‘Bapak, proteslah!’

Suatu hari saya berjalan di tengah kota yang keseluruhan masyarakatnya telah diatur oleh hirarki, setiap orang sudah tahu posisinya dalam lingkungan. Mereka tidak hidup dalam ruang terbuka, matahari dan hembusan angin laut tidak pernah mereka rasakan. Gambaran itu hanya mereka tahu dari cerita-cerita turun-temurun. Mereka hidup dalam kotak yang menjulang tinggi hingga menyentuh awan, di dalamnya hanya ada hembusan angin yang berasal dari mesin pendingin ruangan, mataharinya terbuat dari bohlam besar.

Mereka hidup dengan teratur namun pada kenyataannya hidup merekalah yang diatur. Pemerintah bersekongkol dengan para pemodal dan kaum priyayi membentuk sebuah kontruksi tatanan sosial yang baik untuk mencapai tujuan mereka yaitu suatu sistem produksi industri yang berjalan dengan memberi upah minim namun para pekerjanya tidak tahu cara protes karena mereka selalu merasa bersyukur walaupun kehidupan keluarga mereka selalu kurang atau sekedar cukup untuk makan dan sekolah anak-anak. Tak pernah ada yang mempertanyakan kehidupan di luar kebiasaan mereka. Mereka hanya selalu mengucapkan rasa syukur atas apa yang mereka dapat dari hasil kerja, dugaanku mudah untuk mengetahui alasan ucapan rasa syukur. Pertama di kota ini sangat sulit mendapatkan pekerjaan sehingga mereka rela mendapat bayaran sesuai kesepakatan dengan pemberi kerja walaupun pada kenyataannya pemerintah kota itu telah membuat batasan minimal mengenai bayaran setiap orang yang bekerja dan segala hak yang harus mereka dapatkan.

Kedua, mereka hidup dalam kotak sehingga mereka tidak tahu aturan yang dibuat oleh pemerintah di luar sana, mereka tidak dekat dengan pemerintah. Lalu mereka juga terlalu disibukkan dengan kerjaan sehingga mereka melupakan bahwa sebenarnya pemerintah kota telah mengatur segala hak yang harus mereka dapatkan ketika bekerja. Mereka jarang membaca, mereka lebih disibukkan dengan opera sabun ataupun gosip para pesohor kota. Kesalahan terbesar manusia yang kurang pengetahuannya adalah mereka kurang membaca.

Like what you read? Give Herdianto Mochammad a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.