Flores Bukan Cuma Labuan Bajo Lho! Part 2 (Bajawa & Ende)

Argya Nareswara
Nov 5 · 10 min read

Halo semua! Setelah part 1 yang membahas tentang Maumere dan Larantuka, kali ini saya akan membahas tentang Ende dan Bajawa. Pesonanya ga kalah menarik dibandingkan Maumere dan Larantuka, dan punya aura masing masing yang membedakannya satu sama lain.

Ende

Kabupaten Ende yang punya ibukota kabupaten bernama Ende (juga) ini merupakan salah satu kota terbesar di Flores dengan alternatif penerbangan yang banyak banget. Ga cuman penerbangan dari Bali dan Kupang, tapi penerbangan dari Labuan Bajo dan Sumba juga ada. Untuk hotel yang beneran bentuknya “hotel” memang banyak, tapi untuk memaksimalkan rasa worthyness uang kalian, saran saya sih menginap di DASI Guesthouse (harga yang masuk akal + dapet sarapan pula). Untuk jalan jalan di sekitar Ende, ada beberapa varian yang sudah saya coba: wisata historis dan kuliner, wisata pesisir, dan wisata gunung.

Wisata Historis dan Kuliner

Wisata historis di Ende tentu saja erat kaitannya dengan Bung Karno. Bung Karno yang sempat di-exile ke Ende dan hidup bersama masyarakat di sana akhirnya melahirkan Pancasila yang digunakan Indonesia sebagai ideologi pemerintahannya. Ada alun-alun (?) dengan taman yang cukup luas dan tertata apik dan patung Bung Karno yang berukuran besar. Terdapat juga penjelasan bahwa di taman tersebutlah Bung Karno mendapatkan ilham dari daun sukun bercabang lima mengenai Pancasila. Di siang dan sore hari taman ini juga digunakan oleh pemuda pemudi setempat untuk menghabiskan waktu luangnya.

Bergeser sedikit ke Rumah Pengasingan Bung Karno, teman teman akan mengunjungi rumah pengasingan yang bentuknya masih dipertahankan hingga saat ini. Terdapat juga seorang kurator yang berjaga untuk menjelaskan barang barang yang dipamerkan di common room rumah pengasingan tersebut. Rumah pengasingannya terbuka hingga bagian belakang rumah dan seringkali digunakan untuk foto-foto masyarakat lokal. Beberapa orang (tukang ojeg saya waktu di Maumere, lebih tepatnya) menyarankan untuk menyempatkan bersembahyang di ruang sembahyang yang dipakai Bung Karno karena mujarab bagi orang labil untuk menentukan jalan mana yang harus ditempuh 😅.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Untuk wisata kuliner, sebuah kewajiban untuk mengunjungi Mokka Koffie, sebuah kedai kopi di pusat kota Ende. Bentukannya menyerupai coffee shop di kota kota besar di Pulau Jawa dengan tata letak yang estetik dan menu menu yang membuat Anda tidak percaya kalau Anda sedang berada di Flores. Seringkali pula saya berkunjung kesana bersamaan dengan wisatawan luar negeri yang melakukan coffee tasting sambil rehat dari perjalanannya. Untuk pilihan kopinya, saya jatuh cinta pada Yellow Cattura Kelimutu dan Arabica Bajawa. Daerah Kelimutu, Bajawa, dan Manggarai memang terkenal sebagai penghasil biji kopi dengan kualitas terbaik. Anda juga bisa membawa biji kopi sebagai oleh oleh untuk kerabat atau sanak saudara Anda apabila berkenan.

Wisata Pesisir

Wisata pesisir menurut saya bukanlah titik terkuat dari Ende karena Pantai Ria yang terkenal bagi warga lokal cukup kumuh untuk dijadikan pantai untuk Anda menikmati suasana laut. Ende yang terletak di pesisir selatan pulau Flores memiliki karakter ombak yang lebih kencang dibandingkan dengan pesisir utaranya. Saya pun kebetulan melewati beberapa tempat foto-foto dalam perjalanan saya ke Bajawa

Apabila Anda benar benar ingin melihat pantai saat itu juga, anda bisa ke Pantai Batu Cincin. Lokasinya terletak di balik bukit dan ‘hutan’ yang Anda harus lewati sendiri sebelum sampai ke pantai. Apabila anda membawa kendaraan sendiri, Anda harus memarkikannya di pinggir jalan raya Trans Flores, jadi tidak saya sarankan untuk berlama lama di pantai berpasir hitam ini. Pantai ini menurut teman saya sangat indah untuk dilihat pada keadaan surut karena terdapat bukit batu yang berlubang di tengahnya menyerupai pantai yang ada di Sumba, namun sayang sekali karena saya berkunjung pada saat pasang, saya tidak bisa memfoto batu tersebut dari dekat.

Pantai Batu Cincin

Bergeser sedikit ke arah timur Anda akan menemui Bukit Cinta. Bukit Cinta ini sesungguhnya hanyalah beberapa bukit yang menyambung, namun memiliki panorama yang cukup indah untuk digunakan sebagai tempat foto. Pemandangannya menghadap ke Laut Sabu, hutan di seberang jalan, dan Pantai Batu Cincin. Trekkingnya sangat disarankan untuk pakai sepatu ya! Mungkin disebut sebagai Bukit Cinta karena sering dipakai kaum muda mudi untuk pacaran, kali?

Bukit Cinta

Wisata Gunung

Wisata Gunung tentu saja menjadi primadona bagi pelancong yang berwisata ke Ende. Tidak lain dan tidak bukan adalah: Sunrise di Gunung Kelimutu. Gunung Kelimutu yang terletak di perbatasan daerah administratif Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka memang lebih mudah diakses dari Ende, namun bisa pula diakses dari Maumere. Beberapa orang lebih suka untuk menginap semalam sebelumnya di Moni, daerah di kaki gunung Kelimutu yang terkenal dengan beberapa homestay (dan juga restoran organik kesukaan saya: Mopis). Moni memiliki gambaran yang menyerupai Puncak atau Lembang, namun dengan intensitas yang lebih dingin dibandingkan dengan keduanya. Apabila anda berencana untuk melihat sunrise, jangan lupa bahwa anda harus menyetir di Jalan Raya Trans Flores di pagi buta yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi.

Trekking Situesien

Beruntungnya adalah, tempat parkir mobil di Gunung Kelimutu berlokasi cukup dekat dengan kawah. Anda hanya perlu trekking selama kurang lebih 20–30 menit untuk bisa mencapai kawah Gunung Kelimutu yang memiliki tiga kawah berbeda warna yang cukup legendaris. Trekkingnya sangat indah dengan pemandangan hutan dan siluet matahari terbit, dan tingkat kecuraman yang tidak terlalu curam. Sesampainya Anda di Puncak Gunung Kelimutu, Anda akan melihat tiga kawah yang bernama “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” yang berwarna biru, yang merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa anak muda yang telah meninggal, “Tiwu Ata Polo” yang berwarna merah yang dipercaya sebagai empat berkumpulnya jiwa-jiwa orang jahat yang telah meninggal, dan “Tiwu Ata Mbupu” berwarna putih yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Saya sempat menanyakan beberapa orang lokal mengenai sejarah dan mitos dibalik penamaan tersebut, tapi karena temuan yang saya dapatkan berbeda-beda, saya sarankan untuk mempercayai versi wikipedia saja 😅.

Kawah dan Pemandangan dari Puncak

Apabila Anda beruntung, Anda mungkin saja akan mendapatkan sunrise terbaik dalam hidup Anda. Suer, ga boong! Sejauh ini saya belum melihat sunrise yang lebih indah dari sunrise di Kelimutu.

My Best Sunrise Ever

BAJAWA

Bajawa, atau ibukota Kabupaten Ngada, bisa ditempuh dari kota Ende sekitar 3–4 jam melalui perjalanan darat melewati Kabupaten Nagekeo. Perjalanan tersebut, sayangnya, sepengalaman saya tidak melewati obyek wisata yang cukup menarik selepas Bukit Cinta di Kabupaten Ende. Kabupaten Ngada terkenal dengan beberapa kampung adat Megalitikum, yang salah satunya sempat saya kunjungi, yaitu Kampung Adat Bena.

Jalan Menuju Kampung Adat Bena

Kampung Adat Bena, walaupun berada di tengah hutan dan memiliki pemandangan menarik menghadap Gunung Inerie dan Gunung Zeta, memiliki aksesibilitas sangat baik dari pusat kota Bajawa. Dapat ditempuh sekitar 30–45 menit menggunakan mobil, pemandangan menyajikan hutan pinus yang terhampar luas dengan kontur jalan yang naik turun mengikuti perbukitan hingga akhirnya anda sampai di kampung adat tersebut. Anda akan menemukan kampung adat yang berbentuk seperti perahu dengan pemandangan yang sangat indah sembari melihat bagaimana warga kampung tersebut menjalani hidup masing masing. Ada yang mengeringkan hasil ladang, menenun, dan membuat kerajinan dari gading. Terdapat pula plaza di tengahnya dengan bebatuan yang merupakan bentuk penghormatan dari pahlawan yang sudah meninggal. Namun, menurut beberapa penulis di tripadvisor, kampung adat yang hanya memiliki 45 kepala keluarga ini cenderung terlalu touristy, dan masih banyak kampung adat lain yang masih orisinil.

Bena dan Pemandangan di Sekitarnya

Selepas makan siang, saya berkesempatan untuk menikmati air panas So’a Mangeruda di utara pusat kota Ngada. Berjarak sekitar 45–60 menit dari pusat kota, So’a menawarkan air panas dalam bentuk kolam dan sungai dengan harga yang terjangkau. Biaya tiket masuknya sangat murah, memang, sebanding juga dengan fasilitas yang ditawarkan. Jangan bayangkan tempat air panas yang sangat fancy ya, karena kondisinya masih sangat alami dengan tempat berganti baju yang seadanya 😅. Anyway, suasana sunset di bukit sekitar So’a yang saya temui pada saat perjalanan pulang, sangat indah! Mirip-mirip sama New Zealand, hamparan rumput dengan kuda kuda yang berlarian.

Hot Spring Situesien
Pemandangan di sebuah Bukit Random di Bajawa

Namun, tentu saja bintang dari semua obyek wisata di Kabupaten Ngada, adalah Taman Nasional 17 Kepulauan yang terletak di desa Riung, sekitar 2 jam dari pusat kota Bajawa. Cukup banyak pemilik kapal yang menyediakan program sailing satu hari untuk melihat berbagai macam obyek wisata, mulai dari Pulau Kalong (serupa dengan di Labuan Bajo yang mana banyak sekali kelelawar beterbangan), tiga spot snorkeling (yang saya lupa namanya, tapi bagus pake banget!), dua pantai landai (yang saya juga lupa namanya), dan makan siang di deserted island dengan seafood segar (yang bisa teman teman rasakan kesegarannya berbeda dengan seafood di pantai pantai lain). Saya pribadi jujur lebih menyukai program snorkeling di TN 17 Kepulauan dibandingkan di Labuan Bajo karena lebih sepi (maklum, anaknya introvert), kebanyakan turis juga turis mancanegara yang mencari alternatif dari Labuan Bajo yang cenderung terlalu ramai belakangan. Untuk alternatif penginapan, saya menyarankan untuk menginap di Nirvana Bungallow karena harganya sangat terjangkau untuk sebuah bungallow dengan sarapan, belum lagi ownernya yang ramah dan mengizinkan kami untuk bilas setelah program sailing walaupun sudah check out dari pagi 😄. Take a note di TN 17 Kepulauan Riung tidak ada program trekking seperti di Padar dan Kelor yang menyajikan pemandangan yang amazing dari atas bukit ya, keduanya memiliki nilai plus dan minusnya masing masing ;)

Riung FTW!

Semoga memberikan insight untuk jalan jalan ke Indonesia Timur ya!

Argya Nareswara

Written by

Kadang jaga UGD, kadang travelling sambil ngecat rambut. Mengisi waktu luang dengan sumbang review di tripadvisor dan sambat di twitter.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade