Carolina

5 Mei 2017

Carolina by tirek

Untuk langit yang sempurna, aku adalah nama yang mengucap setia kepada nama yang memenjara kepala; Carolina. Pesona merah di moncongnya adalah remah surga yang mengasingkan diri, menolak disadari. Aku telah menyingkirkan peragu di diriku perihal mencintainya, mengupayakan ambigu berhenti membelenggu tafsir yang didebat pikir. Dia menumbuk sebagian rasa, meng-iya pada kalimat aku teramat mencintainya.

Kala bintang menyusun tempatnya sendiri, aku yakin akan ada satu purnama yang mengizinkan ku memeluknya. Membalik keadaan, dia mengemis untuk tak kehilangan.

Aku harus memberi tau mu tentang burung suren bapakku yang sialan, aku dipanggangnya tiap malam, katanya aku kesia-siaan yang tuannya beri makan. Dubur anjing memang!

Carolina adalah rahasia antara aku dan ibu, dan sangat berharap ibu tak pernah tau. Aku ingin menelanjangi kata tentang Carolina di samping ibu, namun ketakutan memburu hubungan manis anak dan ibu yang kurawat susah payah sedari dulu.

Carolina adalah alasan kenapa langit kesepian tadi malam. Menyurat malam, bintang izin sakit, walau kami tau ia bohong, maksudnya iri pada Carolina yang sedang bahagia karena kekasihnya pulang, kembali ke peluk debar yang hanya untuk lelakinya seorang.

-Nandang, menjadi kepala sekolah adalah impiannya.-