Rerontokan rambut

Tengah malam Mampang punya kelebihan dan kekurangan dibanding pusat kehidupan otonomi Provinsi Jawa Barat sana. Ia berhawa cocok dengan emosiku, namun tidak dengan kenangan yang tumbuh dan membentuk.

Rerontokan rambut mengotori lantai. Ini pertanda bahwa aku tak andal dalam mengurus diri, walau upaya tengah dilakukan.

Gadis manis berbicara kalau semua ini hanya “rambut kamu saja yang enggak kuat,” sehingga aku mesti mengusahakannya lebih bak. Tapi puan, ingatanku takkan lekang: tentang bagaimana helai demi helai itu menumpuk di sekitar kasur dan bantal.

***

Itu terjadi pada Maret 2015, di mana kemoterapi berefek samping tak sedap. Rambut ikalnya yang tidak menurun pada diriku, perlahan harus berpisah melepaskan diri dari akarnya.

Aku, dia, dan dua orang rumah lain sudah paham konsekuensinya dari awal. Ketika harapan terbaik hendak dicapai, maka nikmatilah proses yang melelahkan.

Dia memilih untuk mengakhiri semua ini, daripada kasur, lantai dan sekitarnya bertaburan rerontokan rambut. Tante datang dan membawa pemangkas andal sejagat Antapani.

Di depan layar TV, ruang tengah, dia duduk dan merelakan rambut indahnya yang memutih dan sempat dipertahankan lewat cat untuk pergi. Aku cuma bisa “aduh”, tak mau dia botak sendirian.

Bersama kekasih, maksudnya mantan kekasih, aku harus tahu kalau aku tak mau dia sendiri. Aku tak mau dia sendiri, aku tak mau dia sendiri, aku ingin menemaninya.

Toh, ini semua cuma soal rambut. Ia fana, kebahagian bersamalah yang selalu kekal.

Aku saat itu adalah aku yang menemanimu. Kita pernah botak bersama, Ma.

Bayangan itu terus menghantuiku, tentang penyesalan dan bagaimana cara menuntaskannya. Jadi Ma, rerontokan rambut di kamar kost Mampang-ku hanyalah upaya Tuhan buat mengenang rambut indahmu, tak lebih tentang diriku.

Sekarang, aku adalah wartawan pemalu dengan rambut serampangan, yang orang bilang seperti tak pernah dibersihkan. Aku adalah wartawan pemalu yang terasing di ranah virtual, memupuk angan tentang etos kerja nan utopis.

***

Semudah itu buat mendapatkan conditioner. Tinggal datang ke acara, memberitakan, lalu inilah ganjarannya; asal tak lebih dari 100 ribu, karena sama saja dengan melanggengkan upaya gratifikasi.

Aku tahu malu, tapi tidak dengan mau. Selagi tak paham dengan keinginan diri, maka rambutku akan terus memanjang dan merontok, tak ikal jua sepertinya.

Tapi toh Ma, yang paling penting, aku cuma tak tahu alasan terbaik untuk memangkas habis rambut. Karena kita sama-sama paham, selain itu adalah permintaan kukuhmu “biar Bobby mukanya kelihatan lebih segar,” aku juga cuma mau botak demi menemanimu.


Jumat, 17 Maret 2017,

Lantai kost Mampang yang dipenuhi rerontokan rambut, akan kusapu di pagi hari.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.