Mengenang Berakhirnya Pasar Malam

Sore itu, ia bergegas pergi menuju stasiun Pasar Senen untuk mendapatkan keretanya. Hari ini ia akan pulang. Ia pulang menggunakan kereta kedua, karena kereta pertama yang menjadi langganan sudah terjual habis semua tiketnya. Maklum karena ia pulang berdekatan dengan libur yang cukup panjang.

Kepulangannya kali ini berbeda dengan kepulangan sebelum-sebelumnya. Biasanya ia pulang dengan penuh kegembiraan dan kerinduan; setiap awal tahun saat kuliahnya diliburkan, kedua ia pulang saat lebaran, dan terkadang ia pulang saat ada libur panjang. Hari ini ia pulang untuk satu hal peringatan yang besar baginya dan keluarganya. Peringatan 1000 hari bapaknya yang tepat jatuh pada hari Minggu besok. Ia harus meninggalkan semua kesibukannya di Jakarta untuk sementara, demi bapaknya yang telah tiada.

Entah ia harus pulang dengan bahagia atau perasaan duka. Tidak terasa sudah hampir 1000 hari bapaknya pergi meninggalkan dunia, berpindah tempat menuju alam yang lebih sempurna. Alam yang konon katanya alam kekekalan, yang kelak semua dari kita akan berpulang.

Seperti biasa stasiun selalu ramai oleh orang-orang yang hendak bepergian; baik itu pulang ke kampung halaman atau sekedar melakukan perjalanan untuk menghabiskan masa liburan. Kali ini ia pulang tanpa teman. Hanya beberapa buku bacaan yang mungkin akan mengisi kekosongannya selama di perjalanan. Sore itu ia memilih membawa juga buku “Bukan Pasar Malam” karya Pramoedya. Karena ia merasa cerita yang ada di dalamnya sangat mirip dengan apa yang pernah ia alami. Dan memang sengaja selama perjalanan ia ingin mengenang kembali bagaimana peristiwa yang paling memilukan di dalam hidupnya itu terjadi. Mungkin kalau disusun cerita itu akan seperti ini:

Telepon berdering. Saat aku lihat di situ tertulis panggilan masuk dari Mama dan segeralah kuangkat.

“Ada apa, Ma?” tanyaku.

Terdengar suara wanita yang berbeda menjawab pertanyaanku lemah:

“Ini budhe, Le. Bapakmu kritis, bisa kamu pulang?”

Mula-mula aku terkejut mendengar berita itu. Kegugupan pun datang menyusul. Kemudian di kepalaku terbayang: bapak. Bagaimana bisa ia kritis, padahal baru saja kemarin sore ia sendiri yang mengatakan kalau kondisinya akhir-akhir ini sudah semakin membaik dan besok adalah operasinya yang terakhir, lalu siap dibawa pulang. Memang akhir-akhir ini kondisi bapak tidak stabil. Tapi kemarin ia terdengar sudah seperti orang sehat.

Kudengar suara sesenggukan dari balik telepon. Segera aku mengiyakan.

“Baik, budhe.”

“Cepat ya, Le, kalau bisa hari ini kamu langsung pulang”, budheku berkata.

“Mama di mana?” aku bertanya.

“Mama lagi nunggu bapakmu, nanti saja kamu bicara dengannya ya”

“Baiklah.”

Setelah perbincangan pendek itu selesai aku terdiam sejenak. Seperti masih tidak percaya. Apakah obrolan sore di telepon kemarin hanya sebuah kebohongan bapak yang tidak ingin anaknya terus khawatir akan dirinya. Dan apakah perkataan siap dibawa pulang itu sebuah pertanda? Aku tak tahu. Langsung saja kuhapus prasangka yang sudah mulai ngawur itu. Dan selanjutnya aku harus berpikir bagaimana caranya aku bisa pulang dan sampai di rumah hari ini. Pesawat! Ya, aku memutuskan untuk naik pesawat saja. Walaupun sebenarnya aku sendiri lupa berapa uang yang masih tersisa di tabungan, cukup atau tidak untuk membeli tiket aku masih belum tahu. Mengingat aku masih beberapa bulan ini mendapatkan kerja, harga tiket pesawat saat itu pun terlampau mahal bagiku. Ah! Masa bodoh dengan harga! Masa bodoh dengan kerja!

Setelah selesai bersiap aku bergegas menuju bandara. Mencari penerbangan yang paling cepat. Akhirnya penerbangan jam 2 siang lah yang aku pilih, karena sisanya tinggal penerbangan sore dan malam. Sebelum berangkat ke bandara aku coba lagi menghubungi Mama dan menanyakan bagaimana keadaan bapak untuk menenangkan pikiranku. Saat itu Mama bilang keadaan bapak masih sama: kritis, tapi bapak masih ada, katanya. Aku sedikit lega.

Memang beberapa bulan ini bapak sedang sakit-sakitnya. Kata dokter ada tumor ganas di pencernaannya, dan ternyata sudah mulai menyebar. Pria yang dulu berbadan teguh itu kini sudah tinggal tulang belaka. Tubuhnya habis digerogoti penyakit biadab yang tak tahu diri. Sebenarnya aku sudah mulai curiga saat ia bersama Mama menghadiri acara kelulusanku. Aku lihat ia semakin kurus dari kemarin-kemarin. Aku pun sempat menanyakan padanya, “Kenapa bapak semakin kurus?”

“Halah tidak apa-apa, Le. Walaupun kurus yang penting sehat.” ia menjawabnya sambil tertawa.

Bapakku sangat jarang ke dokter. Saat sakit pun ia juga jarang minum obat. Rasa sakit itu tak begitu dihiraukannya. Ia selalu berkata, “Ah, paling habis tidur nanti juga sudah mendingan”. Dan sepertinya hal itulah yang sekarang menurun padaku, aku tidak begitu suka pergi ke dokter kalau memang sakitnya tidak parah betul.

Hampir satu jam aku duduk di ruang tunggu bandara yang sepi menunggu pesawat yang belum lagi datang. Tiba-tiba ada pesan masuk dari teman sekaligus tetangga rumah:

“…, turut berduka cita. Maaf belum bisa takziah. Yang sabar ya, semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untuk bapakmu.”

Aku diam. Ku baca lagi sms itu berkali-kali untuk meyakinkan. Akhirnya aku sadar. Ternyata bapak sudah mangkat. Bapak telah kalah. Tapi setidaknya ia telah melawan, ia telah berjuang. Aku tertegun. Dada terasa sesak. Mata pun berkaca-kaca, tapi airmataku tak sampai jatuh. Segera aku mencari musala untuk salat, sebagai tanda pengabdian terakhirku untuknya. Saat mengambil wudu perasaanku masih seperti percaya tak percaya dan mata juga masih berkaca-kaca.

Kumulai salatku. Semua masih terlihat dalam kendali sesaat sebelum takbir. Setelah takbir terucap dan tangan bersedekap, aku pun menyerah. Aku menyerah untuk menguat-nguatkan diriku. Ternyata berpura-pura tabah itu tidak mudah. Pertahananku runtuh. Emosiku tak stabil. Airmata yang tak kunjung turun itu pun akhirnya berjatuhan juga, tak terkendali. Aku menangis. Terbayang wajah pria yang biasa menjadi teman bercengkrama itu kini telah tiada. Juga tergambar jelas bagaimana kenangan demi kenangan semasa hidupnya. Pria tangguh yang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi kesejahteraan keluarga. Pria dengan hati yang teramat mulia. Manusia yang selama hidupnya tidak pernah letih dengan cobaan dan pengkhianatan yang tak perlu aku ceritakan.

Akhirnya salat pun aku selesaikan. Aku bermunajat kepada Tuhan semesta alam agar bapak mendapatkan pengampunan dan amal ibadahnya diindahkan. Semoga hari itu juga Tuhan mendapatkan malaikatnya yang baru, yaitu bapakku.

Sudah habis waktuku di musala. Pipi yang tadinya basah kini sudah mengering. Aku kembali lagi ke ruang tunggu. Pesawat akhirnya datang. Kukabarkan pada Mama kalau sebentar lagi aku terbang ke Surabaya untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, ke Kota T. Dan pesanku tak terbalas. Mungkin mereka sedang sibuk menyiapkan upacara bapak, pikirku. Mama belum memberitahu kalau bapak sudah mangkat. Belum ada keluarga yang mengabari, hanya seorang temanku tadi. Tapi aku juga tak menyinggungnya. Mungkin agar aku tidak khawatir sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan dadaku terasa menggigil saat mengingat bagaimana bapak menjalani hidupnya. Bagaimana perjuangannya melawan penyakit. Ia ingin terus berjuang untuk sembuh demi bisa kembali bekerja dan mensejahterakan keluarganya. Andai saja ia bisa bertahan sampai besok, sampai operasi terakhirnya, mungkin saja akan berbeda cerita. Tapi kau bisa apa saat Tuhan sudah punya rencana? Apalagi dengan nyawa yang tak pernah bisa kau miliki seutuhnya.

Masih nyata dalam pikiran bagaimana saat aku merawat bapak di Jakarta, di rumah bibi sebelum dibawa ke rumah sakit untuk operasinya yang pertama. Saat itu ia sudah lebih kurus dari kemarin-dulu. Rambutnya pun sudah memutih, kini ia sudah terlihat tua. Tubuh yang dulunya tangguh dan mampu berkelana kemana-mana kini hanya terbaring lemah di atas ranjang seperti sebilah papan. Aku mengeluh. Hatiku tersayat.

Aku ingat bagaimana bapak terbatuk-batuk kesakitan sebelum akhirnya memuntahkan cairan pekat kecoklatan dari mulutnya. Aku tidak tahu cairan apa itu, seingatku bukan darah. Tangannya yang kurus mengisyaratkan untuk menjauh, ia tidak ingin aku terkena cipratan muntahannya. Dan saat itu aku sadar, tidak ada manusia di seluruh dunia yang bisa meringankan penderitaannya. Tak terasa airmata pun berderai setiap kali aku mengingatnya.

Setelah lebih dari 7 jam perjalanan (Jakarta-Surabaya-Kota T) akhirnya aku sampai juga. Aku dijemput paman di terminal. Sepanjang perjalanan ia sama sekali tak bercerita tentang bapak. Aku pun enggan membahas. Kulihat banyak kendaraan di depan rumah. Sayup-sayup deru doa masih bisa terdengar dari jalanan. Aku dituntun paman menuju pintu.

Aku memasuki rumah dengan linglung. Aku terhenyak, banyak sekali orang yang berkumpul. Paman menjelaskan tadinya lebih ramai dari ini, sekarang sudah agak sepi karena acara tahlilan sudah selesai. Yang masih tersisa tinggal saudara dan beberapa tetangga dekat rumah. Dan saat itu aku baru diberitahu oleh keluargaku kalau bapak sudah meninggal. Ia meninggal di kamar tengah. Sore tadi sudah dikuburkan. Mereka sengaja tidak memberitahu aku tadi siang, dan benar saja, mereka memang tidak ingin aku khawatir sepanjang perjalanan. Aku mengangguk dan menjawab lirih, “Iya , aku sudah tahu tadi siang.” Kulihat wajahnya seperti terkejut, seolah ingin bertanya dari mana aku tahu. Tapi ia lebih memilih untuk menunda pertanyaannya, ia merasa sepertinya ia juga tak perlu tahu.

Sebenarnya aku merasa menyesal karena tidak bisa ikut menguburkan. Ingin sekali rasanya aku mengazankan bapakku, sebagai tanda bakti terakhirku padanya sebelum ia harus ditutup tanah kubur untuk selama-lamanya. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku kalau saja ihwal itu benar terjadi. Orang yang dulu mengumandangkan azan menyambut kedatanganku ke dunia, berganti ia yang harus diazankan oleh anaknya untuk menyertai kepergiannya dari dunia.

Kutamatkan pandanganku pada setiap ruangan tapi tak kutemukan sosok perempuan yang setia menemani bapakku selama di rumah sakit. Kutanya saja padanya, “Mama di mana, paman?”

“Mamamu di belakang, sini aku antarkan.” paman menjawab, “Adik-adikmu sudah tidur, mereka kelelahan karena menangis seharian.” ia menambahkan.

Aku diam, tertegun. Tak terbayangkan olehku bagaimana perasaan adik-adikku hari ini. Bagaimana perasaan Mama. Perasaan mereka-mereka yang menyaksikan maut. Aku tak tahu apakah hal itu anugerah atau kutuk.

Sebelum ke belakang kubelokkan langkahku ke kamar tengah, tempat bapak meregang nyawa, melawan wabah maut. Di sini aku terbayang seorang manusia yang harus rela meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Guru ngajiku pernah bercerita bahwa derita sakaratul maut itu sakitnya tujuh kali lebih menggidikan dari sayatan pisau yang paling tajam. Kubayangkan deru doa yang berhamburan di seisi ruangan yang pengap ini, doa untuk mengantarkan kepergian bapakku. Tergambar juga bagaimana salah satu keluarga membisikan kata-kata suci di telinganya.

Kubayangkan, bagaimana malaikat maut melayang-layang di dekatnya. Bersiap untuk mencabut nyawanya tanpa mengucap kata-kata sayonara, lalu membawanya melesat terbang menuju swargaloka. Saat itulah titik akhir hidup manusia berada.

O, manusia yang tak berdaya akan kuasaNya..

“Ia sendiri yang meminta dipulangkan dari rumahsakit. Dan setelah 3 jam di rumah, bapakmu mangkat. Tidak kulihat rasa sakit di wajahnya..” paman bercerita.

Kutemui perempuan itu sedang duduk bersimpuh. Termangu di mata waktu. Kuciumi tangannya, lalu pipinya yang basah. Kupasang senyum diwajahku. Aku ingat dengan perkataan Imam Ali, “Tersenyumlah, sekalipun hatimu bercucuran darah”. Tak peduli seberapa tercabiknya hatiku hari ini.

Mama membalas senyumanku, diciumnya keningku. Matanya yang sembab seolah-olah menceritakan semuanya, bagaimana dia hari ini menjadi wanita yang paling berduka di dunia; Ia kehilangan pendamping hidupnya, pemimpin keluarga, dan ayah dari anak-anaknya, untuk selama-lamanya. Seingatku ia wanita tangguh. Tak pernah aku melihatnya menangis. Seingatku lagi, dulu saat kakek dan nenek meninggal Mama tak sampai sesedih ini. Kali ini ia benar-benar terpukul.

Malam semakin mendalam. Pelayat mulai meninggalkan rumah satu persatu. Kalimat doa suci pun berganti dengan suara angin malam yang menderu.


Keesokan paginya aku pergi ke kuburan bersama paman dan adikku yang kedua. Mama masih belum mau mengantarkan, ia masih belum bisa.

Sesampainya di pusara aku sebarkan bunga yang tadi aku beli di pintu makam.

Paman bercerita, ”Bapakmu orang baik. Terlampau baik malah, sampai-sampai kebaikannya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak tahu diri. Kemarin siang rumahmu penuh oleh pelayat, barangkali ada 500 orang lebih yang datang. Bahkan sebagian dari mereka hanya bisa duduk-duduk di pinggir jalan karena rumah sudah kelewat penuh.”

Aku tersenyum lega. Aku tahu bapak mangkat sendiri, tapi setidaknya masih banyak manusia yang mau berduyun-duyun mengantarkan bapak ke peristirahatannya yang terakhir: kuburan.

Pandangan kutembusakan pada tanah gundukan. O, manusia terkubur itulah yang telah menurunkan kami ke dunia ini. Dulu ia bercita-cita tinggi juga. Dulu ia mengalami percintaan juga. Dulu ia sering terdengar menyanyi. Tapi kini suaranya telah mati. Ia yang selalu mengajarkan bagaimana caranya menjadi seorang laki-laki yang berguna.

“Lelaki-perjaka yang tidak bisa apa-apa adalah mahluk yang tidak berguna. Tak ubahnya seonggok daging yang hanya menunggu untuk menua!” — Bapak

Kini ia tak perlu lagi memuntahkan cairan pekat kecoklatan dari mulutnya. Kini ia tak perlu lagi mengaduh, tak perlu lagi merintih, dan menahan segala sakit yang ada pada manusia. Semua sudah mati baginya. Ia sudah bersemayam dengan damai. Arwahnya sudah mengembara ke swargaloka.

Aku menitikan airmata lagi. Pun juga adikku menitikan airmata lagi.


Setelah acara 7 hari aku harus kembali ke Jakarta. Aku sudah harus masuk kerja. Sebenarnya aku masih belum bisa absen sebegini lama, tapi untung saja pimpinanku masih punya hati seorang manusia. Dia mengizinkan.

Mama dan adik-adikku yang mengantarakanku ke stasiun. Mama sudah bisa mengikhlaskan. Ia sudah tidak menangis lagi. Walaupun saat berpamitan aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Seolah menyuruhku untuk tetap tinggal untuk menemaninya. Kucium tangannya. Sebagai tanda perpisahan. Sebelum masuk kereta aku berkata dan meminta doa, “Doakan aku, Ma, semoga lancar kerja di sana. Mama jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saja, sekarang aku yang bertanggung jawab atas keluarga kita, Ma.” Sebenarnya dalam hati aku merasa beban ini terlampau berat untuk umurku yang masih 18 tahun. Tapi bagaimana pun aku anak sulung, anak tertua. Aku harus bisa menghadapinya.

Mama hanya tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan.

Dari jendela kereta aku memandangi Mama dan adik-adikku. Wanita yang tangguh itu kini harus menjalani hidupnya sendiri. Tak ada lagi yang bisa diajaknya berbagi canda kelak di hari tua.

Mataku berkaca-kaca.

Terpikir olehku adikku yang kedua sebentar lagi SMA, yang sudah pasti membutuhkan biaya sedangkan bapak sudah tiada. Terdengar suara bapak di kepala. Bertanya:

“Dan apa rencanamu sekarang, Nak?”

“Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Aku terlampau bingung, Pak..”

Kereta pun meluncur cepat di atas relnya menuju stasiun Gambir. Lokomotif meninggalkan jelaganya di angkasa. Dan tak terasa airmataku pun menitik.


Lembar terakhir pun sudah ia habiskan. Kereta sudah sampai setengah perjalanan.

Fragmen dalam buku “Bukan Pasar Malam” itu mengingatkan ia dengan memori-memori yang telah dilaluinya. Dan mungkin memang benar adanya dengan apa yang dituliskan Pram dalam bukunya:

“Kadang-kadang manusia tak kuasa melawan kenagannya sendiri. Dan tersenyum aku oleh keinsyafan itu. Ya, kadang-kadang tak sadar manusia terlampau kuat dan menenggelamkan kesadarannya. Aku tersenyum lagi.”

Ia beranda-andai jika saja dunia ini ibarat pasar malam, mungkin tidak akan pernah ada kesedihan seperti yang ia rasakan sekarang. Jika saja manusia datang berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang, pasti tidak akan ada yang merasa kehilangan dan ditinggalkan. Tapi manusia hanya bisa berkeinginan, Tuhanlah yang menentukan, dan kematian keniscayaan. Lagi pula, perandaiannya itu tidak bisa dinamakan kehidupan, karena hidup bukan pasar malam. Hidup di dunia tidak sama seperti hidup di surga yang selalu memberikan cerita bahagia.

Tuhan sudah menentukan nasib manusia-manusianya. Dan menurut Chairil, “Nasib adalah kesunyian masing-masing.”

Di malam yang semakin hitam ia bermunajat, ia teringat lagi dengan bapaknya. Diam-diam di dalam hati ia berbicara:

“Bulan ini adalah bulanmu. Besok Minggu 1000 harimu, dan akhir bulan nanti tepat ulang tahunmu yang ke-48 ̶ seharusnya. Tapi apa yang sudah bisa aku persembahkan untukmu, Pak?”

“Mama sudah semakin tua, dan aku masih saja belum berguna..” ̶ ia berteriak dalam hati.

Langit tak menjawab teriakannya. Kesunyian semakin senyap. Dan para penumpang kereta sudah tertidur lelap.*

*Tulisan ini dibuat untuk memperingati 1000 hari perginya seorang bapak, sekaligus peringatan ulang tahunnya yang ke-48 yang akan jatuh pada tanggal 28 Juni 2015 nanti. Semoga dia tenang di alam sana. Dan semoga dia nyaman di rumah barunya. Amin.