KOMUNIKASI AWAN DAN MATAHARI, TERANG DAN GELAP, dan BULAN DAN BINTANG

Kisah satu hari. Kesejukan kala pagi. Dimulai dari timur, Sinar mentari hangat ala pagi perlahan bangunkan kehidupan bumi dan terkadang teduh tertutup oleh gelombang kapas-kapas langit bumi yang bergerak dipandu angin. Tiba siang menampakkan level tertinggi terik mentari hingga perlahan sinarnya mengumpat sambil mengintip dibalik bumi bagian barat, tanda sore hari tiba. Angin kembali terasa membawa kapas langit bumi menghilangkan sebagiannya dari langit, sebagian kapas langit bumi lainnya disandingkan menghias mentari sore bersama jingga kala senja. Tampak indah bumi pertiwi saat senja. Perlahan jingga berganti gelap sampai rembulan menampakkan sabit manisnya. Rembulan tersenyum sepanjang malam itu, sangat tampak ia bahagia hingga mentari terbit tertanda oleh sinarnya terang malam ini dan tak ada kata mendung. Mentari sebagai matahari dan kapas langit bumi sebagai awan, terang dan gelap, bulan dan bintang, mereka membuat percakapan kecil.

“hey awan, jauh disana ada seseorang yang ingin bekerja untuk mencari nafkah, lihat!. Coba kau teduhkan dia”

“ya, dia seorang ayah serta suami yang pekerja keras, tidakkah sehat ketika pagi terkena sinarmu matahari? munkin sesekali aku akan meneduhkan dia”

sorepun datang, entah.. hukum rotasipun terjadi setiap harinya…

“hei terang, waktumu untuk bersinar telah usai!, sekarang bergantianlah denganku, aku yang akan melanjutkan.”

“baiklah, tidakkah ada waktu untukku sebentar saja?”

“seperti biasa kita mempunyai waktu untuk bergantian, esok hari kau boleh melanjutkan penerangan di pagi hari untuk mereka melanjutkan hidup, biarkan mereka beristirahat dengan cahayaku diwaktu malam.”

bulanpun mulai menerangi bumi, rotasipun memunculkan bintang-bintang sebagai hiasan langit yang indah…

“hei bulan, cahayamu indah, bumi tidak menjadi gelap karna cahayamu. akan ku hiasi langit dengan kerlipku untuk dia yang jauh disana yang sedang mendongengkan anaknya tentang kita.”

Bulan tersenyum dan berkata “baiklah, kita hiasi malam ini bersama”.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.