Sudut Pandang

Baru-baru ini, saya sedikit tersadarkan, bahwasanya..

“hal-hal yang menurut kita sepele, belum tentu juga, sesepele itu menurut orang lain”

Saya bukan orang yang cuek, justru sebaliknya, kalau rasa khawatir bisa diuangkan, alangkah akan menjadi sekaya apa saya saat ini. Tetapi dilain sisi, saya adalah orang yang sering kali menggampangkan, menyepelekan, tidak meribetkan banyak hal. Prinsipnya, kalau bisa dibuat sederhana kenapa harus dirumit-rumitkan. Iya sesederhana itu.

Mengingat kejadian-kejadian dulu, sebelum perkara yang menyadarkan saya saat ini muncul. Sering kali, saya beradu emosi dengan Kadila (teman satu kosan) mengenai hal-hal yang dia anggap penting dan menjadikan perkara itu menjadi panjang, dan justru saya sebaliknya, menggampangkan dan ingin segera melanjutkan hidup tanpa ada drama.

Empat tahun kuliah dan hidup dalam lingkungan yang sama sampai dengan saat ini, saya masih hidup dengan prinsip tersebut. Hidup jangan terlalu dibuat ribet.

Hingga akhirnya ada satu hal yang terjadi. Sekali lagi saya menyembutkan hal yang sangat sepele dan tidak penting. Hanya masalah cara berkomunis eh… komunikasi maksudnya nanti dianggap antek PKI kalau bahas itu.

Well…

Era milineal saat ini, melakukan chating dengan seseorang seperti sebuah hal yang “Ya memang zamannya” alangkah sepinya jika alat komunikasi seseorang tanpa ada yang diajak untuk betukar obrolan dalam keseharian. Ketika bahasan-bahasan yang dibicarakan satu dengan yang lainnya klik, tidak ada yang merasa sulit untuk berkomunikasi tentunya hal ini tidak menjadi masalah, kan. Tetapi jika hal sebaliknya terjadi, dipihak lain mengalami kesulitan mencari bahan obrolan, apakah akan terus dibiarkan seperti itu tanpa ada yang melakukan tindakan lain.

And now, i was to help someone to not so hard to try make to think “what topik” must we will talking, and then i choise to block him. Saya memilih menarik diri, dari pada harus membuat seseorang menjadi ribet dengan kesulitannya sendiri.

I have been thinking , the problem has been done .We simply don’t need to communicate in intense .That is’t.

Tetapi Allah memang mahabercanda. Dia seperti ingin menyentil dengan caranya yang tidak disangka-sangka. Saya sudah berpikir, kami mungkin akan bertemu 3–5 tahun kemudian, tidak terpikirkan akan bisa berjumpa dalam waktu dekat.

But…

God was have another plan, to make me and him meet not so long time. Sang perencana hebat membuat takdir dengan cara tak terduga, yang sampai sekarang seperti sedang membisikan saya

“ kamu jangan punya sikap yang begini lagi ya”

dan kemudian jeduarrrr sebuah takdir membawa saya harus bertemu, bertatap muka, berbicara hingga berjalan beriringan dalam jarak yang tidak dekat, dengan tujuan, menyelesaikan masalah dengan masing-masing memberi sudut pandang yang bisa saling mengerti.

And then i know, i was hurt him. I was make him heartache and confused what actually happened. All we walked . He kept asking explanation more and more. “why do you do that” again and again to ask like that.

When we meet. I was thingking, this problem was finish. I was forgeting. Saya sudah memberi alasan, menulisanya dalam kalimat yang panjang, but i have reason not to enough for him.

Saya adalah orang yang tidak suka memaksa. Saya tidak menjelaskan kenapanya terlalu banyak, karena tidak mau seperti orang egois, yang meminta untuk terus… terusan berkomunikasi, sedang dipihak lain sudah sulit dan lelah. Tapi nayatanya, sudut pandang tersebut salah, bahwa tindakan yang menurut kita baik, karena tidak mau memperumit masalah yang sepele dan nggak penting, bisa jadi penting buat orang lain. Saya belajar untuk tidak menyamakan standar.

And now, this problem was clear. I was open block him again. Saya sudah lega memikirkan, tidak lagi menjadi sebuah beban yang harus diajak berbicara, tidak membuat orang harus lelah memikirkan sebuah awal topik pembicaraan.

I am happy, he was take sikap untuk tidak berpikiran keras akan menyapa apa dan bagaimana kalau tidak memiliki topik yang ingin dibicarakan.

We currently have been “fine”. But there is one thing that we know. That communication we will not same anymore. It was different.

K.

*teman-teman, saya sedang berusaha memperlancar menulis dengan bahasa inggris, sekiranya ada kalimat, kata yang salah, silakan dikomentari, saya sungguh berterima-kasih :D

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.