Lane swaps

Salah satu hal yang membuat LoL sangat berbeda di casual play dan pro level play adalah adanya lane swaps. Meski terkadang membuat game menjadi boring di sisi penonton, lane swap adalah salah satu macro/teori game yang harusnya diketahui dan di terapkan oleh setiap tim pro di League of Legends.

Apa itu Lane Swap?

Lane swap sendiri adalah suatu taktik dimana toplane dan botlane bertukar tempat, dan tidak memulai dengan standar laning.

Secara dasar, laneswap biasanya digunakan untuk:

  • Menghindari situasi dimana botlane tidak dapat berduel 2v2 dengan botlane lawan. Contoh : Ezreal/Janna melawan Lucian/Braum.
  • Mematikan toplaner musuh. Contoh: toplane musuh adalah lane bully seperti Darius, atau toplane musuh sangat jago di lane seperti OPM.
  • Mempercepat game menuju midgame/mengamankan early game untuk team comp tertentu.
  • Out rotate musuh. Setelah laneswap awal, banyak peluang untuk melakukan rotasi dan akhirnya memaksa musuh tertinggal jauh hanya dari rotasi dan objective (tanpa kill).
  • Saat ini seringkali botlane start gromp/krug. Botlane di sisi merah yg harus start gromp sangat dirugikan di 2v2 karena perbedaan damage dan exp dari krug dan gromp. Gromp (1600 hp, 75 ad) memberikan 190 exp, sementara Ancient Krug (1450 hp, 68 ad) dan Krug (500 hp, 32 ad) memberikan 140 exp dan 70 exp. Krugs jauh lebih mudah di kite dan memberikan exp yg lebih banyak, hal ini membuat botlane redside akan kalah cepat ke lvl 2, dan pada pro lvl play, lvl 2 powerspike seringkali di abuse utk mendapatkan early kill atau paling tidak trading yg menguntungkan. Laneswap menghindarkan tim dari hal ini.

Awal Mula Lane Swap

Sebelum lebih lanjut lagi mengenai lane swap, sebaiknya kita mengetahui awal mula dari munculnya taktik ini.

Sejak nerf yang cukup signifikan terhadap dragon di Season 4, tidak ada lagi objective yang patut di perebutkan di map bagian bawah.

Hal ini di manfaatkan oleh tim untuk memilih botlane yang lebih late game oriented, dan menggunakan lane swap untuk menghindari duel 2v2 yang berat di early game.

Apabila dragon masih memiliki value yang tinggi, tentunya tim akan sangat rugi jika melakukan laneswap, dimana tim yg tidak melakukan laneswap akan memiliki kontrol yg lebih pada dragon.

Laneswap makin populer di season 6, dikarenakan dragon awal tidak di anggap terlalu penting, dan tentunya dapat dengan mudah di tukar dengan adanya Rift Herald di map bagian atas.

Selain itu, turret yang cukup lemah di early game juga memungkinkan tim mengambil turret lebih awal, dan secure gold lead dengan melakukan lane swap. Apabila turret coba di defend, tentunya dive akan mudah dilakukan dengan keunggulan jumlah pemain.

Maka dari itu, jawaban utama dari suatu laneswap, adalah melakukan mirror atau hal yang sama di sisi map bagian lainnya. Hanya saja, apabila terlambat dalam memulai rotasi laneswap, maka suatu tim berisiko kehilangan banyak sekali objective dan gold. Oleh karenanya, pergerakan tim di lv 1 sangat menentukan untuk melakukan scouting apakah tim lawan mencoba melakukan lane swap.

Penerapan Lane Swap

Untuk menerapkan lane swap, dimulai dengan gerakan di lvl 1 untuk melakukan scouting dan meletakkan beberapa ward di hutan musuh bagian dalam.

Lane swap yang terbaca oleh musuh, dapat di counter dengan mirroring atau lane swap serupa yang menyebabkan 2v2 tetap terjadi di map bagian atas.

Pada standard laneswap, ADC akan mulai bersama support untuk mengontrol wave. ADC harus mengendalikan wave supaya range minion menumpuk jadi banyak, dan tiba di turret bersamaan dengan cannon wave. Dengan wave management tersebut, maka turret akan cepat hancur, dan juga mendeny banyak exp dan gold untuk musuh.

Di waktu yang bersamaan, jungler dan top memulai dengan duo jungling. Rute jungle harus di rancang sedemikian rupa dimana toplaner harus siap untuk dive turret di saat wave yg di kontrol oleh ADC/support tiba.

Jika toplane terlambat utk datang, maka membuka opsi utk toplaner musuh untuk stay dan mendapatkan exp dan gold.

Praktek laneswap membutuhkan latihan yang rutin dan pemahaman game yang di atas rata-rata. Tim harus sanggup membaca situasi dan adaptasi taktik sesuai dengan apa yang terjadi.

Sebagai contoh, apabila wave yang menuju turret 1 masih cukup utuh dan tidak dapat mati oleh turret 1, maka hal yang paling bijak adalah untuk melanjutkan push ke turret 2 dan melakukan deny exp&gold di turret 2. Apabila wave cukup banyak di biarkan saja dan tidak di deny, maka akan memberikan keuntungan untuk toplaner musuh.

Eksekusi laneswap yang gagal dapat dilihat dari exp dan gold yg di dapat oleh kedua toplaner.

Improvisasi adalah kunci pada laneswap yang selalu kita lihat di pro level play.

Contohnya, team VIT dengan supportnya kaSing, di situasi laneswap selalu melakukan camp lvl1 di midlane. kaSing akan mencoba trading flash miliknya dengan flash midlaner musuh, karena dia tidak akan membutuhkan flash dalam 5 menit ke depan di situasi laneswap. Dengan flash midlaner musuh yang ditukar di awal, maka midlane dari VIT memiliki lane pressure yg lebih tinggi.

Semoga sedikit penjelasan mengenai lane swap ini dapat membantu, dan semoga tim tim LGS mulai lebih mengulik mengenai macro game dari League of Legends di masa mendatang.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Tribekti Nasima’s story.