Aksi Simpatik

Ketika aksi tak lagi diwarnai konotasi negatif


Apa sih yang ada di pikiran kalian ketika melihat mahasiswa turun ke jalan untuk berdemo? Ketika membaca ada demo X di Y karena isu Z?

Kalo pengalaman gue sih responnya ga jauh jauh dari : “ngapain sih, pasti bikin macet”, “pasti bolos kuliah ya”, “buang buang waktu aja sih” dan semacamnya.

Ga dipungkiri sih, beberapa memang ada benarnya. Kalo demo dengan skala menengah ke atas pasti berimbas macet, pasti sebagian mahasiswa ada yang meninggalkan kewajibannya di kampus, dan ga menutup kemungkinan ada mahasiswa yang cuma emang buang buang waktu aja — ga tau apa yang dibahas — ga tau mau ngapain — pokoknya ikutan aksi turun ke jalan.

Sebagai mantan pelaku aksi — kadept kastrat fakultas pada zamannya, gue ga selalu setuju dengan aksi turun ke jalan. Aksi turun ke jalan itu layak dilakukan ketika : 1) Pasti ga rusuh, 2) Jalur diplomasi sudah dilakukan namun tidak menghasilkan tanggapan dan 3) Sudah melalui proses kajian dan diskusi yang komprehensif. Gue biasanya ikut aksi turun ke jalan ketika yakin bahwa ketiga syarat di atas sudah terpenuhi. Kalau belum? Biasanya ga ikutan sih.

Buat gue aksi mahasiswa turun ke jalan itu adalah sebuah sisi lain dari perjuangan. Ketika sesuatu terjadi dan dirasa akan membawa Indonesia ke arah yang lebih buruk, saat itulah orang orang yang peduli akan merasa terpanggil untuk bergerak. Mengenai cara, tentunya setiap orang memiliki perbedaan dalam metode dan pelaksanaan. Diplomasi / negosiasi untuk mengubah sebuah arah hukumnya wajib untuk dilakukan, sedangkan aksi turun ke jalan merupakan sebuah langkah yang opsional. Biasanya dilakukan ketika diplomasi gagal, atau ketika masalah tsb membutuhkan perhatian lebih. Buat gue aksi turun ke jalan itu ibarat tembakan peringatan : suaranya kencang, mengundang perhatian, kadangkala tidak diperlukan, tapi merupakan sebuah tanda bahwa kita tidak main main.

Masalahnya adalah, mahasiswa itu ketika turun ke jalan (gue percaya) niatnya baik — membela kepentingan bersama. Ketika niat baik itu didukung dengan dukungan dari pihak yang terkait — tentunya akan asik kan?
Namun sayangnya ga semua pihak menganggap aksi itu baik.

Dari dulu ketika jadi kadept kastrat, gue pribadi merasa bahwa politik itu sangat jauh dari kehidupan sehari hari gue, dan mungkin sebagian dari kalian merasakan hal yang sama. Itulah kenapa saat itu gue mencoba mengemas politik ke dalam sesuatu yang mudah dicerna, misalkan : komik, diskusi santai mingguan, blog post rutin, dan lain lain. Tidak selamanya politik harus dikemas dengan diskusi berat, istilah yang sulit dipahami dan kiasan yang sering membuat kita mengernyitkan sedikit kening.

Mungkin juga akan ada saatnya kita merubah sedikit cara mengemas aksi mahasiswa turun ke jalan. Mungkin ada saatnya setiap aksi akan langsung memberikan perubahan kecil yang nyata, sembari mengingatkan para pembuat keputusan dalam proses pembuatan kebijakan untuk perubahan besar yang dibutuhkan.

Bayangkan sebuah barisan mahasiswa yang tertata rapi, yang berjalan menuju ke tempat tujuan aksi dan orasi, sambil membersihkan sampah dan kotoran di jalan yang mereka lalui.

Bayangkan sebuah barisan mahasiswa yang penuh semangat, yang meneriakkan kepedulian mereka terhadap sebuah masalah besar, sambil mengamati masalah kecil di sekitar mereka dan melakukan hal nyata untuk memperbaiknya.

Bayangkan sebuah barisan mahasiswa solid yang yakin bahwa niatan baik mereka tidak disalah artikan sebagai sebuah tindakan tidak berguna.