Bu Sumarsih dan pihak kepolisian sedang beradu argumen.

Kamisan Melawan!

Sore tadi saat Bu Sumarsih mengeluarkan spanduk dari dalam tas hitam dan menatanya dengan hati-hati, tiba-tiba segerombolan polisi datang menegur, melarang. Alih-alih mendengarkan, Bu Sumarsih meneruskan menata spanduk di pinggir jalan.

“Hei! Jangan melebihi garis kuning! Kalian ini sudah dilarang masih saja ngeyel!”, seorang polisi berteriak. Bu Sumarsih tak menggubris. Ia tetap kekeuh menata spanduk yang tertempel foto anaknya, korban tragedi Semanggi yang sampai saat ini tak diketahui siapa yang menghilangkan nyawanya.

Di samping bisa saya dengar polisi berpakaian preman beradu argumen dengan salah satu kawan Aksi Kamisan. Polisi tetap kekeuh melarang dengan dasar UU No. 9 tahun 1998 tentang batas berdemo di depan istana.

“Mulai Minggu kemarin kan sudah saya sosialisasikan, harusnya kalian mengerti!”, katanya.

Bu Sumarsih masih sibuk menata spanduk dibantu kawan-kawan lainnya.

“Jangan diam, lawan!”, teriak salah satu ibu korban Tanjung Priok.

“Kalian ke mana saja 17 tahun? Kok baru sekarang sosiali UU?”, imbuhnya kesal.

Perdebatan terus berlanjut. Polisi meminta pengertian, sedang kawan-kawan Kamisan tetap bergeming. Setelah berdebat cukup lama akhirnya polisi pergi. Mereka menyerah. Tapi mobil patroli sengaja mereka parkir di tempat kawan-kawan biasa berdiri, sehingga membuat kawan-kawan harus melakukan penyesuaian.

Aksi yang sudah berlangsung sejak 18 Januari 2007 itu pun bisa berjalan seperti biasa, tak ada orasi tak ada agitasi. Tak ada juga spanduk-spanduk provokasi, spanduk yang mereka gelar hanyalah spanduk bertuliskan permohonan agar negara menghapus impunitas, ada juga beberapa spanduk yang berisikan foto korban, salah satunya Wiji Thukul. Mereka hanya diam di bawah payung hitam menghadap Istana, kadang juga membagikan selebaran. Benar-benar seperti biasanya.

Bu Sumarsih mengeluh, “Kalau anak saya tak dibunuh, dan negara tak melakukan pelanggaran HAM pasti kami juga tidak akan berdiri di sini setiap Kamis. Pasti saya lebih memilih menghabiskan sore untuk memasak sambil menunggu anak pulang kuliah.”

“Bukannya menyelesaikan malah ingin membubarkan!”

Mungkin negara mulai sadar dan kebakaran jenggot setelah adanya IPT ‘65 di Den Haag. Mereka masih belum bisa menerima jika kebobrokan sejarah negara yang lain juga ikut terbongkar, oleh karenanya mereka mencoba membungkam Aksi Kamisan, sebagai contohnya.

Tapi Bu Sumarsih dan lainnya tak peduli jika Kamis depan akan lebih banyak polisi yang berdatangan. Mereka akan tetap bertahan sampai keadilan yang mereka rindukan itu datang.

Saya teringat dengan kata teman, “Negara ini semakin lama semakin menggelikan. Di sini, kita dilarang merindukan keadilan..”

Dan saya setuju, negara ini memang sudah sangat miskin keadilan dan akan menjadi sebuah ketololan jika itu terus dibiarkan.

Dasar penguasa kolonial sialan!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.