Secangkir Penyelamat

Hari itu kutaksir hanya akan seperti hari Sabtu yang sebelum-sebelumnya: melelahkan, membosankan. Sampai akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa dosenku di kelas pagi tidak dapat hadir.

Sejenak kabar itu memberiku waktu untuk bermalas-malasan di tempat tidur, entah hanya berbaring atau melanjutkan mimpi. Setelah kurasa puas bermalas-malasan dan bangun agak siang, aku harus mulai bersiap untuk berangkat ke kampus karena aku harus datang di perkuliahan berikutnya.

Langit bermendung. Sudah beberapa hari ini Jakarta selalu mendung tapi tak sekalipun turun hujan.

Aku memacu motor dengan sedikit terburu-buru, karena dosenku yang satu ini tak mau memberi toleransi siswanya yang terlambat walaupun ia sendiri sering terlambat. Itu membuatku teringat dengan salah satu kata-kata Gie:

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah! Guru bukan Dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

Aku benar-benar membencinya, ingin rasanya segera melewatkan mata perkuliahan yang ia sendiri tak menguasai.

Siang itu Jakarta macet bukan kepalang. Aku tak tahu kenapa. Tak biasanya kemacetan mengular seperti ini. Sesekali aku melihat jam di layar gawaiku. Waktu sudah begitu mepet, dan aku masih belum sampai setengah perjalanan. Aku mencoba menyelipkan motorku di ruang-ruang yang kosong. Beberapa kali mencoba tapi masih saja motorku tak bisa bergerak. Kulihat lagi jam di layar, dan angkanya menunjukan bahwa aku sudah terlambat untuk masuk kelas. Dengan kemacetan seperti ini mustahil aku bisa dipersilakan masuk di kelasnya. Akhirnya kuputuskan saja untuk memutar balik.

Langit yang semakin gelap pun menuntunku untuk mencari tempat berteduh. Aku pun teringat dengan cerita teman bahwa di sekitar Tebet ada kedai kopi yang menyediakan kopi-kopi Indonesia. Di tengah perjalanan hujan turun. Tak begitu deras. Aku memutuskan untuk melanjutkan pencarianku, selang 5 menit akhirnya aku menemukan kedai kopi yang pernah diceritakan temanku: KOPIKINA. Kedai ini terletak di Jl. KH Abdullah Syafei, Tebet.

Segera aku parkir motor dan menuju pintu masuk. Aku masuk dengan baju setengah kuyup. Siang itu kedai masih cukup sepi. Hanya ada 3–4 pelanggan yang mengisi ruangan. Di tengah-tengah ada gramophone yang menghiasi ruangan. Aksen dinding batu bata yang sengaja dibiarkan tidak dicat menambahkan kesan sederhana. Ada juga beberapa foto yang menggantung di dinding sebagai gimmick agar suasana terasa lebih hidup.

Di sini smoking dan no smoking area sama-sama di ruang tertutup. Kalau dari pintu masuk, smoking area ada di sebelah kiri dan no smoking di sebelah kanan. Tapi untuk malam hari sepertinya pembagian area smoking dan no smoking ini tak berlaku seiring banyaknya pelanggan yang datang.

Aku duduk di sisi kanan pintu masuk, menghadap ke jalanan. Tak lama setelah duduk, seorang perempuan datang menghampiri, menyodorkan menu. Ada kurang lebih 60 varian kopi dari seluruh Indonesia di kedai ini. Aku menanyakan apa yang menjadi favorit di kedai kopi ini. Ia menjawab Arabika Gayo Pantan Musara.

“Tapi maaf untuk Gayo-nya sedang kosong,” ujarnya, meminta pemakluman.

Aku sedikit kecewa. Kutanyakan padanya kopi apa yang tersedia, ia menunjuk ke sebelah kiriku sambil mengatakan, “Mungkin Mas nya bisa langsung lihat di sana, itu kopi yang kami punya.” Segera aku beranjak dan menuju rak yang dipenuhi dengan toples-toples kecil berisikan biji kopi. Di toples itu tertulis jenis-jenis biji kopi yang ada di dalamnya. Aku pun tertarik dengan Arabika Honey Bali Kintamani, sepertinya menyegarakan untuk diseruput di sela-sela hujan yang sudah lama dirindukan.

Tidak begitu pahit dengan tambahan sensasi madu. Sungguh secangkir kopi yang pas. Akhirnya kuputuskan untuk memesan secangkir Arabika Honey Bali Kintamani yang ditubruk.

Sambil menunggu pesanan, aku melihat keluar jendela, melihat ke jalanan, bagaimana orang-orang berjubel untuk berteduh di bawah atau di pelataran toko. Tak kulihat dari mereka yang menghujat atau pun menggerutu. Aku yakin hanya orang-orang yang tak punya kenanganlah yang menghujat hujan. Mereka menikmati setiap tetes air yang turun. Karena memang sudah cukup lama Indonesia mengalami kemarau yang berkepanjangan. Akibatnya, banyak wilayah yang kekeringan dan juga kebakaran hutan di mana-mana.

Pesananku akhirnya datang, secangkir kopi tubruk Honey Bali Kintamani. Sudah lama rasanya tak ngopi di sela-sela hujan seperti ini. Hujan memang selalu membawa suasana menjadi lebih sendu, lebih mendayu-dayu. Saat menyeruput kopi HP-ku bergetar, ada pesan masuk dalam bahasa Jawa dari teman sekelasku:

Kowe nandi, cuk? Aku tas mlebu tapi gak dianggep teko karo dosene. Jinguk!” (Kau di mana? Aku baru saja masuk, tapi tak dianggap hadir sama dosennya. Sialan!)

Aku terbahak. Kopi yang ada di mulut pun hampir muncrat. Aku tersadar betapa beruntungnya hari ini karena telah memilih untuk putar balik dan menuju ke kedai kopi ini untuk sekadar menghabiskan hari. Setidaknya aku tidak sakit hati seperti apa yang dirasakan temanku saat ini, di mana ia ada untuk tak dianggap.

Hari itu benar-benar aku nikmati. Secangkir Bali Kintamani telah menyelamatkan hariku yang membosankan dan menghindarkan aku dari sakit hati. Hujan terus mengguyur, menderas. Bali Kintamaniku pun kusesap habis tak tersisa, tandas, hanya tinggal ampas.*

*Tulisan pernah tayang di Minumkopi.com

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.