Menuju Senja — Payung Teduh
— Menuju Senja, sebuah memori yang meluap menjadi analisa.
Ingatan, kenangan, atau memori bisa datang menjelma berupa apa saja. Apakah teman-teman sering melamun dan mengingat kembali masa-masa lampau? Sebelum kegiatan ‘melamun’ itu di mulai, biasanya, ada sebuah media yang memacu hal tersebut dan menjadikan kita layaknya menaiki mesin waktu doraemon.
Media itu bisa berupa apa saja. Bisa di tangkap oleh semua indra kita. Contoh paling sederhana adalah indra penglihatan, jika kita melihat foto-foto lama, maka kita akan senantiasa mengingat siapa, kapan, dan dimana foto-foto itu di buat.
Atau bisa juga, saya ingin cerita sebelumnya, pada suatu hari saya pergi ke minimarket untuk membeli kebutuhan mandi. Perhatian saya tertuju kepada salah satu shampoo. Saya, pada saat itu, mengenang mantan kekasih di minimarket. Bagaimana bisa? Dulu, saya sering mencium rambut mantan kekasih pada masa-masa yang indah.
Memori juga biasanya hadir melalui musik. Siang ini, saya memutar lagu Menuju Senja — Payung Teduh lebih sering dari biasanya. Lalu ingatan saya terlempar kepada salah satu teman dekat, ia bernama Haikal. Pertama kali saya mendengar lagu ini ketika sedang berlibur bersama teman-teman di Kota Malang. Pada suatu petang, kala itu, saya bersama Haikal berkendara menggunakan motor keliling kota. Bersama cuaca, raut wajah penduduk setempat, atau kopi yang kita nikmati bersama di temani oleh lagu yang sedang saya nikmati siang ini. Rasanya rindu semakin menggumpal dalam dada. Jadi, telah saya putuskan bahwa ‘Menuju Senja’ adalah salah satu cara untuk mengenang sahabat saya ini.
Satu kebiasaan saya jika mendengarkan lagu, saya akan selalu memperhatikan musiknya lebih dulu, bukan liriknya. Alunan musik yang damai, lirik sederhana nan puitis, campuran antara jaz dan keroncong, sangat cocok terhadap nuansa hati. Pada dasarnya, saya penggemar musik keroncong. Menuju Senja sukses mengkawinkan keroncong dengan jaz sehingga walau sederhana tetap enak terdengar dan terkesan lagu yang berkelas yang dapat di terima semua kalangan.
Menurut saya, lirik lagu Menuju Senja ini sangat konotatif, namun langsung mengukir romantisme senja. Hati yang terluka, menjadi ‘metafora’ tokoh utama dalam bait-bait lagu Menuju Senja berikut ini :
Harum mawar di taman,
Menusuk hingga ke dalam sukma,
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama,
Di sore itu menuju senja,
Bersama hati yang terluka, tertusuk pilu,
Menganga luka itu di antara senyum,
Dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan,
Bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian,
Ada yang mati saat itu dalam kerinduan yang tak terobati,
[melodi]
Harum mawar di taman,
Menusuk hingga ke dalam sukma,
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama,
Di sore itu menuju senja,
Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu,
Ada yang mati menunggu sore menuju senja, bersama…
Menuju Senja seperti musikalisasi dari sebuah puisi. Minor sekali. Ada makna sastra yang sangat dalam yang di sampaikan dalam sebuah gambaran senja dalam bait yang pendek saja sebetulnya. Sore merupakan tanda penghujung hari dimana cahaya matahari masih bersinar terang meskipun sudah tak panas. Sedangkan senja, matahari mulai menurun dari pandangan, dan sinarnya mulai redup menuju malam.
Sore menuju senja dalam lagu ini merupakan rasa di mana seseorang tengah bernostalgia di taman, memendam rindu yang sudah meluap. Harum mawar di sini dapat di artikan sebagai simbol kenangan sang ‘Pemilik Hati’ bersama kekasihnya. Harum mawar di taman menghidupkan memorinya pada rasa rindu yang telah lama di pendamnya. Harum mawar bagi saya adalah Kota Malang.
Harum mawar di taman,
Menusuk hingga ke dalam sukma,
Dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama,
Di sore itu menuju senja,
Sebuah paradoks sebab taman adalah lambang kebahagiaan, sementara sang ‘pemilik hati’ harus menahan luka dan pilu di taman. Ia sedang menunggu cintanya yang tak kunjung datang, sementara kenangan terus menjalari batinnya. Ia menyerah, rindu yang tak terobati membunuh cintanya. Suasana berubah semakin sedih.
Bersama hati yang terluka, tertusuk pilu,
Menganga luka itu di antara senyum,
Dan menapaki jejak kenangan di sore yang gelap ditutupi awan,
Bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian,
Ada yang mati saat itu dalam kerinduan yang tak terobati,
Menurut saya, yang mati adalah rasa cinta. Senja adalah akhir hari. Sore menuju senja adalah lambang dari sebuah akhir cerita. Sang ‘pemilik hati’ lebih memilih untuk mengubur dalam-dalam kenangannya, dari rindu yang tak terjawab. Ia dan kekasihnya, yang mungkin di tempat yang berbeda, bersama mengakhiri rasa cinta mereka dan menguburnya menjadi kenangan saja bersama senja. Di bagian ini, boom, rasanya pecah sekali. Melankolia berserak di tiap melodi dan liriknya. Dalam imajinasi saya, tokoh-tokoh dalam puisi Melihat Api Bekerja karya Aan Mansyur seperti berdialog di dalam kepala bersama iringan lagu Menuju Senja karya Payung Teduh ini. Dan, boom, sekali lagi rasa minor menghujam dada untuk kesekian kalinya. Lagi dan lagi.
Baru saja kuberanjak beberapa saat sebelum itu,
Ada yang mati menunggu sore menuju senja, bersama…
Kota Malang, Haikal, Payung Teduh, bahkan puisi Aan Mansyur menghiasi siang terik ini, lalu rasanya terik berubah menjadi mendung yang adem-adem saja.
Selamat siang, selamat menunaikan memori untuk ia yang di kenang. Selamat bernostalgia!
