Mau Makan Di Mana?

Sebagai warga kelas menengah ngehe, saya pernah tergiur untuk merayakan malam minggu dengan gaya hidup sok modern. Apalagi jika masih tanggal muda, godaan itu susah ditepis. Jalan-jalan dari mall ke mall, traveling, shoping dan makan-makan di luar. Meski setelah itu sering lahir penyesalan-penyesalan yang tiada tara. Wah tahu segini habisnya, mending duitnya buat beli pampers si kecil aja.

Tapi begitulah, penyesalan selalu datang belakangan. *kalau di depan namanya pendaftaran* Ngomong-ngomong soal makan di luar, berikut ini ada beberapa panduan memilih tempat makan :

1. Jangan makan di restoran yang sepi pengunjung. Dijamin makanannya gak enak, mahal pula.

Tuh kan sepi banget

2. Jangan makan di restoran yang pelayanannya luama banget. Bisa mati gaya di situ.

Saking lamanya sampai ditinggal pulang

3. Jangan lagi ke restoran yang seenak apapun menunya tapi ada rambut yang ikut tersaji di makanannya.

Selera makan jadi hilang gara-gara rambut

4. Jangan makan di restoran yang sudah mahal bayarnya, tapi kita harus berdiri antri ambil makanannya sendiri.

Kita bayar mahal kan buat dilayani

5. Jangan pesen menu yang kita bisa bikin sendiri di rumah. Bisa jadi enakan masakan kita.

Nasi goreng bumbu racik

6. Jika perut masih belum bisa go international, jangan pesen makanan yang aneh-aneh, nanti malah sakit perut. Pilih saja menu lokal, tempe penyet misalnya.

Western Food

7. Terakhir dan ini adalah bagian paling penting; jangan makan di restoran manapun, jika gak punya uang. Gak perlu maksain pakai kartu kredit. Mending ke rumah teman atau datangi kondangan.

Makan kok ngutang, gak jadi daging…

Namun demi ketahanan finansial yang lebih tangguh, saya menyarankan untuk makan di rumah. Menikmati masakan istri yang diolah dengan istimewa, paduan antara bumbu-bumbu dapur pilihan, cinta dan kasih sayang.

Selamat bermalam minggu, apa menu malam ini?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.