Memahami keberaksaraan visual

Beberapa waktu terakhir, komunitas fotografi Tanah Air tengah merayakan istilah visual literacy, atau di dalam Bahasa Indonesia keberaksaraan visual. Sejumlah temu wicara dan lokakarya dengan topik tersebut telah digelar di beberapa kota, namun rasanya maksud istilah itu sendiri masih belum banyak dipahami oleh kalangan penggemar fotografi—apalagi masyarakat umum. Padahal, keberaksaraan visual penting kita miliki, terlebih lagi pada zaman banjir media dan serbavisual ini, agar kita tidak hanyut diterjang arus informasi, namun dapat memilah dan mencerna kabar yang berguna.

Beraksara secara visual (visually literate) artinya mampu menyampaikan dan memahami pesan yang disampaikan secara visual, atau secara sederhana, mampu menulis dan membaca bahasa visual. Keberaksaraan visual, sebagai suatu bentuk berpikir kritis, bukanlah merupakan sebuah keterampilan khusus, seperti salah paham yang kerap terjadi. Beraksara secara visual artinya kita dapat memanfaatkan serangkaian keterampilan untuk membuat suatu gambar yang kita lihat menjadi bermakna bagi kita; mampu memahami pesan yang termuat di dalam suatu gambar.

Tidak ada batasan tertentu, soal keterampilan apa saja yang diperlukan agar kita mampu beraksara visual; yang penting kita dapat menghadirkan dan menyusun makna dari gambar yang kita lihat. Dapat dikatakan, keberaksaraan visual berlangsung pada tataran yang berbeda-beda, sesuai cara pandang dan jenis keterampilan yang dipakai oleh si pemandang, dan tidak mengenal benar atau salah—kendati nalar dan kesahihan tetap jadi acuan. Perlu diperhatikan pula, bahwa sebuah gambar memiliki makna di dalam konteks tertentu dan bisa mendapatkan arti yang berbeda jika dilepas konteksnya atau diletakkan di dalam konteks yang lain.

Di dalam membaca gambar (foto, film, lukisan, poster, dan sebagainya), yang pertama-tama perlu dilakukan adalah mengamati gambar itu secara menyeluruh: apa yang tengah berlangsung atau yang coba digambarkan di situ, apa saja yang terdapat di sana, bagaimana gambar itu disusun, warna atau bentuk yang menonjol, sudut pandang yang digunakan pembuatnya, jarak pandang pengambilan gambar, gaya penggambaran, dan sebagainya. Masing-masing pilihan dari pembuat dapat dimaknai secara berbeda oleh pemandang—walau pilihan yang sama dapat pula berlainan maknanya bagi pemandang yang berbeda.

Merah, misalnya, terkesan panas, sementara biru sejuk, dan abu-abu seolah tidak beremosi. Garis lurus menunjukkan ketegasan, sementara kurva lengkung kelenturan. Gambar dekat (close up) mengacu kepada keintiman, sementara gambar jauh (long shot) keterasingan. Subjek utama berada di tengah bidang gambar mengesankan kelembaman atau kestabilan, sementara jika mendesak ke tepi bingkai menguatkan kesan ketegangan. Kesan bahagia dan ceria diperoleh dengan nada warna hangat (cerah, kekuningan, jingga), sementara cemas dan muram dengan nada warna dingin (kelabu, kebiruan, kehijauan).

Ada empat pertanyaan pokok yang dapat menuntun langkah kita membaca gambar. Pertama, apa yang sedang kita lihat; apa yang sedang kita amati? Kedua, hal itu mengingatkan kita kepada apa; apakah gambar lain, atau pengalaman pribadi? Ketiga, apa tujuan gambar itu dibuat; sebagai dokumentasi, argumentasi, penghiburan, ataukah merupakan ekspresi pembuatnya? Keempat, lantas mengapa hal itu berarti; apa pentingnya? Dengan pendekatan yang mirip, Toledo Museum of Art di Ohio, Amerika Serikat, telah mengembangkan rumusan daur membaca gambar dengan enam langkah berikut: a) lihat, b) amati, c) perhatikan, d) jabarkan, e) selidiki, dan f) tafsirkan.

Ki–ka: Pietà (Michelangelo, 1498–1499); Tomoko Uemura dan ibunya (W. Eugene Smith, 1971); Fatima al-Qaws dan anaknya (Samuel Aranda, 2011)

Misalkan, foto pistol. Kita tahu, pistol adalah suatu jenis senjata api. Namun demikian, foto orang berpistol bukanlah semata-mata soal orang itu memegang sepucuk senjata api, melainkan juga soal kuasa (yang memegang pistol akan merasa berkuasa), ancaman (yang ditodong pistol akan merasa terancam), dan kekerasan (bayangkan kemudian terjadi penembakan). Akan tetapi, jika orang berpistol itu adalah seorang polisi atau tentara, maka kesannya akan amat berbeda; pistol menjadi lambang wewenang yang justru menjaga keamanan kita dari ancaman penjahat. Akan lain lagi halnya, kalau pistol tersebut mainan dan dipegang oleh seorang anak. Anak itu tetap akan merasa berkuasa, namun kita tidak akan merasa terancam maupun terlindungi, malah mungkin terhibur.

Keberaksaraan visual bisa sederhana—selama kita dapat membangun makna yang valid dan logis tentang suatu gambar—namun bisa juga sedikit lebih rumit. Kita dapat mendalami dan mengembangkan empat pertanyaan atau enam langkah di atas, serta mencari rujukan sosial dan budaya—di dalam dan di luar gambar—menggunakan kerangka keilmuan tertentu. Yang sering dijadikan rujukan adalah semiotika, yaitu ilmu yang mengkaji hubungan suatu tanda dengan tanda lain, dengan makna atau objek yang diacunya, dan dengan pengguna atau penafsirnya. Rujukan lain yang kerap dipakai juga di antaranya sejarah dan, terutama, sejarah seni.

Kembali ke pistol dan kekerasan, kita dapat lantas menggali, apa yang terjadi, siapa melakukan apa terhadap siapa, di mana, apa dampaknya, siapa yang diuntungkan atau dirugikan, atau untuk tujuan apa semua itu terjadi. Konsep militer dan kepolisian pun bisa jadi berbeda maknanya, jika konteks negara aman digeser menjadi di dalam keadaan krisis, atau di bawah kendali penguasa zalim. Bocah bermain pistol-pistolan dapat pula dibahas, mengapa orang tuanya memberi dia pistol-pistolan, bukannya mobil-mobilan atau wayang pahlawan super, umpamanya.

Demikianlah, dengan mempelajari keberaksaraan visual, kita akan dapat memahami suatu gambar tidak sekadar dari yang tampak—gambar pistol tidak melulu hanya mengenai pistol dan tiada lain selain pistol—namun juga makna apa yang terkadung di dalamnya dan mengapa gambar itu berarti di dalam masyarakat. Ada anggapan, bahwa masyarakat akan dengan sendirinya memiliki keberaksaraan visual oleh sebab terpaan visual yang terus-menerus melalui berbagai media, seperti televisi, baliho, poster, surat kabar, atau internet. Nyatanya, keberaksaraan visual memerlukan panduan di dalam praktiknya, sebagaimana kita tidak akan bisa membaca dan menulis tanpa menguasai abjad, sekalipun setiap hari membuka buku.