Hasil Survei Kepercayaan terhadap Berita Online

Photo by Sollok29 / CC BY-SA 4.0

Sekitar sebulan yang lalu, saya menulis post di laman Facebook saya berisi sebuah tautan menuju form survei berjudul “Anda Percaya Berita Online?”. Tautan post tersebut dapat dilihat di sini.

Sejak di-post, survei tersebut telah mendapatkan sebanyak 98 respons. Izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengisi!

Pada tulisan ini, saya akan mencoba melihat lebih jauh respons yang telah diberikan dan melihat apakah ada pola-pola tertentu yang bisa kita ambil kesimpulan.

Untuk menjamin transparansi, berikut saya lampirkan tautan menuju respons survei tersebut:

Data tersebut bersifat anonim karena identitas partisipan tidak relevan terhadap survei ini. Bagi pembaca yang ingin menggunakan hasil tersebut untuk keperluan lain, dipersilakan!

Note: Penulis menyadari bahwa 98 respons merupakan jumlah yang tidak banyak, sehingga kesimpulan yang diambil pada post ini mungkin saja tidak mencerminkan keadaan sebenarnya dan tidak dapat digunakan untuk menggeneralisasi pandangan seluruh masyarakat. Motivasi awal dari diadakannya survei ini bukanlah untuk melahirkan sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, namun lebih untuk memuaskan rasa ingin tahu penulis terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam form tersebut. Selain itu, penulis menyadari bahwa tulisan dan hasil survei ini mungkin memiliki bias. Please take this post with a grain of salt.

Outline

Berikut adalah outline pembahasan hasil survei ini. Jika Anda tidak memiliki banyak waktu, silakan langsung ke bagian Kesimpulan dengan mengklik poin nomor 4 (tapi Anda akan melewatkan banyak hal!).

  1. Latar belakang
  2. Let’s break this down!
  3. Pertanyaan demografis
  4. Kesimpulan
  5. Lalu, apa?

Latar belakang

Latar belakang saya melakukan survei ini tertuang dalam deskripsi form survei pada tautan di atas. Mengutip langsung:

Seiring berkembangnya literasi teknologi masyarakat Indonesia, semakin banyak interaksi sosial yang dilakukan melalui internet. Tidak terkecuali jurnalisme. Dulu, orang mengonsumsi berita melalui koran fisik, namun sekarang metode tersebut semakin ditinggalkan. Orang-orang lebih memilih memanfaatkan media online untuk mendapatkan berita terbaru.
Sayangnya, penulis melihat seringkali kita temukan berita-berita yang kurang berkualitas: mengandung kebohongan, keberpihakan, judul bombastis yang tidak sesuai dengan isi berita, dan beberapa ciri lainnya. Hal ini menyebabkan sebagian orang sulit untuk mempercayai berita yang beredar.

Selain itu, ada beberapa motivasi tambahan yang saya juga sampaikan di post pengantar saya di Facebook:

Portal-portal berita yang integritasnya diragukan bermunculan, berisi artikel-artikel yang memicu pertengkaran. Menggiring opini publik ke satu sudut tertentu pada sebuah isu. Dengan informasi yang tumpah ruah, sulit untuk menentukan mana yang benar dan mana yang tidak.
Yang disayangkan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kepercayaan tertinggi (63%) terhadap media [sumber]. Sebagai perbandingan, negara-negara seperti US, UK, Jepang, dan Swedia semua memiliki tingkat kepercayaan di bawah 50%. Ini berarti relatif mudah untuk mempengaruhi pikiran orang Indonesia melalui media.

Ya, pada intinya, saya memiliki anggapan bahwa kondisi jurnalisme online di Indonesia cukup memprihatinkan, dan survei ini ditujukan untuk memberikan insight lebih dalam mengenai masalah tersebut.

Let’s break this down!

Pada bagian ini, kita akan melakukan breakdown pertanyaan-pertanyaan survei tersebut: tujuan yang ingin dicapai dari pertanyaan tersebut serta analisis jawaban-jawabannya.

1. Seberapa sering Anda membaca berita online?

Pertanyaan pembuka ini ditujukan untuk mengidentifikasi kebiasaan responden dalam membaca berita. Bentuk jawaban untuk pertanyaan ini adalah angka 1–4, dengan 1 menandakan sangat jarang dan 4 menandakan sangat sering.

Hasilnya dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik frekuensi membaca berita online

Angka 3 yang mewakili jawaban “sering” atau “cukup sering” memiliki frekuensi tertinggi dengan 40 responden, disusul oleh angka 4 yang berarti “sangat sering” dengan jumlah 33.

Melihat hasil ini, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden cukup sering membaca berita online.

2. Seberapa sering Anda share berita online pada social media Anda?

Melalui pertanyaan ini, saya ingin melihat apakah frekuensi membaca berita online memiliki korelasi terhadap frekuensi melakukan share berita online pada media sosial seperti Facebook dan Twitter. Seperti pertanyaan sebelumnya, bentuk jawaban masih merupakan angka 1–4.

Grafik di bawah menunjukkan hasil dari pertanyaan ini.

Grafik frekuensi share berita pada media sosial

Terdapat 51 responden yang menyatakan “sangat jarang” (angka 1) dan 31 yang memilih “cukup jarang” (angka 2). Hanya 4 dari 98 responden yang menjawab “sangat sering” (angka 4).

Dapat dilihat bahwa dari data yang diperoleh, mayoritas responden sangat jarang membagikan berita, dan responden yang sering membaca berita online belum tentu sering membagikannya di media sosial.

3. Dari mana sumber berita online utama Anda?

Pertanyaan selanjutnya ingin melihat sumber utama para responden mengonsumsi berita online. Terdapat enam pilihan, yaitu:

  • Mengunjungi situs portal berita langsung (misalnya Detik.com, Kompas.com, dsb.)
  • Dari timeline Facebook
  • Dari timeline Twitter
  • Dari timeline LINE
  • Broadcast chat (Whatsapp, LINE, dsb.)
  • Other (dengan isian singkat)

Dari enam pilihan tersebut, responden diminta mengisi maksimal 2 pilihan.

Hasilnya disajikan dalam grafik berikut.

Grafik sumber utama mengonsumsi berita online

Terlihat bahwa timeline Facebook merupakan sumber utama para responden dengan 63 orang pemilih, disusul dengan mengunjungi situs portal berita secara langsung sebanyak 44.

Terdapat empat responden yang memilih jawaban Other. Satu responden mengisi “situs”, yang menurut saya dapat dikategorikan menjadi pilihan pertama. Responden lain menuliskan “LinkedIn” sebagai salah satu sumber berita utama mereka. Ada juga responden yang menggunakan “aplikasi handphone Guardian”. Responden terakhir menuliskan bahwa sumber utama berita mereka adalah “semuanya”.

4. Manakah situs portal berita Indonesia favorit Anda?

Ini salah satu pertanyaan yang menarik. Saya mencoba mendaftarkan beberapa situs portal berita ternama dan menanyakan mana yang merupakan favorit responden. Responden diperbolehkan memilih maksimal 3 dari pilihan yang diberikan. Terdapat pula pilihan “Saya tidak punya favorit” dan “Other” untuk menampung jawaban lain yang mungkin tidak sempat saya daftarkan.

Grafik di bawah menunjukkan hasil rekapitulasi pertanyaan ini.

Grafik situs portal berita favorit

Kompas dan Detik memimpin perolehan suara dengan masing-masing 32 dan 29 pemilih, disusul oleh CNN Indonesia dengan 20 suara. Cukup banyak (39 orang) responden yang tidak memiliki situs portal berita favorit.

Empat responden memilih “Other”, dengan beberapa media yang disebutkan antara lain “flipboard”, “dailysocial”, “techinasia”, “tirto”, dan “media islam”.

Cukup menarik melihat The Jakarta Post, yang notabene berisi berita dalam Bahasa Inggris, berhasil meraih 11 suara.

Pertanyaan keempat ini sekaligus mengakhiri eksplorasi mengenai kebiasaan responden dalam membaca berita online. Pada pertanyaan kelima hingga kedelapan, saya memasuki topik yang cukup menantang, yaitu persepsi responden terhadap objektivitas dan kredibilitas portal berita online.

5. Secara umum, bagaimana tingkat kepercayaan Anda pada portal berita online di Indonesia?

Pertanyaan ini ingin melihat seberapa percaya responden terhadap berita-berita pada portal berita online. Bentuk jawaban merupakan angka 1–4, dengan 1 menandakan sangat tidak percaya dan 4 menandakan sangat percaya.

Hasil rekapitulasi pertanyaan ini disajikan pada grafik berikut.

Grafik tingkat kepercayaan pada portal berita online

Lebih dari 50% (57 orang) responden menjawab angka 2 yang melambangkan bahwa mereka cenderung tidak percaya, disusul dengan 27 orang yang memilih angka 3. Terdapat 10 orang yang menjawab angka 1 (sangat tidak percaya) dan 4 orang untuk angka 4 (sangat percaya).

Informasi inti dari pertanyaan ini diperoleh dari pertanyaan selanjutnya, yaitu pertanyaan 5a.

5a. Mengapa Anda berpendapat demikian?

Ini merupakan pertanyaan lanjutan dari pertanyaan kelima, dengan tujuan agar responden dapat memberikan alasan mengenai pilihannya tersebut. Pertanyaan ini bersifat opsional, namun 76 responden telah memberikan alasannya.

Jawaban mentah dapat anda lihat pada tautan rangkuman respons. Pada post ini saya akan mencoba melihat pola yang ada dari jawaban-jawaban tersebut.

Satu tema yang cukup sering muncul dari responden yang memilih angka 3 atau 4 adalah mereka cenderung memercayai portal berita ternama yang memiliki reputasi yang baik. Beberapa menyebutkan bahwa ada banyak portal berita yang menurut mereka tidak dapat dipercaya, namun mereka hanya membaca berita-berita dari sumber yang mereka anggap kredibel.

Berikut beberapa contoh responnya:

  • Saya hanya mendengar berita online dari portal yang terkenal kredibel dan akuntabel.
  • Saya cukup percaya pada berita di situs berita tier-1 karena saya yakin beritanya cukup tervalidasi. Namun, saya cenderung untuk membaca beberapa situs berita lain jika ada suatu issue yang tidak saya yakini kebenarannya.
  • Karena mereka harus menjaga nama baik dari media mereka sehingga harus menyuguhkan berita yang memang dapat dipercaya.

Sementara itu, untuk yang cenderung tidak percaya (memilih angka 1 atau 2), ada beberapa kategori jawaban yang dapat ditarik sebagai tema umum.

Sebagian responden menganggap kebanyakan portal berita cenderung bias atau berpihak. Hal ini menyebabkan berita tidak utuh dan harus mencari sumber lain untuk memastikan kebenarannya.

Beberapa contoh respon yang terekam:

  • Berita sebagai bentuk deskripsi fakta sudah disampaikan dengan benar, sayangnya penyampaiannya tidak utuh. Ada bagian yang sengaja dipotong demi menonjolkan tendensi sepihak.
  • Karena manusia cenderung percaya akan hal yang dia ingin percaya. Dan portal berita sering memanfaatkan hal itu.
  • Karena orang tua saya aktif dalam dunia politik, dan mereka sering sekali berkata bahwa media “men-twist” berita tersebut, atau menutupi sebagian dari berita tersebut. Salah satu buktinya adalah mengenai berita X yang di publikasikan 2 media berbeda, maka akan menjadi 2 sudut pandang yang sangat berbeda juga. Selain itu, narasumber yang digunakan biasanya adalah narasumber yang “sepemikiran” dengan dewan redaksi dari media tersebut.

Beberapa yang lain menganggap banyak berita yang diragukan kebenarannya. Kata hoax muncul beberapa kali pada respons.

Berikut beberapa respons yang membahas hal ini:

  • Banyak hoax jadi harus verifikasi sana sini.
  • Sulit mengetahui mana yang benar dan tidak.
  • Karena kebanyakan media itu memberitakan sesuatu itu dilebih-lebihkan, tidak sesuai aslinya, yang penting banyak yang baca.
  • Karena saya pernah melakukan sebuah aksi (demo) , dan hasilnya di media berbeda jauh dengan yang saya alami.

Banyak pula yang menyoroti judul berita yang tidak relevan. Beberapa menganggap masih banyak artikel yang judulnya bersifat clickbait dan tidak memiliki relevansi terhadap isi beritanya.

Contoh respons mengenai judul berita:

  • Terkadang antara judul dan isi berita tidak menunjukan kesinambungan […]
  • Terkadang headlinenya tidak nyambung dengan isi berita, plus media Indonesia sepertinya memang suka cari sensasi jadi berita dibuat-buat.
  • Click bait, more like billboard rather than news.
  • Beberapa artikel memiliki judul yang tidak berhubungan atau bersifat click bait, ada juga yang masih false alarm.
  • Sebagian besar berita online di Indonesia cukup membantu dalam mencari informasi terkini. Namun kebanyakan berita online di Indonesia menggunakan judul berita yang bombastis. Oleh karena itu saya lebih memilih untuk melihat beritanya lebih langsung daripada hanya kutipan dari judul berita online.

Isu lain adalah kelengkapan dan kekomprehensifan berita. Contoh yang membahas isu ini:

  • Kualitas konten yang disajikan dangkal. Biasanya bisa disimplify jadi satu paragraf atau kalimat.
  • Berita yang disampaikan sepotong saja.
  • Manusia Indonesia tidak pernah berfikir keras, maunya instan saja.

Beberapa hal lain yang menjadi bahasan dalam responnya adalah subjektivitas, ketidakjelasan sumber, transparansi editorial, dan penggiringan opini. Jika tertarik, silakan baca respons lengkap pada tautan yang telah diberikan.

6. Menurut Anda, seberapa penting objektivitas dari suatu artikel berita?

Pada pertanyaan ini, saya juga mencantumkan definisi dari KBBI soal objektivitas:

Objektif: mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi (sumber: http://kbbi.web.id/objektif)

Seperti biasa, jawaban berbentuk angka 1–4 dengan 1 melambangkan sangat tidak penting dan 4 menandakan sangat penting.

Grafik hasilnya dapat dilihat sebagai berikut.

Grafik kepentingan objektivitas berita

Grafik tersebut menunjukkan hasil yang dominan dengan lebih dari 90% responden menyatakan bahwa objektivitas sangat penting. Pertanyaan ini bersambung dengan pertanyaan berikutnya, yaitu…

7. Mayoritas portal berita di Indonesia menyajikan berita secara objektif. Seberapa setuju Anda dengan pernyataan tersebut?

Setelah sebelumnya menanyakan tingkat kepercayaan responden terhadap portal berita, kini saya menanyakan pendapat mereka tentang objektivitas dari portal berita yang ada. Skala 1 menunjukkan sangat tidak setuju dan 4 menandakan sangat setuju.

Hasilnya ditunjukkan pada grafik di bawah.

Grafik persepsi objektivitas portal berita

Sebanyak 58 responden menyatakan bahwa mereka kurang setuju dengan anggapan bahwa mayoritas portal berita sudah bersifat objektif, dan 26 responden lain sangat tidak setuju.

Hal ini menunjukkan bahwa dari keseluruhan responden, cukup banyak yang memiliki persepsi bahwa portal berita online masih belum objektif dalam menyampaikan berita.

8. Andaikan Anda sedang membaca sebuah berita online. Menurut Anda, apa sajakah faktor yang menentukan kredibilitas berita tersebut?

Melalui pertanyaan ini saya ingin melihat apa saja aspek-aspek pada sebuah artikel berita yang menurut responden menjadikannya kredibel. Terdapat 15 pilihan aspek yang telah saya kumpulkan, seperti relevansi judul terhadap isi, penggunaan bahasa, netralitas, dan lainnya. Terdapat pula pilihan “Other” untuk aspek yang tidak termasuk seperti apa yang saya sebutkan.

Pada pertanyaan ini, saya meminta responden memilih maksimal 6 dari seluruh pilihan; saya berharap pembatasan ini bisa mengajak responden untuk menentukan aspek yang menurut mereka menjadi prioritas dalam menilai kredibilitas sebuah artikel.

Hasilnya dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik aspek faktor penentu kredibilitas artikel berita

Berdasarkan hasil tersebut, enam aspek yang menurut responden paling berpengaruh terhadap kredibilitas artikel adalah:

  • Relevansi judul terhadap isi (77 suara)
  • Berbasis bukti fakta (76 suara)
  • Netralitas (66 suara)
  • Memisahkan fakta dan opini dengan jelas (61 suara)
  • Kelengkapan informasi (45 suara)
  • Relevansi dan kompetensi narasumber (42 suara)

Terdapat seorang responden yang menjawab “Other” dengan keterangan “tergantung kepentingan individu atau golongan tertentu”. Sayangnya saya tidak dapat menarik kesimpulan dari keterangan ini (apakah berita dianggap kredibel jika memuat kepentingan individu atau golongan tertentu, atau sebaliknya?).

Hasil ini memberikan insight yang cukup menarik tentang aspek-aspek yang mungkin dapat membuat sebuah artikel dipersepsikan kredibel.

Pertanyaan ini mengakhiri pembahasan mengenai persepsi kredibilitas dan objektivitas oleh responden. Selanjutnya, survei membahas mengenai pengetahuan responden terhadap Dewan Pers.

Bagi yang belum tahu, Dewan Pers Indonesia (http://dewanpers.or.id) adalah sebuah lembaga independen yang dibentuk “dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional”. Beberapa fungsi utama Dewan Pers antara lain menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik dan memberikan pertimbangan serta mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers.

9. Apakah Anda mengetahui keberadaan Dewan Pers di Indonesia?

Pertanyaan ini ingin melihat awareness responden terhadap keberadaan Dewan Pers. Hasilnya disajikan dalam grafik berikut.

Grafik pengetahuan keberadaan Dewan Pers di Indonesia

Dari 98 responden, hampir setengahnya (49%, 48 orang) tidak mengetahui keberadaan Dewan Pers.

10. Jika ya, apakah Anda mengetahui fungsi Dewan Pers di Indonesia?

Ini merupakan pertanyaan opsional yang saya tujukan kepada responden yang menjawab “ya” pada pertanyaan sebelumnya, namun sayangnya beberapa yang menjawab “tidak” juga ikut menjawab pertanyaan ini.

Grafik hasilnya disajikan di bawah.

Grafik pengetahuan fungsi Dewan Pers di Indonesia

Terdapat 75 respons yang terekam, dengan 62.7% menjawab tidak mengetahui fungsi Dewan Pers. Jika kita hanya memperhatikan yang sebelumnya menjawab “ya” sebanyak 51 orang, terdapat 28 orang (54.9%) yang menjawab “ya” dan 23 orang (45.1%) yang menjawab “tidak”.

11. Jika ya, apakah menurut Anda Dewan Pers sudah menjalankan fungsinya dengan baik?

Masih merupakan pertanyaan opsional, di sini saya menanyakan apakah menurut responden yang mengetahui fungsi dari Dewan Pers, Dewan Pers sudah menjalankan fungsinya tersebut dengan baik.

Grafik di bawah menunjukkan rekapitulasi hasil pertanyaan ini.

Grafik persepsi keberhasilan Dewan Pers menjalankan fungsinya

Grafik tersebut menunjukkan keseluruhan hasil jawaban. Namun, beberapa responden yang mengisi “tidak” pada pertanyaan sebelumnya juga ikut mengisi pertanyaan ini, yang sayangnya harus saya hilangkan dari perhitungan.

Jika hanya memperhatikan jawaban responden yang sebelumnya mengisi “ya” sebanyak 28 orang, maka kita peroleh 27 orang (96.4%) menjawab “tidak” dan 1 orang menjawab “ya”.

12. Seandainya Anda memiliki wewenang dan kekuatan, apa saja aspek-aspek yang ingin Anda ubah dari jurnalisme online di Indonesia?

Pertanyaan terakhir ini merupakan pertanyaan terbuka yang dimaksudkan agar responden dapat menyampaikan pendapatnya mengenai hal-hal yang dapat diperbaiki dari jurnalisme online di Indonesia.

Setelah menganalisis respons dari responden, terdapat beberapa tema umum yang dapat ditarik. Berikut ini adalah pembahasan tema-tema tersebut.

Pertama adalah perketat peraturan. Tidak sedikit responden yang menganggap dibutuhkannya peraturan-peraturan yang mampu menghasilkan berita berkualitas, misalnya dengan kurasi dan peer review terhadap berita sebelum rilis, pengeluaran sertifikat resmi oleh Dewan Pers untuk menandakan kelayakan menyajikan berita, dan adanya standar minimum persyaratan menjadi jurnalis. Meskipun demikian, beberapa responden juga menyuarakan kekhawatiran hilangnya kebebasan pers apabila peraturan terlalu ketat, seperti yang terjadi pada zaman orde baru.

Tema kedua adalah pemberian hukuman. Menurut beberapa responden, portal berita yang menyebarkan fitnah, hoax, dan melakukan penggiringan opini perlu diberikan hukuman, seperti pemblokiran situs, pencabutan izin, hingga menjadikannya kasus pidana.

Selain itu, ada juga tema tingkatkan netralitas. Sebagian responden menyuarakan ketidakpuasan terhadap anggapan keberpihakan portal berita kepada pihak-pihak tertentu. Judul-judul provokasi juga perlu dikurangi.

Yang tak kalah banyak juga adalah tema tingkatkan kebenaran dan validitas. Penulisan berita diharapkan objektif, berdasarkan fakta dan riset, dan tidak mencampuradukkan opini dengan fakta.

Selain tema-tema tersebut, muncul beberapa jawaban yang menurut saya pribadi menarik, yaitu mengenai perlunya diadakan sistem rating untuk portal berita online, seperti layaknya stasiun televisi. Mengapa menarik? Karena ini menurut saya merupakan sebuah saran yang actionable (in fact, I’m currently working on something along those lines).

Pertanyaan demografis

Pertanyaan-pertanyaan berikut ingin melihat persebaran demografis untuk memberikan gambaran mengenai responden survei ini.

Berikut adalah grafik jenis kelamin responden:

Grafik persebaran jenis kelamin responden

Responden berjenis kelamin laki-laki mendominasi dengan 71 orang dari keseluruhan.

Selanjutnya adalah grafik usia responden:

Grafik persebaran usia responden

Mayoritas responden berusia 17–24, dengan 72 orang. Saya cukup terkejut dengan adanya 5 orang responden yang berusia lebih dari 50 tahun. Saya harap partisipasi 5 orang tersebut dapat memberikan perwakilan pandangan masyarakat senior terhadap isu jurnalisme online saat ini.

Kemudian, saya juga menanyakan tingkat pendidikan formal terakhir yang diambil responden. Hasilnya sebagai berikut:

Grafik persebaran tingkat pendidikan formal responden

Responden paling banyak memiliki tingkat pendidikan akhir sarjana S1 sebanyak 65 orang. Ini mungkin disebabkan karena saya menyebarkan tautan survei awalnya pada lingkaran pertemanan saya yang notabene berusia sama.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai jenis pekerjaan atau profesi responden, dengan hasil sebagai berikut:

Grafik persebaran jenis pekerjaan responden

Kebanyakan responden masih merupakan pelajar atau mahasiswa, sebanyak 42 orang, disusul dengan profesional IT sebanyak 21 orang. Hal ini menggambarkan homogenitas responden yang, seperti yang saya bilang di awal post ini, mungkin tidak mewakili pandangan keseluruhan masyarakat.

Terakhir, saya menanyakan daerah lahir dan daerah tinggal responden. Hasil ini saya kelompokkan menjadi provinsi, lalu saya hitung frekuensinya. Berikut adalah hasil perhitungan untuk daerah lahir, terurut dari tinggi ke rendah:

Jakarta: 31
Jawa Barat: 15
Jawa Tengah: 10
Jawa Timur: 7
Banten: 6
Sumatera Barat: 4
Bengkulu: 3
Kalimantan Tengah: 3
Lampung: 3
Riau: 3
Sumatera Utara: 3
Bali: 2
Jogjakarta: 2
Sulawesi Selatan: 2
Maluku: 1
Nusa Tenggara Barat: 1
Sumatera Selatan: 1
Tidak menyebutkan: 1

Dan berikut adalah hasil perhitungan untuk daerah tinggal, terurut dari tinggi ke rendah:

Jawa Barat: 45
Jakarta: 35
Banten: 7
Bengkulu: 2
Jawa Timur: 2
Bangka Belitung: 1
Gyeonggi: 1
Jawa Tengah: 1
Jogjakarta: 1
Nusa Tenggara Barat: 1
Sumatera Barat: 1
Sumatera Selatan: 1

Seperti yang dapat dilihat, Jakarta dan Jawa Barat adalah yang terpopuler sebagai daerah lahir dan tinggal responden survei ini.

Kesimpulan

Izinkan saya mengulang lagi apa yang sudah saya sebutkan sebelumnya: survei ini tidak dilakukan dengan kaidah ilmiah yang baik dan memiliki sampel responden yang cenderung bias, yaitu pada lingkungan pertemanan saya (mungkin maksimal sampai third degree friends dengan beberapa outlier). Hal tersebut menyebabkan saya tidak mungkin menggunakan hasil ini untuk menggeneralisasi persepsi masyarakat Indonesia pada umumnya.

Dari 98 respons yang saya dapat untuk survei ini, beberapa kesimpulan dapat kita tarik sebagai berikut:

  • Frekuensi membaca berita online dari responden survei ini cenderung tinggi, dengan sumber utama dari timeline Facebook. Detik dan Kompas menjadi dua portal berita yang paling populer di antara para responden.
  • Secara umum, tingkat kepercayaan responden terhadap portal berita online di Indonesia cukup rendah, dan penyebab utamanya di antaranya adalah kecenderungan media untuk bias dan keraguan terhadap kebenaran berita. Para responden menganggap objektivitas sangat penting, namun banyak portal berita yang dianggap masih kurang objektif dalam menyampaikan berita.
  • Menurut responden, beberapa aspek terpenting yang memengaruhi kredibilitas suatu artikel berita adalah relevansi judul berita terhadap isi, apakah artikel tersebut berbasiskan fakta, netralitas artikel, tidak mencampuradukkan fakta dan opini, kelengkapan informasi pada berita, dan relevansi serta kompetensi narasumber.
  • Setengah (48 orang) dari responden tidak mengetahui keberadaan Dewan Pers di Indonesia. Untuk responden yang mengetahui keberadaannya, hanya 28 yang mengetahui fungsi Dewan Pers. Dari 28 responden yang mengetahui fungsinya, 27 menganggap Dewan Pers belum menjalankan fungsinya dengan baik.
  • Menurut responden, beberapa aspek yang perlu diperbaiki dari jurnalisme online di Indonesia adalah pengetatan peraturan untuk mengeluarkan berita, pemberian hukuman bagi penyebar fitnah atau hoax, peningkatan netralitas dari portal berita, serta penjaminan kebenaran dan validitas berita yang dikeluarkan. Beberapa juga menyebutkan perlu adanya sistem rating untuk portal berita online di Indonesia.

Lalu, apa?

Fiuh! Saya tidak menyangka akan sepanjang ini. Semoga tulisan ini mampu memberikan insight baru kepada Anda pembaca terhadap kondisi jurnalisme online di Indonesia saat ini.

Perlu diingat kembali bahwa sejatinya ini adalah masalah yang kompleks. Hipotesis saya, yang juga disuarakan oleh beberapa responden, kondisi seperti sekarang ini disebabkan mayoritas portal berita berorientasi mendatangkan pengunjung sebanyak-banyaknya, dan tidak dapat dipungkiri artikel-artikel dengan judul bombastis dan provokatif merupakan salah satu jenis berita yang paling laku di pasaran. Sudah berapa artikel clickbait yang Anda klik hari ini?

Saya masih menganggap solusi jangka panjang paling ideal adalah peningkatan edukasi masyarakat Indonesia. Tapi solusi tersebut bersifat sistemik, dan sistem pendidikan Indonesia sangat besar (dan masih bisa dibilang belum matang, dilihat dari kebijakan-kebijakan yang tiap tahun berganti), sehingga sepertinya agak naif apabila hanya mengharapkan solusi dari pemerintah mengenai hal ini.

Di beberapa negara, media pers menjadi salah satu sarana checks and balances untuk pemerintah. Namun, bagaimana jika pers keluar aturan? Siapa yang melakukan checks and balances terhadap mereka? Apa yang bisa kita, konsumen berita online, lakukan agar kualitas jurnalisme di Indonesia dapat ditingkatkan? These are the questions that intrigue me the most.

Saya sangat bersyukur apabila hasil survei ini dapat memicu survei-survei atau aksi-aksi lain yang bertujuan untuk memajukan jurnalisme online di Indonesia.

Saya sedang merencanakan aksi selanjutnya. Bagaimana dengan Anda?


Bobby Priambodo is an Indonesian citizen. He’s trying to be a good one at that. When not thinking about many things at once, he spends his time building software, which unfortunately also involves a lot of thinking.