Di Tolak Ibu-ibu


Di mana-mana yang namanya Penolakan itu memang bikin sakit ya. Iya, sakit.

Seperti yang gue bersama kawan gue sebut saja alfred alami beberapa waktu yang lalu. Pengalaman yang bikin gue tidak habis pikir kok ada ya Penolakan seperti ini. Macem mana.

Singkat cerita, beberapa waktu yang lalu gue sedang menemani kawan gue si alfred membeli permen di kantin. Berbekal uang seribu yang kami kumpulkan dari uang receh yang ada didompet kami masing-masing. Uang alfred koin 500 dan 100 dan uang gue 100 dua koin dan 200 satu koin. Menurut alfred, kami bisa dapat permen sebanyak 2 buah dengan uang 500 dan kalau dengan uang 1000 artinya kami bisa dapat 4 buah permen. “Lumayanlah buah dikunyah sembari menunggu waktu pulang” begitu benak gue dalam hati.

Sesampainya di kantin, kami menghampiri ibu penjual dan gue bertanya harga satu permen demi memastikan kalo2 uang kami gak kurang. Maklum, hanya itu uang receh yang kami punya. Ternyata harganya sesuai dengan yang alfred bilang di awal.

Setelah selesai mengambil permen kami lalu membayar. Begitu kami baru saja mau pergi, si ibu penjual berkata seperti ini “aduh dek, uang receh begini udah gak diterima lagi”. Yang dimaksud si ibu penjual adalah uang 100 tiga koin dan 200 satu koin. Mendengar hal itu, gue lalu bernyata ke si ibu penjual “gak diterima?? maksudnya gimana bu??”. Si ibu penjual menjawab “gak diterima maksudnya itu sudah tidak laku dek..”. Lalu gue ngomong lagi “tapi bu..itukan uang juga!! Masa tidak laku?!!!”. Si ibu menjawab lagi “iya dek, tapi kami sudah tidak mau terima lagi uang receh seperti itu..”

Sontak mendengar hal itu, kami yang tadinya senang sumringah membayangkan mengunyah permen berubah menjadi tersenyum kecut dan seperti ada perasaan sakit begitu mendengar uang receh kami dianggap tidak laku/ditolak oleh si ibu. Ingin sekali gue berkata sesuatu tapi dalam hati gue cuma bilang. “tahan..tahan..yang di depan mu ini orang tua. Harus sopan..”.

Dikarenakan si ibu hanya mau meneriman uang 500 koin, yang tadinya kami berharap dapat 4 permen, dengan berat hati hanya bisa mengambil 2 permen. Sungguh terlaluuuuuu…

Sebenarnya pengalaman seperti ini bukan yang pertama. Gue pertama kali mengalaminya beberapa tahun yang lalu ketika hendak membayar uang parkiran ke mas penjaga parkir kampus. Uang gue waktu itu sama dengan uang receh di atas. Begitu memberikan uang ke mas penjaga parkir, si mas penjaga parkir lalu bilang ke gue seperti ini “dek, kalo bisa lain kali jangan bayar pake uang receh begini. Sudah tidak laku..”.

“Asu juga nih orang..itu duit woy” begitu benak gue dalam hati. Karena malas berdebat dan dalam keadaan capek, gue lantas mengiyakan saja apa yang diomongin mas penjaga parkir itu. Tentu saja gue pulang sambil bersumpah serapah selama di jalan.

Dari 2 pengalaman gue di atas, gue cuma punya satu pertanyaan. Sejak kapan uang receh dianggap tidak laku lagi? Kalo sudah tidak laku kenapa uangnya masih beredar?

Gendeng emang.