Tentang Cinta dan Betapa Bodohnya Cinta

Sebelum semua dimulai, saya mau ngasih tau dulu. Ini bukan tentang Cinta-nya Rangga. Jadi kalo kamu udah berekspektasi akan menemukan justifikasi kenapa Cinta yang itu yang bodoh, you will not. For now, please take a seat gengs, for I will ridicule love and all that’s related. Today, we will talk about love — in a romantically way.

One of the most legendary love story on earth, Shah Jahan and Mumtaz Mahal

Cinta. Salah satu filosofi manusia yang paling dipuja-puja dari bangsa Babilonia masih ada. Banyak cerita cinta yang melegenda diantara lautan manusia di muka bumi. Misalnya, cinta Juliet yang rela menyusul Romeo mati. Ada pula cinta dan rasa khawatir Orpheus yang tak rela kehilangan Eurydice, malah membuatnya kehilangan Eurydice kedua kalinya untuk selamanya. Pun mengenai cinta yang memajnunkan si Majnun, yang terlalu tergila-gila akan Layla.

Bahkan cinta seorang Emperor Shah Jahan yang membangun monumen paling indah dan paling megah untuk mengenang istri yang paling dicintainya, Mumtaz Mahal.

Pernah dengar istilah jalaran tresno soko kulino?

Cinta datang karena terbiasa. Dan saya, sejujurnya adalah penganut istilah tersebut. Saya percaya, cinta akan tumbuh dan bersemai jika seseorang terbiasa akan keberadaan satu sama lain. Istilahnya sih, semakin sering kamu bersama seseorang, makin besar pula rasa terikat dengan orang tersebut. Saya sendiri kurang percaya sama kata-kata cinta pada pandangan pertama. Soalnya menurut saya, itu bukan cinta tapi nafsu.

Kata-kata bohong lainnya menurut saya adalah : “love is a single soul in two bodies”. Pret. Sesayang-secinta nya sama seseorang, pasti akan selalu ada egoisme masing-masing. Anyways…

Cinta — kamu pernah jatuh cinta gak?

If you’re on your early twenties, you’re most likely and might definitely have been in it — love. Yes, I’ve been in it too, actually. The situation that makes you feel so infatuated. So deeply in an infuriating feeling you wanna keep to yourself. Intinya sih situasi yang bikin kamu pengen diperhatiin dia, tapi gamau dia tau perasaan kamu. Lucu kan. Jadi pengen diperhatiin apa nggak sih sebenernya? Alasan utama dari orang-orang gak mau menyatakan that torturing feeling is actually → takut ditolak.

Padahal saya percaya, kalo masalah cinta dan masalah diterima cintanya adalah dua hal yang berbeda.

Jadi ya kalo kamu suka (ehm, cinta) seseorang, ya udah, bilang aja. Masalah diterima atau tidak, biarlah datang belakangan. Kebanyakan orang terlalu egois sama masalah “diterima cinta”. Orang seringkali salah menilai antara cinta dan rasa ingin diterima cinta. Apakah ditolak cintanya membuat kamu less human? No it’s not. You are not in fault for something you feel.

Namanya aja jatuh cinta. Jatuh. Jarang banget ada orang yang nyengajain buat jatuh.

(Okay, to be fair, if it sounds kinda subjective, I’m trying to justify myself here, for something I did).

Most of girls thinks that guys are too proud of themselves to actually says how they feel. Takut kena masalah, mungkin? For reasons, guys are not saying it and we girl believe that they only being a PHP person.

PHP — pemberi harapan palsu — false signaling.

To be fair, dibanding ditolak, aku lebih takut sama banyak hal lain dalam hubungan. In example, I actually afraid of fake love. Or superficial feeling. Or toxic relationship. Dari cinta-cinta yang terlalu membutakan. Maka lebih baik ditolak daripada harus bermandi cinta-cinta yang lebih menyakiti. Cinta sendiri , adalah suatu komitmen dari dalam diri. And commitment doesn’t require two people — it requires you.

*sigh*

Love is stupid anyways. What else can make you smile just by looking at your chat history? What else can make you cry in the midnight just because you’re afraid of losing that particular person? Especially, when you know there’s nothing between you and her/him?

Exactly. And I still have more reasons to say why it is stupid.

Orang bisa bilang cinta adalah kenapa mereka senyum sepanjang hari. Tapi ada juga orang yang bilang cinta adalah hal yang bikin mereka bunuh pasangannya sendiri. Cinta itu jahat, dia membaurkan batasan antara attachment-ownership.

The result? Stupid love all over the world. Tapi ada juga yang bilang cinta itu baik for it brings peace to the world. Ya, love is what making us fallen into a war — but suddenly in peace also. Kebodohan. That’s what love is.

Like what you read? Give Gajah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.