya takut lama kelamaan aku akan kehilangan mereka seperti aku kehilangan langit.

Liburan sudah dimulai beberapa hari yang lalu dan aku sudah merindukan mereka. Sepi rasanya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.