Es dalam Plastik

Pablo Escobar
Aug 25, 2017 · 1 min read

Kemarin, aku rasanya haus sekali. Ingin minum sesuatu yang dingin. Siang yang panas, udara yang gersang, dan rasa haus mendalam. Yang tepat untukku waktu itu -pikirku- cuma lah nutrisari jeruk yang dihambur es batu.

Lalu aku berjalan ke dapur. Aku sobek satu kemas nutrisari lalu kulimpah isinya ke dalam gelas. Kucampuraduk dia dengan air. Kini, yang kurang hanyalah es batu untuk minuman itu bisa jadi sempurna. Ketika ku buka kulkas, ternyata es batu yang aku ingin hancur lebur itu masih utuh. Dia masih bongkah besar dalam plastik.

Persetan kamu, es batu!

Kuberlari ke rak piring, kucari alu dan kupisahkan ia dari kekasihnya, mortar. Kupaksa alu untuk menggebuk es batu. Tapi, es batu belum hancur sama sekali. Dia masih kokoh dalam plastiknya.

Tambahlah aku murka. Kusiksa lagi dia penuh nafsu. Kali ini, ku hempas dia ke tembok. Aku ingin dia merasakan kesakitan se sakit sakitnya. Namun dia tak bergeming. Masih dalam plastiknya.

Kini yang kulihat hanyalah es batu dalam plastik dengan memar-memar putih. Dia masih utuh. Dia terlihat masih kuat. Aku mendekat padanya, yang masih utuh dalam peluk plastiknya. Dan tiba-tiba aku tersadar, ada garis-garis putih halus yang tak kasat mata sedari tadi. Lalu kubuka plastiknya perlahan. Kemudian tercurahlah remukan-remukan es dari dirinya.

Sedari tadi, dia sudah hancur. Sedari tadi, dia sudah remuk. Meskipun dia tampak masih utuh.

Lalu ku bertanya, kenapa es batu dalam plastik bisa begitu seperti aku?

)

    Pablo Escobar

    Written by